KOMPAS - Sabtu, 02 Juni 2007
Tidak Ada Alasan Apa Pun TNI Menembak Warganya
Surabaya, Kompas - Sebanyak 13 personel prajurit Marinir, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, Jumat (1/6), ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus penembakan warga di Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Mereka kini ditahan di POM AL Lantamal V Surabaya.
Komandan Polisi Militer (POM) TNI AL Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal) V Surabaya Kolonel (Laut) Polisi Militer Totok Budi Susanto, Jumat di Surabaya, menyatakan, POM AL masih memeriksa beberapa saksi dan mencari data masyarakat yang melihat kejadian secara langsung sehingga belum bisa mengambil kesimpulan.
Penembakan itu terjadi Rabu lalu, mengakibatkan empat orang tewas dan sedikitnya tujuh orang luka-luka. Dua korban luka kini masih dirawat di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang. Dua korban dirawat di RSUD dr Soedarsono, Pasuruan, sedangkan tiga korban menjalani rawat jalan.
Empat korban yang meninggal, yaitu Mistin (25), Utam (40), Khotijah (25), dan Rohman (23), dimakamkan bersamaan, Kamis. Ratusan orang mendatangi pemakaman itu, isak tangis pun mengiringi sepanjang proses pemakaman.
Di sepanjang jalan menuju pemakaman, warga mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang di depan rumah sebagai tanda ikut berdukacita. Tidak tampak ada pihak Marinir yang hadir dalam pemakaman ini.
Setelah pemakaman usai atau sekitar pukul 10.00, warga yang masih emosi memblokade ruas jalan Probolinggo-Pasuruan. Akibatnya, kendaraan terjebak sepanjang 10 kilometer dan baru dibuka setelah pertemuan antara Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) dan 50 warga di Pendopo Kabupaten Sidoarjo pada sekitar pukul 19.00.
Gubernur Jawa Timur Imam Utomo menjenguk keluarga korban penembakan. Imam menyerahkan bantuan uang bagi korban tewas sebesar Rp 5 juta, sedangkan bantuan untuk korban luka Rp 3 juta per orang. Imam meminta rumah sakit membebaskan biaya pengobatan korban penembakan itu.
Bupati Pasuruan Jusbakir memohon petinggi TNI AL memerhatikan kebutuhan warga terhadap tanah yang dijadikan Pusat Pelatihan Tempur (Puslatpur) dengan mengembalikannya kepada warga.
Namun, Panglima Komando Armatim Laksda Moekhlas Sidik keberatan jika Puslatpur dipindahkan karena sudah menjadi kebijakan TNI AL sejak tahun 1960. Pemindahan itu juga akan memakan biaya besar.
Solusi yang akan diberikan TNI AL bagi warga yang kini masih tinggal di kawasan pusat pelatihan adalah merelokasinya ke daerah di sekitar pusat pelatihan. Setiap pemilik rumah akan diberi lahan seluas 500 meter persegi. Selain itu, TNI AL juga akan menyediakan lahan 70 hektar untuk fasilitas umum.
Berdasarkan pendataan yang pernah dilakukan TNI AL, ada 6.302 rumah di area Puslatpur TNI AL. Itu berarti lahan relokasi dan fasilitas umum yang harus disiapkan sekitar 385 hektar. Lahan ini diambil dari lahan TNI AL seluas 3.569 hektar. Setelah warga direlokasi, Puslatpur akan dikembangkan menjadi Pusat Pelatihan dan Pendidikan TNI AL.
Menurut penuturan sejumlah warga, prajurit Marinir sering latihan di halaman rumah warga, bahkan tank milik TNI AL pernah menabrak sebuah rumah dan pos keamanan lingkungan di Desa Alas Tlogo.
Mengenai usulan relokasi itu, perwakilan warga dari 11 desa di Kecamatan Lekok, Grati, dan Nguling akan kembali bertemu dengan Pangarmatim untuk membicarakannya, Senin depan. Ini salah satu butir kesepakatan pertemuan antara perwakilan warga dan Pangarmatim, Kamis.
