Thursday, May 31, 2007

RENUNGAN WAISAK 2551/2007: Hidup Itu Saling Bergantungan

KOMPAS - Kamis, 31 Mei 2007

Mahathera Nyanasuryanadi

Sejumlah negara telah merayakan Waisak pada hari purnama 2 Mei lalu. World Fellowship of Buddhists menetapkan bahwa Hari Buddha jatuh saat bulan purnama pada bulan Mei. Apabila ada dua purnama, yang dipilih adalah yang pertama.
Namun, negara-negara yang memerhatikan kalender Imlek merayakan Waisak tanggal 31 Mei agar bertepatan dengan bulan 4 (si-gwee) penanggalan Tionghoa. Untuk menyesuaikan perhitungan berdasar peredaran Bulan dengan peredaran Matahari, kalender Imlek memiliki bulan sisipan (lun). Beberapa negara lain, berdasar tradisi Mahayana, merayakan hari kelahiran Pangeran Siddharta yang kemudian menjadi Buddha pada 8 si-gwee, tepatnya 24 Mei 2007. Di Indonesia, Waisak baru dirayakan 1 Juni 2007 sesuai perhitungan astronomi.
Tiga peristiwa
Ada tiga peristiwa yang sekaligus diperingati pada hari Waisak, yaitu saat kelahiran, pencapaian penerangan sempurna, dan Parinirwana atau meninggalnya Buddha Gotama.
Peringatan itu terutama untuk mengenang kehadiran Buddha serta menangkap makna dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia sekarang. Yang diperingati adalah peristiwa, bukan waktu. Bagaimanapun satu momen waktu ada dalam keseluruhan waktu, sedangkan setiap satu detik mengandung waktu lampau, kini, dan yang akan datang. Melalui waktu lampau, orang dapat melihat waktu sekarang dan yang akan datang. Pada waktu sekarang, orang dapat melihat waktu lampau dan yang akan datang. Melalui waktu yang akan datang, orang dapat melihat waktu lampau dan sekarang.
Detik Waisak, saat purnama sidi, tepatnya jatuh pukul 08.03.27 menjadi sebuah kesempatan untuk memasuki keheningan yang penuh kedamaian. Dalam keheningan kita memusatkan perhatian, yang seperti dikemukakan Anthony de Mello, membuat kita dapat menyadari kehadiran Tuhan, menyertai hirupan dan embusan napas. Kita belajar mendengarkan irama dari napas dan denyut kehidupan sosok tubuh kita. Kita mendengar irama dari desir angin, gesekan dedaunan, kicau burung, simfoni bisikan alam yang menakjubkan. Satu suara memengaruhi semua suara, semua suara memengaruhi satu suara. Setiap eksistensi saling memengaruhi.
Kita menemukan bahwa segala sesuatu di dalam dan di luar diri kita tidak berdiri sendiri. Segalanya saling berhubungan dan saling bergantungan. Semua mengambil bagian dalam hidup yang sama. Matahari, Bintang, Bumi, lautan, pohon, burung, ikan, dan manusia mempunyai asal ontologis yang sama. Tidak ada fenomena di alam semesta ini yang tidak memengaruhi hidup manusia, dari setetes air di dasar samudra sampai gerakan galaksi yang ada jutaan tahun cahaya jauhnya.
Mengatasi penderitaan
Setiap orang tahu, jika jantung berhenti berdetak, maut menjemput. Namun, sejauh mana manusia memerhatikan hal-hal di luar tubuhnya yang juga menentukan kelangsungan hidupnya? Bila ozon yang melapisi Bumi lenyap, manusia akan mati. Setiap orang tahu, jika paru-parunya rusak, ia akan sekarat. Seharusnya ia juga menyadari bahwa hutan adalah paru-paru yang ada di luar tubuh manusia. Tanpa tumbuh-tumbuhan, bagaimana manusia dapat hidup? Jadi, kita tidak boleh membiarkan jutaan hektar hutan dibabat, atau mencemari udara, sungai, dan sebagainya.
Manusia tidak dapat hidup sendiri. Selalu ada interaksi dan interdependensi. Maka, kita seharusnya saling melindungi. Bagaimana manusia dapat hidup bahagia di atas penderitaan orang lain? Kita tentu amat peduli dengan mereka yang kelaparan dan yang ketakutan, yang tak berdaya menghadapi tekanan. Waisak mengingatkan kita bahwa mengatasi penderitaan adalah tema sentral ajaran Buddha.
Segala hal yang kita pikirkan, setiap kata yang kita ucapkan, setiap tindakan yang kita lakukan menciptakan sebuah riak dalam hubungan yang saling bergantungan. Tak ada kontak, tak ada persepsi, tak ada keterlibatan yang tidak penting. Setiap hubungan memberi kita kesempatan untuk belajar bagaimana mengesampingkan keakuan, memberi dan menerima dengan cinta dan hati yang terbuka. Buddha mengatakan, segala sesuatu didahului dan dibentuk oleh pikiran. Hidup kita kini adalah cermin pikiran-pikiran pada masa lalu. Pikiran kita kini menciptakan kehidupan masa depan. Para ahli fisika kuantum mencoba untuk menjelaskan bahwa seluruh semesta muncul dari pikiran!
