Friday, August 31, 2007

Antrean di Merak: Sembako Sulit Diperoleh di Palembang

KOMPAS - Jumat, 31 Agustus 2007

Palembang, Kompas - Menyusul terjadinya antrean panjang di Pelabuhan Merak, Banten, beberapa jenis barang kebutuhan pokok mulai sulit diperoleh di pasar-pasar tradisional Kota Palembang. Itu terjadi karena pasokan baru dari Pulau Jawa masih tertahan di Merak.
Dari pemantauan Kompas di Pasar Cinde, Pasar Plaju, dan Pasar 26 Ilir Kota Palembang, Kamis (30/8), kebutuhan pokok yang mulai sulit diperoleh terutama jenis sayur-mayur dan buah-buahan, di antaranya kol, wortel, dan kentang. Selama ini jenis kebutuhan pokok tersebut selalu mengandalkan pasokan dari produsen-petani di Pulau Jawa.
Pasokan barang kebutuhan seperti sayur-mayur dari Pulau Jawa ke Bandar Lampung juga datang terlambat.
Dari Medan dilaporkan, 10 persen mangga arum manis yang dikirim dari Cirebon, Jawa Barat, tiba di Medan dalam keadaan busuk karena terlalu lama di jalan. "Ini sangat merugikan. Tingkat kebusukan meningkat menjadi 3-4 kilogram dalam satu peti (isi 30 kilogram). Padahal, biasanya hanya busuk 1 kilogram," kata pedagang buah di Jalan Air Bersih, Medan, Arif Budiman.
Keterlambatan datang barang kebutuhan itu memicu kekhawatiran masyarakat. Akibatnya, banyak pembeli yang membeli dalam jumlah banyak sehingga stok barang makin menipis.
Astiti (42), pedagang di Pasar Cinde, Palembang, menuturkan, selama dua hari ini ia tidak memiliki stok sayuran jenis wortel dan kentang. Ia juga kehabisan terigu. Barang yang ada sudah diborong pembeli dua-tiga hari lalu.
Wandi (35), pedagang di Pasar 26 Ilir, mengatakan, saat ini dia juga tidak memiliki stok kebutuhan pokok mulai seperti susu kemasan, terigu, buah, kentang, dan kol. Produk susu dan terigu biasanya dipasok dari distributor di Jakarta, sedangkan kentang dan kol selalu mengandalkan pasokan dari Bandung (Jawa Barat) dan Ungaran (Jawa Tengah).
"Pengiriman dilakukan dengan jalan darat menggunakan angkutan truk, dua kali seminggu. Seharusnya muatan sudah sampai kemarin. Hari ini kami baru dikabari bahwa muatan masih tertahan di Merak," kata Wandi.
Konsumen yang ditemui di pasar tradisional juga mengeluhkan sulitnya mencari jenis kebutuhan tersebut. Sebagian pembeli mengaku harus memesan terlebih dulu sehari sebelumnya kepada pedagang agar bisa mendapatkan kebutuhan yang diinginkan.
Belum dibuka
Untuk mengurangi risiko dan memperlancar distribusi barang, pihak PT ASDP Bakauheni, Lampung, dan PT ASDP Merak sebenarnya sudah berupaya memprioritaskan angkutan kebutuhan yang mudah rusak.
"Karena barang kebutuhan, terutama sayur dan buah, itu mudah busuk, setidaknya empat truk barang kebutuhan kami seberangkan lebih dulu," kata Kepala Cabang PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (PT ASDP) Bakauheni Prasetyo Bakti Utama.
Akan tetapi, hingga Kamis petang kemarin penyeberangan ternyata belum juga lancar.
Rencana mengoperasikan Pelabuhan Umum Ciwandan pada Kamis kemarin ternyata juga belum dilakukan karena dua kapal bantuan PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) belum tiba di Pelabuhan Merak. Akibatnya, penumpukan kendaraan menuju pelabuhan bertambah parah hingga mencapai lebih kurang 12 kilometer dari pintu masuk pelabuhan.
Seperti diberitakan, Menteri Perhubungan Jusman Safeii Djalal menyatakan akan membuka Pelabuhan Ciwandan pada hari Kamis. Sebagian truk akan dialihkan agar menyeberang melalui pelabuhan milik PT Pelindo II Banten, dengan menggunakan dua kapal milik TNI AL dan dua kapal milik PT Pelni.
Dua kapal milik TNI AL, yakni KRI Teluk Manado dan Teluk Hading, sudah datang di Pelabuhan Indah Kiat, Cilegon, sejak Rabu lalu. Kedua kapal itu juga sudah diminta untuk merapat ke Pelabuhan Ciwandan Kamis sore. Namun, hingga petang kedua kapal itu belum juga dioperasikan.
"Prinsipnya, kami siap membantu kapan pun dibutuhkan. Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan kapan akan mulai dioperasikan," kata Komandan Pangkalan TNI AL Banten Kolonel Laut (P) Imron Junaedi, kemarin sore.
Kedua KRI itu hanya mampu mengangkut 4-5 truk sekali jalan. Dengan laju kecepatan sekitar 12 knot, diperkirakan KRI itu bisa melayani enam trip per hari.
Adapun dua kapal bantuan milik PT Pelni, yakni KMP Gunung Egon dan KMP Garda Dewata, belum datang. Begitu pula kapal bantuan dari Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai dan Penyeberangan (Gapasdap), Dharma Ferry II, serta KMP Belanak, kapal bantuan dari PT ASDP Cabang Belawan. Dari tujuh kapal yang rencananya diperbantukan, baru satu kapal, yakni KMP Raja Enggano milik PT ASDP Cabang Bengkulu, yang sudah dioperasikan di Pelabuhan Merak.
Kepala Cabang PT ASDP Merak M Ichsan memastikan, KMP Dharma Ferry II dan Garda Dewata datang pada Kamis malam.
Tambah parah
Hingga petang kemarin, PT ASDP Merak mengoperasikan 14 kapal, termasuk kapal bantuan dari Bengkulu yang sudah tiba. Namun, penumpukan kendaraan menuju Pelabuhan Merak justru bertambah parah.
Berdasarkan pemantauan, antrean truk bertambah panjang hingga mencapai lebih kurang 12 kilometer dari pintu masuk pelabuhan. Ribuan truk pengangkut barang berjajar di jalan yang membentang dari pintu pelabuhan hingga Kilometer 91 Jalan Tol Jakarta-Merak.
Direktur Utama PT ASDP Sumiarso Sony memastikan bahwa penumpukan kendaraan di Pelabuhan Merak akan segera teratasi. Ia memperkirakan kondisi akan normal pada hari Minggu. (HLN/NDY/ONI/NTA)

1 comments:

Anonymous said...

Your blog keeps getting better and better! Your older articles are not as good as newer ones you have a lot more creativity and originality now keep it up!