Selain kesepakatan itu, Pangarmatim menyatakan, penggarapan lahan oleh PT Kebon Grati Agung (KGA), anak perusahaan PT Rajawali I dan berinduk perusahaan PT Rajawali Nusantara Indonesia, di Lekok dan Nguling juga dihentikan tahun ini.
Dipindah
Reaksi atas kasus penembakan itu meluas. Ketua DPR Agung Laksono meminta TNI menjadikan peristiwa di Pasuruan sebagai sebuah pelajaran berharga, mengingat sengketa tanah antara TNI dan warga sipil di Pasuruan bukan merupakan kasus satu-satunya. Agung meminta korps Marinir meminta maaf dan mengakui tindakan itu sebagai suatu kesalahan. "Saya selaku Ketua DPR meminta TNI mengusut kasus itu secara tuntas," ujarnya di Surabaya.
Direktur PT KGA Sri Ranto mengatakan, PT KGA menyewa lahan seluas 2.600 hektar milik TNI AL sejak 1981. Perusahaan itu memiliki sertifikat hak pakai sampai 2018. Pembagian pendapatan antara PT KGA dan Induk Koperasi TNI AL (Inkopal) adalah 80 persen untuk PT Rajawali I dan 20 persen untuk Inkopal.
Warga menduga penembakan itu terkait dengan PT KGA. Namun, Sri Ranto membantah perusahaan itu memanfaatkan prajurit Marinir menjaga kegiatan penggarapan lahan.
Menurut dia, prajurit Marinir saat itu sedang latihan dan kebetulan bertemu petugas yang sedang menggarap lahan PT KGA.
Dari Malang dilaporkan, kasus penembakan itu juga menuai protes dan demonstrasi mahasiswa. Sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Indonesia menggelar demonstrasi di depan bundaran kampus di Jalan Veteran, Kota Malang, Jumat.
Di Jakarta, puluhan anggota masyarakat dan aktivis Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menggelar aksi keprihatinan dan solidaritas terhadap kasus Pasuruan. Kasus itu menambah rentetan pelanggaran hak asasi manusia dan kemanusiaan yang belum tuntas, seperti tragedi 1965/1966, Tanjungpriok, Talangsari, dan Semanggi 1998.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi menyatakan, apa pun alasannya, tindakan anggota TNI menembak rakyatnya sendiri tidak dapat dibenarkan.
Hasyim Muzadi menyatakan, TNI AL harus menyantuni keluarga korban dan para anak yatim yang ditinggalkan, tidak sekadar menanggung biaya pengobatan dan pemakaman. Tragedi ini mencoreng citra TNI sendiri.
Ketua DPP Hizbuth Tahrir Indonesia M Al Khaththath mengatakan, penembakan terhadap warga sipil ini bukti masih kuatnya budaya arogansi penguasa.
Ketua Tim Kerja Pertanahan Komisi II DPR M Nasir Djamil (Fraksi Partai Keadilan Sejahtera, Nanggroe Aceh Darussalam I), Kamis, meminta pimpinan DPR segera membentuk tim gabungan Komisi I, II, dan III untuk menyelidiki kasus itu. Kasus tanah seperti di Pasuruan ibarat api dalam sekam. Dari data yang diperoleh Tim Kerja Pertanahan, sebagian besar kasus tanah di Indonesia melibatkan institusi tentara atau polisi.
Menurut Nasir, Panglima TNI harus memecat dengan tidak hormat tentara yang terbukti menembak warga.
Di tempat terpisah, Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum pun mendesak pimpinan TNI menyelidiki secara tuntas dan transparan insiden Alas Tlogo, Pasuruan. Harus ditemukan siapa yang bersalah dan mesti ada sanksi tegas serta adil terhadap mereka yang jelas-jelas bersalah.