Rhonda Byrne mengungkapkan rahasia dari banyak orang yang sukses: saat ia memikirkan suatu pikiran, ia juga menarik pikiran-pikiran serupa ke dirinya. Pikiran bersifat magnetis dan memiliki frekuensi. Ketika kita berpikir, pikiran-pikiran itu dikirim ke Semesta dan secara magnetis pikiran akan menarik semua hal serupa yang berada di frekuensi yang sama. Segala sesuatu yang dikirim ke luar akan kembali ke sumbernya: si pemikir. Dia menyebutnya mukjizat berpikir positif. Jika kita merasa benci atau iri, itu menjadi jalan kita dan dunia akan merespons sesuai dengan itu sehingga kita sendiri menderita. Jika kita memiliki kesadaran, belas kasih, dan kebijaksanaan, itu menjadi jalan kita dan dunia akan merespons sesuai dengan itu sehingga membawa kebahagiaan bagi kita. Hukum tarik-menarik ini, yang dipandang sama pentingnya dengan hukum gravitasi, menunjukkan sebuah bentuk interdependensi atau kesalingbergantungan.
Apa saja yang ada di jagat raya ini dimungkinkan hadir karena terkondisikan dengan adanya kehadiran yang lain. Ketika ini hadir, itu terjadi; karena munculnya ini, maka muncullah itu. Sebaliknya, ketika ini tidak ada, itu tidak ada; dengan berhentinya ini, maka berhentilah itu. Kesalingbergantungan atau hubungan yang terkondisi sebagai sebab-akibat ini merupakan esensi ajaran Buddha. Karena itu dikatakan, barang siapa melihat sebab-musabab yang saling bergantungan, ia melihat Dharma.
Ada banyak sebab yang saling terkait. Tidak hanya dalam peristiwa alam, seperti letusan gunung berapi, gempa, tsunami, banjir, longsor, kebakaran hutan, hukum tersebut juga bekerja dalam bidang ekonomi, sosial, politik, budaya, mental dan psikologi, dan lain-lain. Hukum sebab-musabab yang saling bergantungan menjelaskan kenapa dan bagaimana makhluk-makhluk terlahir di dunia. Mengapa ada yang terlahir sehat, ada yang cacat, ada yang cantik ada yang jelek. Karma tak lain dari perbuatan dalam konteks sebab akibat, yang sering diilustrasikan sebagai menabur dan menanam benih. Setiap orang akan memetik buah yang sesuai benih yang ia tanam. Ada karma individual, ada karma kolektif.
Konsep kesatuan
Kesalingbergantungan tidak dapat dipisahkan dari konsep kesatuan. Satu dalam semua, semua dalam satu. Kesatuan tidak dapat eksis tanpa perbedaan. Dapat dikatakan, kesatuan adalah perbedaan, dan perbedaan adalah kesatuan. Manusia hidup bersama pun dalam perbedaan, dan perbedaan itu sudah menjadi kebutuhan. Perbedaan menjadi suatu yang saling melengkapi, saling mendukung. Pemahaman akan kesatuan dan perbedaan semakin perlu ketika sebuah komunitas tidak lagi dapat menutup diri menghadapi globalisasi yang membuat dunia kehilangan batas-batas budaya, rasial, bahasa, dan geografis.
Pluralisme menjadi sebuah keniscayaan. Dalam kehidupan spiritual berarti kita tidak dapat memaksakan kebenaran kita sendiri kepada orang lain. Berdasar cara pandang ini seharusnya kita mengembangkan inklusivisme dan universalisme agar dapat menghadirkan kedamaian. Adapun sikap sektarian hanya akan menimbulkan disharmoni. Tidak pelak lagi, inilah yang ingin dikemukakan Empu Tantular dalam pernyataan bhinneka tunggal ika, tan hana dharmma mangrwa, berbeda-beda namun satu, tiada kebenaran bermuka dua.
Saat berhadapan dengan misteri alam semesta, kita bertanya dari mana semua itu berasal? Apa arti semua itu? Planet, bintang, musim, makhluk, mereka semua muncul dan menghilang. Setiap akhir menjadi awal dari permulaan yang baru. Setiap kematian memberi kelahiran dari bentuk baru kehidupan. Jika kita mau melihat secara mendalam, dapat dikatakan hidup dan mati adalah dua realitas yang sama. Tumbuh-tumbuhan lahir, hidup untuk beberapa saat, lalu kembali ke bumi. Daun-daun dan bunga yang segar akan menjadi layu dan busuk. Setelah mereka terurai, menjadi pupuk yang menyuburkan taman kita. Pupuk dan daun atau bunga saling membutuhkan. Beberapa waktu kemudian, dari unsur yang membusuk itu muncul kembali tumbuh-tumbuhan dengan daun dan bunga segar. Tumbuh-tumbuhan dan tanah saling bergantung. Begitu pula dengan sinar matahari, awan, hujan, dan segala yang ada di alam semesta ini.
Dengan cara pandang ini, Biksu Thich Nhat Hanh mengajak kita semua melihat kepada diri sendiri. Kita akan menemukan baik bunga maupun pupuknya. Semua orang mempunyai kemarahan, kebencian, kekhawatiran, berbagai bentuk tekanan, dan banyak sampah busuk lainnya. Seperti tukang kebun yang tahu bagaimana mengubah bagian dari tumbuh-tumbuhan yang membusuk menjadi pupuk, dan mengubah pupuk menjadi bunga, kita dapat belajar seni mengubah sampah dalam diri menjadi sesuatu yang indah. Apa itu yang indah? Cinta, pengertian, kebijaksanaan, dan kedamaian yang membuat hidup kita bahagia. Dengan mengubah diri, kita dapat membawa perubahan pada dunia luar.
Ketika tidak lagi bisa mengendalikan atau menghentikan sebuah situasi yang sulit, kita dapat belajar untuk menemukan sebuah keseimbangan.
Selamat Hari Waisak 2551.