Kecaman juga datang dari Ketua Fraksi Partai Amanat Nasional DPR Zulkifli Hasan. Persoalan pembebasan tanah bukanlah wewenang aparat TNI untuk menyelesaikannya. Mengingat kasus sengketa lahan antara warga sipil dan TNI juga terjadi di berbagai tempat, hendaknya sengketa itu diselesaikan sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku.
Ketua Umum Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) KH Abdurrahman Wahid di Jakarta, Jumat, menyatakan, PKB akan menggugat TNI AL dan PT Rajawali Nusantara terkait tewasnya empat warga Alas Tlogo. Tim hukum PKB yang diketuai Mahfudz MD mulai mengumpulkan data dan fakta lapangan untuk dijadikan bahan gugatan. (APA/NIK/INA/ODY/ DIK/MZW/JON/CHE/NIT)
Saturday, June 02, 2007
13 Prajurit Marinir Jadi Tersangka
Posted by RaharjoSugengUtomo at 9:02 AM 0 comments
Labels: HeadlineNews: Kompas
Waisak; Presiden: Keteguhan Sang Buddha Harus Diteladani
KOMPAS - Sabtu, 02 Juni 2007
Magelang, Kompas - Tekad dan keteguhan Sang Buddha Sidharta Gautama dalam mencapai pencerahan dan pembebasan kehidupan manusia dapat menjadi teladan bagi siapa pun, tidak hanya bagi umat Buddha. Tindakan ini diharapkan menjadi sumber motivasi bagi umat manusia dan bangsa Indonesia pada umumnya untuk mengatasi berbagai krisis.
"Namun, dengan mengacu pada perjalanan Sang Buddha, perjuangan mengatasi krisis guna mencapai tujuan mulia tidak mudah dilakukan," ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada acara Perayaan Tri Suci Waisak 2551 BE/2007 di pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Jumat (1/6).
Mengingat hal itu, Presiden mengajak seluruh masyarakat, termasuk umat Buddha, untuk terus berjuang dengan penuh kesabaran dan keteguhan.
Perayaan Tri Suci Waisak kali ini mengangkat tema "Dengan Semangat Pengamalan Dharma Sang Buddha Mari Kita Tingkatkan Toleransi Beragama untuk Perdamaian Dunia". Dalam acara ini sekaligus diluncurkan buku Guide Book of Trail Civilization yang ditandatangani oleh menteri pariwisata dari enam negara di Asia Tenggara.
Sedangkan subtema yang diusung kali ini adalah Selamatkan Bumi Ini dari Kerusakan dengan Meningkatkan Penghayatan Dharma Sang Buddha demi Pelestarian Lingkungan Hidup. Presiden menyatakan sangat mendukung subtema ini karena isu lingkungan memang menjadi persoalan penting yang melanda seluruh dunia.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Siti Hartati Murdaya mengatakan, perayaan Tri Suci Waisak 2551 BE/2007 ini diharapkan dapat menjadi momentum yang memberikan penguatan pada keyakinan diri setiap umat terhadap Buddha Dharma dan Sangha.
Gubernur Jawa Tengah Mardiyanto menyatakan, keikhlasan Sang Buddha Sidharta Gautama untuk meninggalkan kemewahan demi mendampingi masyarakat yang masih terbelenggu kemiskinan sangat relevan untuk diterapkan dalam kondisi sekarang.
Koordinator Dewan Sangha DPP Walubi Bhiksu Dhyanavira Mahasthvira mengatakan, sesuai dengan subtema kali ini, segenap umat diminta terus berusaha menjaga keseimbangan hidup, termasuk dengan lingkungan di sekitarnya. "Jika tidak, bencana alam pun akan terus timbul tak berkesudahan menimpa kita," ungkapnya.
Di luar Pulau Jawa
Ribuan pemeluk agama Buddha dari sejumlah wilayah di Indonesia untuk pertama kalinya menggelar perayaan Waisak secara nasional di kawasan Percandian Muara Jambi, Jumat. Perayaan ini diharapkan menjadi titik awal untuk menghidupkan perayaan Waisak di salah satu pusat pengajaran agama Buddha di Indonesia di luar Pulau Jawa.
Sekitar 3.000 pemeluk agama Buddha dari Jakarta, Jawa Barat, dan beberapa wilayah di Sumatera memulai perayaan Waisak dengan melaksanakan paradhasina atau mengelilingi candi dan menggelar puja bakti di bawah pimpinan Bhiku Suryanadi Mahapera yang dipusatkan di sekitar Candi Gumpung. Perayaan Waisak Nasional 2551 BE yang digelar Majelis Buddhayana Indonesia (MBI) mengambil tema "Damai Waisak Menyadarkan Kita Akan Saling Ketergantungan".
Dalam ibadah perayaan Waisak ini, umat Buddha menggelar doa bersama untuk keselamatan bangsa dan negara agar tak ada lagi bencana yang membawa penderitaan. Umat Buddha berharap bangsa ini senantiasa damai dan tenteram sehingga bisa bangkit dan maju bersama sebagai suatu bangsa yang besar dan jaya.
Hadir dalam perayaan puncak Waisak di Candi Muara Jambi di antaranya Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin, serta para tokoh lintas agama yang tergabung dalam Indonesian Conference on Religion and Peace.
Jimly mengatakan, keberagaman yang ada di masyarakat seharusnya menjadi penyatu untuk menciptakan keharmonisan hidup berbangsa, bukan menjadi pemicu konflik.
Budiman, Sekretaris Umum Pengurus Pusat MBI, mengatakan, perayaan Waisak secara nasional di Candi Muara Jambi ini jangan dianggap tandingan perayaan serupa di Candi Borobudur setiap tahunnya. Perayaan ini memberikan alternatif kepada umat Buddha untuk merayakan Waisak bersama-sama.
(EGI/ELN/ITA)
Posted by RaharjoSugengUtomo at 9:00 AM 0 comments
Labels: HeadlineNews: Kompas
Insiden PasuruanPanglima TNI Jamin Proses Hukum Terbuka
KOMPAS - Sabtu, 02 Juni 2007
Jakarta, Kompas - Panglima Tentara Nasional Indonesia Marsekal Djoko Suyanto mengaku sangat terkejut dengan insiden penembakan oleh prajurit Marinir, TNI Angkatan Laut, di Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang menewaskan empat orang dan melukai tujuh orang.
Namun, Djoko mengaku tetap berkomitmen menuntaskan kasus itu lewat jalur hukum secara transparan dan terbuka. Ia juga sekaligus mempersilakan jika ada elemen masyarakat ingin ikut mengawasi prosesnya, sepanjang hal itu dilakukan secara berimbang dan tidak mengganggu penyelidikan yang berjalan.
Hal itu disampaikan Djoko kepada Kompas, Kamis (31/5), saat ditemui di Kantor Pusat Penerangan (Puspen) Markas Besar TNI Cilangkap. Hari Kamis itu, Djoko Suyanto tampak begitu sibuk melayani pertanyaan pers seputar insiden penembakan di Pasuruan. Sejumlah media televisi dan media cetak bergiliran mewawancarai orang nomor satu di Mabes TNI tersebut. Ia beberapa kali menyatakan keterkejutannya dan penyesalannya atas insiden tersebut.
Djoko menjamin proses peradilan militer terhadap prajurit yang diduga bersalah akan berlangsung secara terbuka. "Selama ini proses peradilan militer juga terbuka. Kami tidak mau main-main, pantauan terhadap TNI selama ini sangat besar. Kalau sampai proses peradilannya tidak serius, hal itu justru hanya akan memukul balik kami sendiri," ujar Djoko.
Djoko menegaskan, dirinya bertanggung jawab atas peristiwa itu sebagai seorang Panglima TNI. Ia juga menyampaikan rasa penyesalan dan belasungkawa mendalam serta permohonan maaf kepada para keluarga korban dan korban.