Mahathera Nyanasuryanadi
Ketua Umum Sangha Agung Indonesia; Pembina Majelis Buddhayana Indonesia

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Insiden Sydney: Sutiyoso: Australia Harus Meminta Maaf

KOMPAS - Kamis, 31 Mei 2007

Jakarta, Kompas - Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menuntut pemerintah Australia memberi klarifikasi dan meminta maaf, atas pelecehan yang dilakukan polisi federal negara itu terhadap dirinya.
Sikap polisi yang menerobos masuk ke dalam kamar hotel tempatnya menginap dan memaksa Sutiyoso menandatangani surat panggilan, dinilai tidak senonoh. Apalagi gubernur berada di negara itu sebagai pejabat negara atas undangan resmi.
Tuntutan Sutiyoso itu diungkapkan di Balai Kota DKI Jakarta, sekitar dua jam setelah dia mendarat di Jakarta, Rabu (30/5).
Sutiyoso, Selasa (29/5) sore, didatangi polisi New South Wales di kamar hotelnya, yang kemudian menyampaikan permintaan agar mantan perwira tinggi TNI itu menghadiri sidang terkait dengan kasus terbunuhnya lima wartawan asing di Balibo, Timor Timur, 1975 (Kompas, 30/5).
Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menyatakan Departemen Luar Negeri (Deplu) harus mengeluarkan nota diplomatik terkait dengan insiden diplomasi yang menimpa Sutiyoso.
"Itu urusan Departemen Luar Negeri. Deplu harus, dan saya kira telah memrotes Australia," ujar Jusuf Kalla, saat ditanya seusai meresmikan layanan perpustakaan nasional dan Perpustakaan Elektronik Keliling (Pusteling) di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu.
Panggil Dubes Australia
Menindaklanjut insiden yang dialami Sutiyoso, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, kemarin langsung memanggil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Bill Farmer. Sehari sebelunya Menlu sudah mengontak Farmer atas insiden yang mempermalukan Gubernur DKI itu. Menlu juga bertemu dengan Sutiyoso.
Juru bicara Deplu, Kristiarto Legowo, mengatakan, Menlu telah menyampaikan protes atas insiden yang menimpa Sutiyoso, meminta klarifikasi, dan pertanggungjawaban atas insiden itu.
"Pemerintah Indonesia menganggap, tindakan yang dilakukan kepolisian Australia itu sebagai sesuatu yang tidak pantas, mengingat Sutiyoso adalah seorang pejabat tinggi negara yang berkunjung ke Australia atas undangan pemerintah di sana," katanya.
Kepada wartawan, Menlu Hassan menyatakan dirinya akan menelpon Menlu Australia, Alexander Downer, Rabu malam untuk membahas masalah ini.
Kristiarto menambahkan, secara tertulis Kedutaan Besar RI di Canberra juga menyampaikan nota diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Australia
Bill Farmer baik kepada Menlu maupun kepada wartawan, menyatakan akan meneruskan protes, permintaan klarifikasi dan pertanggungjawaban itu kepada pemerintah Pusat di Canberra. Dia juga berencana berbicara langsung dengan Sutiyoso.
Protes dan kecaman
Sehubungan dengan insiden yang dialami Sutiyoso di Sydney, muncul kecaman dan protes terhadap pemerintah Australia, dari sejumlah kalangan di Tanah Air. Sementara ratusan anggota Forum Betawi Rempug berunjuk rasa di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Demikian pula beberapa perwakilan lurah dan camat se-Jakarta Utara.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) mengecam keras perlakuan pemerintah Australia terhadap Sutiyoso.
"Jelas ini suatu pelecehan dan menunjukkan arogansi. Pemerintah Australia harus minta maaf. Pemerintah harus protes," ucap Ketua DPR Agung Laksono.
Protes dan kecamatan juga disampaikan Asosiasi Pemerintah Povinsi Seluruh Indonesia, Dewan Pimpinan Pusat Barisan Muda Penegak Amanat Nasional, Dewan Pimpinan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, Jawa Barat, dan keluarga besar pendidikan Al Ma'mun Eduaction Center. Sekretaris Jenderal Gerakan Pemuda Ansor Malik Haramain, dan Wali Kota Jakarta Utara Effendi Anas juga menyampaikan protes keras.
Peristiwa Balibo
Dalam berita Kompas 20 Oktober 1975 dilaporkan, peristiwa Balibo terjadi pada 16 Oktober 1975, saat dua faksi bersenjata Timor Timur, yakni UDT dan Apodeti, melakukan serangan mortir besar-besaran untuk merebut kota Balibo dari Fretilin. Setelah serangan itu lima wartawan Australia ditemukan tewas di Balibo.
Sutiyoso mengakui, pada 1975 dia bersama timnya melakukan operasi intelijen di Timor Timur. Namun Sutiyoso yang saat itu berpangkat kapten dan menjabat sebagai wakil kepala tim tidak pernah masuk ke Balibo. (eca/cal/osd/har/sut/oki/ap)

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Tragedi Grati: Bak Api dalam Sekam

KOMPAS - Kamis, 31 Mei 2007

Bumi Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, yang bertahun-tahun seperti api dalam sekam, akhirnya meledak dahsyat, Rabu (30/5). Darah rakyat tumpah di tanah. Nyawa pun melayang. Tragedi ini mengingatkan falsafah masyarakat Jawa tentang tanah: sedumuk bathuk senyari bumi ditohi pati. Sejengkal tanah akan dibela sampai titik darah terakhir.
“Kalau tanah itu diambil, warga mau kerja apa? Warga mau makan apa? Makanya tolong mengerti kami," kata Kepala Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Imam Sugnadi, dengan bercucuran air mata.
Mayoritas dari warganya memang sangat bergantung kepada tanah karena pekerjaan yang mereka bisa hanyalah bertani. Salim (40), misalnya, adalah salah satu orang yang menggarap lahan seluas sekitar 20 meter persegi yang disengketakan itu. Lahan itu ditanami secara tumpangsari dan terdiri dari tanaman jagung, ketela pohon, dan singkong.
Hasil dari lahan ini dijadikannya untuk memenuhi kebutuhan hidup dia, istrinya, dan dua anaknya yang masih sekolah di sekolah dasar. Hasil dari lahan sebagian dijual dan sebagian lainnya dipakai untuk kebutuhan makan sehari-hari. Pada intinya, dia menghitung, hidup selama satu tahun dipakai untuk memenuhi hidup pada tahun berikutnya.
Kalau bagi masyarakat tanah itu sumber nafkah, tumpuhan hidup, bagi TNI AL tanah itu adalah asetnya. Pada tahun 1960, TNI AL membeli tanah di Grati seluas 3.569,205 hektar yang meliputi dua kecamatan yaitu Lekok dan Nguling untuk membangun Pusat Pendidikan TNI AL.
Pada tahun 1963 TNI AL menyelesaikan pembayaran tanah dan penggantian bangunan. Namun, masih ada beberapa penduduk yang belum pindah. Ternyata sejak dibebaskan tidak juga segera dibangun Pusat Pendidikan TNI AL. Malah sejak tahun 1966 digunakan jadi lahan pertanian untul palawija dan jarak.
Inilah yang mengusik hati rakyat bahwa mereka merasa dibohongi. Mereka mau melepas tanah karena untuk kepentingan pertahanan negara. Tetapi, ternyata untuk pertanian yang dikelola Puskopal. Apalagi setelah pada tahun 1984 “disewakan" kepada PT Grati Agung untuk perkebunan tebu, maka rakyat pun semakin merasa dibohongi. Mereka sakit hati karena status sosialnya merosot dari pemilik lahan menjadi buruh tani tebu.
Pada tahun 1993, BPN menerbitkan sertifikat terhadap 14 bidang. Kendati demikian warga yang merasa dibohongi tetap tidak mau pindah. Mereka sanggup mengembalikan uang yang sudah diterima dari TNI AL.
Melihat penderitaan warganya, Bupati Pasuruan pada 20 November 1993 mengusulkan ke Komandan Lantamal III Surabaya agar dimukimkam kembali warga bukan anggota TNI AL di daerah Prokimal Grati.
* * *
BAHANA reformasi berhembus juga ke Grati. Awal 1998 warga kembali menyerukan agar tanah mereka dikembalikan. Hal ini ditanggapi Buparti Pasuruan yang mengirim surat ke KSAL agar warga bukan anggota TNI diberi tanah seluas 500 meter persegi. Namun, usulan ini sampai sekarang tidak ditanggapi.
Warga menempuh jalur hukum tetapi mereka kalah di Pengadilan Negeri Pasuruan pada November 1999. Rakyat semakin kepepet. Urusan perut tidak bisa ditunda. Akhirnya 23 September 2001 mereka menebangi pohon mangga, mengambil alih tanah secara paksa. Warga pun mulai menggarap lahan itu.
Situasi bertahun-tahun bak api dalam sekam. Tanda-tanda akan terjadi tsunami sosial sudah tercium baunya. Untuk itulah 5 Februari 2007 lalu, Muspida Pasuruan bertemu dengan Pangko Armatim di Surabaya membahas masalah tersebut. Kedua belah pihak sepakat membawa permasalahan ke tingkat lebih tinggi. Pihak Armatim ke Mabes TNI AL, sedanh Bupati Pasuruan ke Gubernur Jatim dan Mendagri. Belum lagi ada keputusan apa-apa, meledaklah tragedi 30 Mei itu.
Antropolog Universitas Jember, Dr Latief Wiyata mengungkapkan, peristiwa tersebut merupakan reaksi dari kekecewaan yang terpendam. Emosi warga begitu mudah disulut akibat sampai sekarang belum ada figur yang bisa dijadikan panutan, baik di tingkat desa hingga nasional.
Dalam situasi yang serba tidak jelas menyangkut solusi atas sengketa tanah tersebut, kata Latief, warga terus dipertontonkan rekasi masyarakat yang kehilangan hak di berbagai daerah. “Perubahan dan informasi yang begitu cepat diterima masyarakat melalui media, juga salah satu pemicu reaksi destruktif penduduk Grati," ujarnya.
Kendati demikian jika ada tokoh panutan yang mampu memberikan jalan terbaik dalam sengketa tahan tersebut, peristiwa yang menewaskan warga tidak akan mungkin terjadi. “Semua pihak memang perlu arif, dan paling utama bagaimana figur panutan semua pihak, segera muncul dan mampu menyelesaikan perselisihan," kata Latief.
Tragedi Grati menambah deretan tragedi tanah di Jawa Timur. Seperti, Nipah (Madura), Jenggawah (Jember), Harjokuncaran (Malang), Nglegok (Blitar). Tragedi ini memperingatkan agar semua pihak berhati-hati dan arif menyikapi konflik pertanahan. (ETA/INA/APA/ANO)

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Lumpur panas: Solidaritas untuk Korban Lapindo