"Sudah barang tentu dalam proses hukum nanti akan dilihat seberapa jauh nilai tanggung jawab mereka yang terlibat. Tidak bisa sekarang, misalnya menentukan KSAL dilepas (dicopot). Yang jelas, 11 prajurit yang terlibat dan Komandan Pusat Latihan Tempurnya sudah ditahan," ujar Djoko menjawab langkah awal yang telah diambil TNI.
Djoko memastikan tidak akan ada upaya menutup-nutupi proses peradilan militer yang akan digelar terkait kasus ini. Bahkan, menurut dia, tidak ada satu pun proses hukum dalam peradilan militer yang selama ini dinyatakan tertutup, kecuali jika hal itu terkait isu rahasia negara dan susila.
Terkait penembakan yang memakan korban jiwa, Djoko mengaku tidak ingin berpolemik. Ia yakin tidak ada tembakan langsung ke arah massa dalam peristiwa itu. Menurut dia, peluru yang memantul sama berbahayanya dengan peluru yang ditembakkan langsung ke sasaran.
"Kalau tembakan langsung, jumlah korbannya pasti jauh lebih banyak. Bayangkan, ada kerumunan 60 orang diberondong, apa mungkin yang meninggal hanya empat orang yang posisinya ada di dapur (di dalam rumah)? Saya bukan ingin membela diri, tetapi mari kita tunggu hasil penyelidikan," ujar Djoko.
(DWA/BDM)
Posted by RaharjoSugengUtomo at 8:59 AM 0 comments
Labels: HeadlineNews: Kompas
Kehidupan: Ketika Tukang Foto Keliling Tersisih
KOMPAS - Sabtu, 02 Juni 2007
Yenti Aprianti
Sebuah kamera film menggantung di dada Toyib (65). Kamera itu sudah tua. Beberapa bagian sudah berkarat. Namun, Toyib sangat sayang pada kameranya. Di bawah terik matahari, seperti seorang bayi, Toyib menyelimuti kameranya dengan selembar sapu tangan motif kotak-kotak.
Janggut putih Toyib yang lebat tertiup angin lembut, saat ia bergegas menghampiri para pekerja pabrik yang tengah menikmati liburan di Alun-alun Kota Bandung, tempat lelaki tua itu menawarkan jasa. "Foto langsung jadi. Cuma Rp 20.000 selembar. Tinggal tunggu 15 menit," katanya, mencoba menarik simpati wisatawan lokal yang ingin bertemu teman sekampung.
Tawaran Toyib rupanya menarik para wisatawan. Mereka mencari latar belakang yang diinginkan, sebuah air mancur. Semua tersenyum sambil menatap kamera di genggaman Toyib.
Toyib pun segera pergi ke deretan toko di sekitar alun-alun, mendatangi temannya yang juga pemilik usaha cuci cetak foto. Toyib meminta agar film negatifnya segera dipotong karena pengguna jasanya tengah menunggu hasil cetakan. Dalam 15 menit, Toyib sudah datang dengan cetakan fotonya dan mendapatkan Rp 20.000.
"Kalau mau, mereka juga bisa dapat dengan harga lebih rendah, tapi harus menunggu satu atau dua hari untuk mengambil hasil cetaknya," kata Toyib. Dengan jeda waktu cukup lama, Toyib mencuci cetak foto sekaligus untuk beberapa pesanan sehingga harganya bisa lebih murah.
Lalu Toyib berjalan-jalan lagi mencari "mangsa". "Foto, neng? Digital atau pake film bisa," katanya. Saat diminta memperlihatkan kamera digitalnya, Toyib mengaku tak punya.