KOMPAS - Kamis, 31 Mei 2007

Bandung, Kompas - Solidaritas terhadap satu tahun tragedi lumpur Lapindo juga disuarakan di Bandung. Massa dari dua kelompok yang berbeda, Rabu (30/5), mengadakan aksi solidaritas dengan menggelar aksi di depan Gedung Sate Bandung.
Massa datang dari Gerakan Aktifis Ramah Lingkungan (Geral), Mahasiswa Pancasila Jawa Barat (Mapancas Jabar), Taliwargi Masyarakat Sumedang (TAMAS), dan Komunitas Jatinagor, dan Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Universitas Islam Bandung. Mereka sempat menggelar aksi teatrikal di jalan dan di depan pagar Gedung Sate.
Perwakilan Geral, Aap Salpudin, menyatakan, peristiwa satu tahun lumpur Lapindo membuktikan kalau bencana bukan terjadi karena alam semata. Namun, lebih karena keserakahan manusia, yang membuat lingkungan terlantar dan rusak demi uang. Oleh karena itu mereka menuntut agar pemulihan lingkungan segera dilakukan.
Sementara itu, HMI dalam aksinya menyuarakan tentang kinerja Susilo Bambang Yudhoyono dan JusuF Kalla yang tidak juga lekas menyelesaikan perkara ini. Padahal, ribuan orang kehilangan tempat tinggal, kehilangan mata pencaharian, kerusakan dan banyak anak yang putus sekolah.
Mereka juga menilai pemerintah terlalu memihak pengusaha kaya dibandingkan rakyat kecil. Oleh karena itu, mereka mendesak agar pemerintah melakukan tekanan pada Lapindo Brantas Inc agar bertanggung jawab.
Tinggalkan Pasar Porong
Di Jakarta, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie mengimbau warga Sidoarjo, yang menjadi korban luberan lumpur Lapindo Brantas Inc dan telah mendapatkan uang kontrak, segera pindah dari Pasar Porong.
Menurut Aburizal, sudah banyak warga yang mendapatkan uang kontrak rumah dan ganti rugi. "Bahkan ada satu orang yang mendapat Rp 56 miliar untuk rumah dan tanahnya yang luas," katanya. (che/lok)

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Pesawat Cassa 212 TNI AL Tergelincir

KOMPAS - Kamis, 31 Mei 2007

Suplai Bahan Makanan bagi Prajurit di Pedalaman Papua Terganggu

Jayapura, Kompas - Sebuah pesawat milik TNI Angkatan Laut tergelincir di Bandar Udara Oksibil, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Rabu (30/5). Tidak ada korban jiwa, tetapi peristiwa ini bakal mengganggu kelancaran suplai bahan makanan bagi prajurit TNI AD yang bertugas di pedalaman Papua.
Pesawat jenis Cassa 212 dengan kode panggilan U 620 yang diterbangkan pilot Letnan Satu Laut (P) Hidayat Marpaung itu tergelincir keluar landasan pacu saat mendarat di Bandar Udara Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang.
Pesawat yang mengangkut bahan makanan bagi para prajurit Batalyon Infrantri (Yonif) 521 Komando Daerah Militer (Kodam) V/Brawijaya, Jawa Timur, yang bertugas di Oksibil itu berangkat dari Bandar Udara Sentani, Jayapura, pukul 06.26 WIT. Dalam penerbangan tanpa penumpang, Marpaung didampingi kopilot Letnan Satu Laut (P) Sahib serta dua mekanik pesawat, Sersan Satu Ansor dan Kelasi Kepala Ely Yudi.
Saat mendarat sekitar pukul 07.30, Marpaung telah berusaha mengerem pesawat. Namun, sampai landasan pacu habis, pesawat masih melaju kencang. Pesawat akhirnya terperosok di semak-semak di sebelah kiri landasan, sekitar 20 meter dari ujung landasan.
Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Oksibil Y Duma Roni menjelaskan, pesawat akhirnya dapat ditarik kembali ke landasan pacu sekitar pukul 09.45. "Setelah diperiksa, ternyata roda depan pesawat bengkok. Bagian sayap kiri pesawat juga rusak akibat gesekan dengan permukaan tanah. Moncong pesawat juga penyok akibat benturan. Dengan kondisi seperti itu, pesawat tidak mungkin diterbangkan kembali ke Sentani," kata Roni.
Roni menyatakan, landasan pacu Bandar Udara Oksibil sangat layak untuk didarati pesawat tipe Cassa 212. "Landasan pacu seluruhnya telah diaspal dan landasan pacu itu memiliki panjang 900 meter," kata Roni.
Bandar Udara Oksibil terletak di ketinggian 1.219,2 meter di atas permukaan laut, di antara deretan pegunungan yang mengelilingi Oksibil. Cuaca sering berubah dengan cepat, diikuti turunnya kabut tebal. Kondisi seperti itu membuat pendaratan di Oksibil memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.
Wakil Sementara Kepala Penerangan Kodam XVII/Trikora Mayor (Inf) M Maksum menyatakan, pesawat itu sedang mengangkut bahan pangan bagi prajurit yang sedang diperbantukan di sejumlah pos TNI AD di perbatasan RI-Papua Niugini.
"Bahan makanan itu harus didistribusikan kepada prajurit yang tersebar di berbagai pos perbatasan di Kabupaten Pegunungan Bintang. Dari Oksibil seharusnya bahan makanan itu dikirimkan dengan helikopter ke sejumlah pos," kata Maksum.
Kecelakaan itu akan mengganggu kelancaran suplai logistik bagi sejumlah prajurit yang bertugas di pedalaman Papua.
Sejak awal tahun ini pengiriman bahan makanan bagi para prajurit beberapa kali tersendat karena kerusakan sejumlah pesawat milik TNI AD dan TNI AU yang ada di Papua. Beberapa kali Kompas mendapati pengiriman logistik yang terlambat sampai beberapa hari dari jadwal yang ditentukan. (row)

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Wednesday, May 30, 2007

Airbus A340

From Wikipedia, the free encyclopedia with minor modifications.

The Airbus A340 is a long-range four-engined widebody commercial passenger airliner manufactured by Airbus S.A.S. a subsidiary of EADS. It is similar in design to the twin-engined A330.