"Ya, saya sih camat alias calo matuh (terus-menerus)," ujar Toyib. Karena tak punya kamera digital, Toyib hanya mampu menjadi calo bagi rekan-rekan pemotret yang memiliki kamera digital. "Kalau ada yang mau memotret dengan kamera digital, saya panggilkan pemotret lain yang punya kamera digital," kata Toyib. Ongkos dipotret dengan kamera digital selembar Rp 10.000. Harganya lebih murah dari ongkos foto dengan kamera film. "Soalnya ongkos cuci filmnya saja sekarang sudah Rp 6.000. Belum mencetaknya. Sementara ongkos cetak dengan kamera digital cuma Rp 1.000," kata Toyib.
"Zaman sekarang, lumrah kalau orang punya kamera. Makin jarang yang mau dipotret. Teman saya yang punya kamera digital pun belum tentu dapat order dari pagi hingga sore. Jadi, ongkos nyalo pun sukarela saja, disesuaikan kondisi keuangan," ujar Toyib.
Toyib sudah bekerja sebagai pemotret keliling di Alun-alun Kota Bandung sejak tahun 1973. Ia mempelajari fotografi dari pamannya yang bekerja sebagai pemotret keliling. "Kalau dulu dari motret bisa dapat uang banyak karena foto masih jadi barang istimewa. Kini kamera harganya makin murah, orang sudah pada bisa motret sendiri," kata Toyib.
Seperti juga Toyib, Tata (43), juga pemotret yang masih bertahan dengan kamera filmnya. Lelaki bertubuh kurus tersebut mengaku tak mampu membeli kamera digital yang harga barang bekasnya saja masih mencapai ratusan ribu. Lembar ratusan ribu makin sulit dicari oleh orang berprofesi seperti dirinya. Siang itu, meski sudah nongkrong dari pukul 08.00 di Alun-alun Kota Bandung, ia belum dapat order.
Alun-alun Kota Bandung sudah berubah lebih modern. Pohon-pohon di atas atap ruang parkirnya tidak ditanam di atas sebidang tanah, tapi hanya pada setabung tanah dalam pipa-pipa besar. Begitu pun para pengunjungnya. Banyak di antara mereka mengabadikan diri dengan latar belakang kubah masjid yang besar, menara yang tinggi, atau air mancur yang indah.
Tata kerap merasa tersisih melihat para pengunjung alun-alun yang datang membawa kamera-kamera kecil. Sambil duduk-duduk mereka saling berfoto. Lalu tertawa melihat gambar diri mereka di monitor kamera.
Ketika di alun-alun sangat sepi order, Tata mendatangi berbagai gedung pertemuan dan perguruan tinggi. "Siapa tahu ada seminar atau diskusi. Biasanya orang-orang di acara tersebut masih senang membeli foto diri mereka," kata Tata yang menjual selembar foto Rp 10.000.
Kian sepinya order foto membuat Tata tak ingin mewariskan keterampilan memotret kepada anak-anaknya. Ia lebih senang anaknya bekerja jadi buruh.
Berbeda dengan Tata dan Toyib, Suritna (45) berusaha keras menyisihkan penghasilannya dari memotret yang berkisar Rp 20.000 hingga Rp 50.000 selama hampir setahun untuk membeli kamera digital bekas seharga Rp 600.000. "Pengunjung Alun-alun ternyata lebih senang difoto dengan kamera digital," kata Suritna yang menjadi pemotret di Alun-alun Kota Bandung sejak tahun 1975.
Dodo, seorang pengunjung yang menggunakan jasa pemotret keliling dengan kamera digital, senang karena hasilnya bisa dilihat. "Kalau tidak suka bisa minta hasilnya dihapus dan saya difoto lagi," kata Dodo.
Posted by RaharjoSugengUtomo at 8:58 AM 0 comments
Labels: HeadlineNews: Kompas
Data Emisi Mulai Diidentifikasi
KOMPAS - Sabtu, 02 Juni 2007
Perubahan Iklim di Indonesia Sedang Terjadi
Jakarta, Kompas - Pemerintah berencana melakukan pendataan terbaru tentang perkiraan emisi gas rumah kaca yang memengaruhi perubahan iklim. Data diperlukan untuk pemaparan dalam Pertemuan Para Pihak Ke-13 Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim yang akan berlangsung di Bali, 3-14 Desember 2007.