The Airbus A340 has four variants:
A340-200
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

A340-300
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

In new livery
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

A340-500
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

A340-600
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

In new livery
Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket

History
The first published studies for the A340 were as the TA11 in 1981, as shown in the November issue of Air International (coinciding with the display of the A300 at that year's Farnborough Air Show). Concept drawings of the A320 and A330 were also published, along with estimated performance figures by Airbus Industrie.
The A340 was launched in June 1987 as a long-range complement to the short-range A320 and the medium-range A300. At the time, Airbus's twinjets were at a disadvantage against aircraft such as the Boeing 747 because of the ETOPS problem: two-engined aircraft had to stay within close range of emergency airfields to allow for engine malfunction. The A340 was designed in parallel with the twin-engined A330: both aircraft share the same wing and similar fuselage structure, and borrow heavily from the advanced avionics developed for the A320. Both the A330 and A340 are assembled on the same final assembly line at Toulouse-Blagnac, France. The four-engined A340 is able to fly long over-water routes. Because of its ETOPS-immunity, Virgin Atlantic Airways used the motto "4 Engines 4 Long Haul," on its A340 fleet.
It was originally intended to use the new superfan engines of IAE (International Aero Engines) in the A340 but IAE decided to stop their development and the CFMI CFM56-5C4 was used instead. When the A340 first flew in 1991, engineers noticed a potentially major design flaw in the first model: the wings were not strong enough to carry the outboard engines at cruising speed without warping and fluttering. To alleviate this, an underwing bulge called the plastron, named after the undershell of a tortoise, was developed to correct airflow problems around the engine pylons. The modified A340 began commercial service in 1993 with Lufthansa and Air France.
The A340 incorporates high-technology features such as fully digital fly-by-wire flight control system. It also uses a sidestick controller instead of normal control columns. There is one 'joystick' to the left of the pilot and one to the right of the co-pilot. The A340, as with all Airbus planes, employs a common pilot rating, specially with the two-engined A330. The cockpit also features CRT-based glass cockpit displays on the A340-200 and A340-300 and LCD-based on -500 and -600. Some composite primary structures are also used.
When fuel costs rose, airlines began looking at the Boeing 777 as an alternative to the A340. As the years went by, orders for the 777 rose, while orders for the A340 began diminishing. It can be argued that, with modern engines having extremely low failure rates (as seen in the ETOPS certification of most twinjets) and increased power output, four engines are no longer necessary except for very large aircraft, such as the Airbus A380 or Boeing 747. In 2005, Airbus had only 15 orders for the A340.
In January 2006, Airbus announced plans to develop an enhanced version of the A340, dubbed the A340E; where E stands for enhanced, because of disappointing sales in the wake of newer longer range Boeing 777s in 2005, and the rise in fuel costs that have justified twin-engine planes as being more economical to operate than four engine planes. Airbus claims that the enhanced A340 will be more fuel-efficient than earlier A340s and will allow the model to compete more effectively with the Boeing 777. When this possible model will be developed has yet to be determined.

Variants
There are four variants of the A340 and launched on two separate occasions. The A340-200 and A340-300 were launched in 1987 with introduction into service in March 1993. The A340-500 and A340-600 were launched in 1997 with introduction into service in 2002.


A340-200
One of two initial versions of the A340, the A340-200, with 261 passengers in a three-class cabin layout has a range of 7,450 nautical miles (13,800 km). This is the shortest version of the type and the only version with wingspan measuring greater than the length of the plane. It is powered by four CFMI CFM56-5C engines. The plane's range was one of the longest of the time and it was intended to open long and thin routes, especially over water.
One version of this type was ordered by the Sultan of Brunei requesting for a non-stop range of 8,000 nautical miles. This A340-8000 had an increase in fuel capacity, a MTOW of 275 tonnes similar to the A340-300, and minor reinforcements to the undercarriage. Upon completion its final range was specified at 8,100 nautical miles (15,000 km) . It is powered by the 34,000 lbf (151 kN) thrust CFMI CFM56-5C4s similar to the -300E.
Other A340-200s were later given performance improvement packages (PIPs) which helped them achieve similar gains in capability as to the A340-8000. Those aircraft are labeled A340-213X. The range for this version is 8,000 nm (14,800 km).
Due to its large wingspan, four engines, low capacity, and improvements to the A340-300, the 200 proved heavy and unpopular with mainstream airlines. Only 28 A340-200s were produced with several now in VIP service. South African Airways is the largest operator with 6 flying mostly on Cape Town routes. Other current operators include Aerolineas Argentinas, Air Europa, Austrian Airlines (to be retired by mid-2007), Royal Jordanian and Egypt Air
Some A340-200 are used for VIP or military use. Example of these are Royal Brunei, Qatar Airways, Arab Republic of Egypt Government, Saudi Arabia Air Force, The Hashemite Kingdom of Jordan and the France Air Force. Other historical operators include Cathay Pacific, Air Bourbon among others. This version is out of production.

A340-300
The A340-300 flies 295 passengers in a typical three-class cabin layout over 6,700 nautical miles (12,400 km). This is the initial version, having flown on 25 October 1991, and entered service with Lufthansa and Air France in March 1993. It is powered by four CFMI CFM56-5C engines, similar to the -200.
The A340-313X is a heavyweight version of the A340, and was first delivered to Singapore Airlines in April 1996, though Singapore Airlines no longer operates this model.
The A340-313E is the latest version of this type and was first delivered to Swiss International in 2003. It has a MTOW of 276.5 tonnes with typical range with 295 passengers of between 7,200 and 7,400 nautical miles (13,300 km and 13,700 km). It is powered by the more powerful 34,000 lbf (151 kN) thrust CFMI CFM56-5C4s.
This model is still in production with 219 orders to date of which 211 have been delivered. The largest operator of this type is Lufthansa with 30.
The direct Boeing equivalent is the 777-200ER.