"Bulan Juni akan kami mulai dan target selesai November mendatang," kata Asisten Deputi III Urusan Pengendalian Kerusakan Perubahan Iklim Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) Sulistyowati dalam Seminar Nasional "Kualitas Udara dan Dampaknya Terhadap Perubahan Iklim" pada Pekan Lingkungan Indonesia 2007 di Jakarta, Kamis (31/5).
Pada program tersebut, selain KLH, juga dilibatkan Departemen Pertanian, Departemen Kehutanan, Departemen Perhubungan, serta Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Beberapa indikator yang akan didata di antaranya paparan CO2, NH4, NO, dan N. Data tahun 1994, yang merupakan data resmi terakhir yang dimiliki pemerintah, menunjukkan, total emisi CO2 mencapai 748.607 gigaton (Gt), emisi CH4 mencapai 6.409 Gt, dan emisi N2 belum dihitung.
Total emisi unsur-unsur utama pembentuk GRK diperkirakan meningkat dibandingkan tahun 1994. Selain saat itu hanya sektor kehutanan dan energi yang dihitung, kondisi lingkungan juga terus terdegradasi setiap tahun.
Sedang berubah
Dari data-data iklim, perubahan iklim sedang terjadi di Indonesia. Kantor Meteorologi di Inggris mencatat, peningkatan suhu Indonesia mencapai 0,54 derajat Celsius antara tahun 1950 hingga 2000.
Fenomena iklim global menyebabkan suhu terpanas di Jakarta pada Februari 2007 mencapai 37 derajat Celsius. Sementara normalnya 30 derajat Celsius hingga 33 derajat Celsius.
Paparan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) dalam seminar nasional menunjukkan kecenderungan peningkatan suhu rata-rata di 10 kota besar di Indonesia. Hal itu diungkapkan Nurhayati, staf BMG.
Ke-10 kota itu adalah Pekanbaru, Padang, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Denpasar, Manado, Makassar, dan Ambon.
Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan bahwa kemajuan ekonomi bukan alasan untuk merusak lingkungan. Kemajuan ekonomi justru harus menjadi satu syarat untuk menjaga dan memelihara lingkungan hidup.
Sulit bagi manusia menjaga dan memelihara lingkungan, tanpa ada kemajuan ekonomi yang baik dan berkelanjutan. Demikian disampaikan Kalla saat upacara pembukaan Pekan Lingkungan Indonesia 2007 di Taman Wisata Mekarsari, Cileungsi, Jawa Barat, Kamis sore.
Biaya perbaikan lingkungan yang rusak karena banjir dan longsor, misalnya, Wapres menyatakan, bisa 10 dollar AS per meter persegi. Padahal, manusia hanya mendapat keuntungan 5 dollar AS dari menebang hutan.
(GSA/HAR)
Posted by RaharjoSugengUtomo at 8:57 AM 0 comments
Labels: HeadlineNews: Kompas
Tim Insersi Bola Beton Siapkan Jaring Laba-laba
KOMPAS - Sabtu, 02 Juni 2007
Bandung, Kompas - Tim insersi bola beton kini menyiapkan teknologi jaring laba-laba. Metode ini untuk membuka kemungkinan adanya penutupan sendiri pusat semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo.
Sebelumnya sudah dilakukan insersi 398 bola beton dari 1.000 bola beton yang direncanakan. Namun, kegiatan itu akhirnya terhenti dan belum jelas bagaimana kelanjutannya.
"Pada dasarnya kami siap dengan teknologi yang kami tawarkan tersebut. Namun, hingga kini belum diketahui secara pasti kelanjutan pengurangan debit lumpur," kata Bagus Endar Nurhandoko, Ketua Tim Insersi Bola Beton, Jumat (1/6) di Bandung.