A340-500
The A340-500 was introduced as the world's longest-range commercial airliner. It made its first flight on 11 February 2002, and was certified on 3 December 2002 with early deliveries to Emirates. While the KC-10 Extender is the longest-ranged production aircraft, the A340-500 was the world's longest-range commercial airliner, until the introduction of the Boeing 777-200LR "Worldliner" in early 2006. The A340-500 can fly 313 passengers in a three-class cabin layout over 8,650 nautical miles (16,000 km). Singapore Airlines, for example, uses this model for its Newark-Singapore nonstop route, an 18-hour, 15,345 km (8,285 nm) journey that is the longest scheduled non-stop commercial flight in the world; the airline does this with a 181 passengers, 2 class layout, and trading payload capacity for extra fuel tanks. The A340-500 is capable of travelling non-stop from London to Perth, Australia, though a return flight requires a fuel stop due to headwinds. Also, Thai Airways International flies this model for its non-stop flights from Bangkok to Los Angeles and Bangkok to New York, while Air Canada flies this model for its non-stop flights from Toronto to Hong Kong.
Compared with the A340-300, the -500 features a 3.3 m fuselage stretch, an enlarged wing area, massive increase in fuel capacity (around 50% over -300), slightly higher cruising speed, larger horizontal stabilizer and smaller vertical tailplane. The A340-500/-600 has taxi cameras to help the pilots during ground maneuvers. The A340-500 is powered by four 53,000 lbf (236 kN) thrust Rolls-Royce Trent 553 turbofans.
The A340-500HGW (High Gross Weight) version with a range of 9,000 nm (16,700 km) and an MTOW of 380 tonnes is due to enter service in 2007 with Thai Airways International. It will use the strengthened structure and enlarged fuel capacity of the A340-600HGW. Kingfisher Airlines plan to use this model to operate nonstop flights from India to the United States. The A340-500HGW is powered by four 56,000 lbf (249 kN) thrust Rolls-Royce Trent 556 turbofans.
The direct Boeing equivalent is the 777-200LR, which entered service in February 2006.

A340-600
Designed as an early-generation Boeing 747 replacement, the A340-600 flies 380 passengers in a three-class cabin layout (419 in 2 class) over 7,500 nautical miles (13,900 km). It provides similar passenger capacity to a 747 but with twice the cargo volume of a 747SP, and at lower trip and seat costs. First flight of the A340-600 was made on 23 April 2001. Virgin Atlantic began commercial services in August 2002.
The A340-600 is more than 10 m longer than a basic -300, making it the longest airliner in the world, more than four metres longer than Boeing's 747-400 (but will be 1.1 meter shorter than the upcoming 747-8). It is powered by four 56,000 lbf (249 kN) thrust Rolls-Royce Trent 556 turbofans. It also has an additional four-wheel undercarriage on the fuselage center-line to cope with the increased MTOW.
The initial seven A340-600 aircraft were delivered with overweight wings. After the A340-600 launch customer, Virgin Atlantic, elected to receive replacement aircraft, these airframes were delivered at a reduced price to Iberia Airlines and Cathay Pacific. Cathay Pacific uses the plane on its nonstop service between Hong Kong and New York City (JFK).
In April 2007, the Times of London reported that Airbus had advised carriers to reduce cargo in the forward section by five tonnes in order to compensate for overweight first and business class sections. The additional weight causes the aircraft's center of gravity to move forward thus reducing cruise efficiency. Airlines affected by the advisory are considering demanding compensation from Airbus.
The A340-600HGW (High Gross Weight) version first flew on 18 November 2005 and was certified on 14 April 2006. It has an MTOW of 380 tonnes and a range of up to 7,900 nm (14,600 km), made possible by strengthened structure, increased fuel, more powerful engines and new manufacturing techniques like laser beam welding. The A340-600HGW is powered by four 60,000 lbf (267 kN) thrust Rolls-Royce Trent 560 turbofans.
Emirates became the launch customer for the -600HGW when it ordered 18 at the 2003 Paris Air Show; but postponed their order indefinitely in order to wait for Airbus' future plans for the A340 range to be made clear. This order was ultimately cancelled. Rival Qatar Airways, which placed its order at the same airshow, took delivery of the first aircraft on 11 September 2006.
The direct Boeing equivalent is the 777-300ER.

Specifications
The spesifications each for A342, A343, A345, and A346 are as follow:
Wingspan: 60.30 m - 60.31 m - 63.45 m - 63.45 m
Length: 59.39 m - 63.60 m - 67.90 m - 75.30 m
Height 16.70 m - 16.85 m - 17.10 m - 17.30 m
Wheelbase 23.24 m - 25.60 m - 27.59 m - 32.89 m
Typical cruise speed 896 km/h - 896 km/h - 907 km/h - 907 km/h
Maximum cruise speed 940 km/h - 940 km/h - 940 km/h - 940 km/h
Operating range 14,800 km - 13,700 km - 16,700 km - 14,600 km
Empty Weight 129,000 kg - 129,275 kg - 170,400 kg - 177,000 kg
Fuel Capacity 155,040 L - 140,640 L - 222,000 L - 204,500 L
Passengers (3 classes) 239 – 295 – 313 - 380
Takeoff run at MTOW 2,990 meters - 3,000 meters - 3,050 meters - 3,100 meters
Service Ceiling 11,887 m - 11,887 m - 11,887 m - 11,887 m
Cockpit Crew Two (2) - Two (2) - Two (2) - Two (2)
Engine options
A340-200: 4x CFM56-5C2 (138.78kN), 4x CFM56-5C3 (144.57kN), or 4x CFM56-5C4 (151.25kN)
A340-300: 4x CFM56-5C2 (138.78kN), 4x CFM56-5C3 (144.57kN), 4x CFM56-5C4 (151.25kN), or 4x CFM56-5C4P (149.9kN)
A340-500: 4x Trent 553 (236kN)
A340-600: 4x Trent 556 (249kN)

Incidents
As at 15 May 2007:
Hull loss accidents The A340 has not had a fatal incident to date, but it has suffered 3 hull-loss accidents:
20 January 1994 - Air France, an A340-211 (F-GNIA) was lost to fire during servicing at Charles de Gaulle International Airport.
24 July 2001 - SriLankan Airlines, an A340-300 (4R-ADD) was destroyed by an explosive charge. Liberation Tigers of Tamil Eelam launched a suicide attack at the Bandaranaike International Airport.
2 August 2005 - Air France Flight 358, all 297 passengers and 12 crew survived a crash and fire after their A340-300 (F-GLZQ) overshot runway 24L at Toronto Pearson International Airport in a thunderstorm. The aircraft slid into Etobicoke Creek and broke up. Forty-three were injured, some seriously, some passengers jumped nearly 20 ft (6 m) to the ground.
Other incidents
An A340-311 of Virgin Atlantic Airways was forced to land with the right main gear retracted on 5 November 1997 at London Heathrow Airport. When landing, the left main gear collapsed. All 100 passengers were unharmed and the aircraft was repaired within 28 days.
The landing gear of an A340-211 of Sabena collapsed during landing at Brussels Airport on 29 August 1998. The right horizontal stabilizer was destroyed.
An A340-312 of SriLankan Airlines was destroyed on the ground by Tamil Tiger guerillas on 24 July 2001 at Colombo-Bandaranayake IAP, Sri Lanka, along with 2 A330s and a squadron of military aircraft.
An A340-313X of Emirates ran off the runway when taking off from Johannesburg International Airport on 9 April 2004. Both pilots were unfamiliar with this heavier variant of the Airbus. At the call to rotate, the pilot flying pulled back on the stick. However, according to a report by the airline, "for approximately six or seven seconds the aircraft nose did not move upward". The nose finally came up, but the aircraft still did not become airborne. The crew felt a rumbling, selected full power, and about two seconds later the aircraft lifted off the ground. The airport says 25 runway threshold and approach lights, and part of the runway surface, were damaged as the aircraft went over the end of 21R. The pilot had received ambiguous instructions regarding rotation technique during his transition training. Emirates Training establishment was censured by Airbus after an investigation.

A340 deliveries
By the end of March 2007 a total of 405 A340s had been ordered and 342 delivered.





BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Cukai akan gantikan PPnBM

BISNIS - Rabu, 30/05/2007

JAKARTA: Pemerintah akan memperluas penggunaan cukai sebagai pengganti instrumen pajak penjualan barang mewah (PPnBM). Kebijakan ini diharapkan berlaku efektif bertahap setelah amendemen RUU Cukai dirampungkan. Kepala Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan Anggito Abimanyu menyatakan pemerintah masih mematangkan rencana tersebut. "Itu masih panjang, dan belum final," ujarnya, kemarin.Ditanya apa pemerintah sudah mengkaji kemungkinan munculnya implikasi atas kebijakan tersebut terutama terhadap penerimaan negara, Anggito menolak menjelaskannya lebih rinci. Alasannya, rencana tersebut masih dalam pembahasan internal pemerintah.Ditemui terpisah, Ketua Panitia Khusus RUU Cukai Irmady Lubis (F-PDIP) mengatakan pemerintah sudah menyampaikan rencana penghapusan PPnBM untuk digantikan cukai pada rapat panitia kerja RUU Cukai beberapa waktu lalu."Kami di DPR akan mendukung kebijakan itu. Di Thailand, sesuai hasil studi banding Pansus, cukai juga digunakan untuk produk otomotif. Jadi nanti, tidak ada lagi pemajakan ganda, dan penerimaan cukai akan bertambah." Apakah penggantian PPnBM dengan cukai itu memiliki implikasi serius terhadap penerimaan negara, terutama karena terlalu banyaknya item produk yang sebelumnya terkena PPnBM yang sampai ratusan item, dia mengatakan pemerintah-lah yang menjelaskan ini.Penerimaan turun Namun, Irmady mengakui, implikasi serius berupa penurunan penerimaan negara tersebut merupakan konsekuensi yang masuk akal bila dilihat dari sisi adanya kesulitan bagi aparat Bea Cukai untuk memungut cukai pengganti PPnBM. Sebab, ada beberapa produsen barang mewah yang terletak di daerah atau kabupaten di mana tidak terdapat kantor bea dan cukai-sebagaimana kantor pajak yang selama ini biasa memungut PPnBM."Kesulitan dalam pelaksanaan pemungutannya ini saya kira betul. Jadi perlu penahapan. Ok, PPnBM kita hapus dan kita ganti cukai. Tapi tidak seluruh objek PPnBM berbarengan diganti cukai. Dan ini juga perlu terobosan pemerintah."Dalam catatan Bisnis, jumlah objek cukai yang diterapkan negara di dunia paling banyak hanya 20 item produk, dengan perkecualian untuk beberapa negara di bagian selatan Afrika yang mematok objek cukai sampai 70-an item produk.Bila instrumen cukai menggantikan PPnBM, dengan tiga objek kena cukai yang ditetapkan pemerintah saat ini, maka akan ada tambahan ratusan item lebih objek baru-dan Indonesia akan menjadi negara dengan objek kena cukai terbanyak di dunia.Dirjen Bea dan Cukai Anwar Suprijadi yang ditemui terpisah mengatakan pemerintah dan DPR masih membahas rencana perluasan cukai untuk menggantikan PPnBM. Sejauh ini,? belum ada rincian yang pasti terkait rencana itu. "Masalah penghapusan PPnBM yang diganti dengan cukai itu masih dibahas," kata Anwar.Terkait pembahasan RUU Cukai, Irmady mengatakan semua fraksi menolak dua dari tiga isu pokok yang diajukan pemerintah di RUU Cukai, yakni kenaikan tarif maksimal cukai dari 55% ke 65% dan pemendekan masa pelunasan cukai dari 90 hari ke 60 hari. Satu isu pokok yang lain, yakni perluasan objek cukai, panja sepakat memperdalam kembali kategori perluasannya.
(bastanul.siregar@bisnis.co.id)
Oleh Bastanul Siregar
Bisnis Indonesia

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...