Menurut Bagus, berdasarkan pantauan secara bertahap, masuknya bola beton terbukti sangat aman. Hal itu antara lain bisa dilihat dari jumlah gelembung. Untuk membuatnya benar-benar aman, lanjutnya, teknologi jaring laba-laba akan digunakan untuk menahan lumpur.
Bagus menolak apabila dikatakan jaring laba-laba sebagai proyek coba-coba. Menurut dia, jaring laba-laba adalah pengembangan atau modifikasi dari teknik yang ada.
"Berdasarkan pemikiran kami, dipadukan dengan kondisi di lapangan, dengan menggunakan jaring laba-laba bola beton akan semakin kuat," ujar Bagus.
Jaring laba-laba tersebut, lanjut Bagus, akan digunakan untuk menahan lumpur. Di sisi lain, bola beton yang telah dipasang akan menempel dan tertahan di dalam jaring.
"Keadaan ini akan mendorong mekanisme pengurangan energi dan debit secara signifikan serta terkonsentrasi di zona tertentu," katanya.
Air meningkat
Berdasarkan data pantauan, ternyata kadar air lumpur meningkat setelah dilakukan insersi 398 untaian bola beton.
Target insersi seluruhnya, sebagaimana yang tertulis dalam kontrak awal, adalah 1.000 bola beton. Insersi rencananya akan dilakukan dalam waktu 2,5 bulan. Gagasan berawal bulan Februari dan pemasukan bola beton dihentikan pada Maret 2007. Tujuan insersi bola beton adalah untuk mengurangi debit keluarnya lumpur.
Bertambahnya air lumpur mengindikasikan mekanisme penyaringan sudah mulai bekerja, yaitu memerangkap material padat dan mengalirkan material halus, gas, dan air.
Didasarkan pada data laju pengendapan, air yang tersisa sangat sedikit, diperkirakan hanya 10 persen.
Ini berarti viskositas (tingkat kekentalan) cairan lumpur meningkat sehingga lumpur akan berubah menjadi padat. Fenomena ini, menurut Bagus, terlihat jelas di permukaan.
Tidak jelas
Ditanya tentang insersi bola beton yang saat ini terhenti, Bagus menyatakan tidak tahu mengapa hal itu terjadi.
"Kami tidak tahu pasti mengapa dihentikan. Bahkan, sebelumnya sudah tersedia 500 bola beton dan kami siap meneruskan meski terbentur dana, tetapi kemudian tidak jadi dimasukkan karena Lapindo tidak bisa menyediakan crane yang kami perlukan," ujar Bagus Endar Nurhandoko.
Semburan lumpur panas kini terus berlangsung. Dikhawatirkan, tanggul tidak kuat menahan beban lumpur sehingga memicu terjadinya amblesan.
Mengenai insersi 1.000 bola beton yang dihentikan di tengah jalan, belum ada tanda-tanda apakah metode tersebut akan dilanjutkan. (CHE)
Posted by RaharjoSugengUtomo at 8:55 AM 0 comments
Labels: HeadlineNews: Kompas
Thursday, May 31, 2007
Airbus BELUGA
Pesawat ini sejatinya pesawat angkut, sehingga disebut A300-600ST. Artinya, dasarnya memang dari Airbus A300-600 yang dikembangkan dan difungsikan sebagai Super Transporter. BELUGA biasa berkeliling antar pabrik Airbus yang tersebar di berbagai negara Eropa Barat.
Pengembagannya dimulai Agustus 1991. Terbang perdana 13 September 1994 dan 'entry into service' bersama Airbus pada bulan Januari 1996.
Mesin yang dipakai adalah : "two 262.4kN (59,000lb) class General Electric CF6-80C2A8 turbofans".
Inilah aksi si BELUGA
Posted by RaharjoSugengUtomo at 10:04 PM 0 comments
Labels: Dunia Aviasi
