Monday, May 21, 2007

Menjadi pribadi yang positif

Tanya:
Pak Anthony Dio Martin, saya rajin mendengar program Anda di radio maupun tulisan Anda di Bisnis Indonesia edisi Minggu. Saya Handy, anak berumur 20 tahun dan kegiatan saya sehari-hari bekerja di perusahaan yang menerapkan disiplin tinggi, dan setelah pulang dari pekerjaan saya harus kuliah dengan biaya dari saya sendiri (didapat dari pekerjaan).
Saya hidup di keluarga yang tidak mampu dan tiap hari saya harus mendengar keributan-keributan yang mungkin tidak ada waktu untuk tenang. Akibatnya, jangankan dorongan untuk berupaya hidup, perhatian pun jarang saya temui di keluarga ini.
Bayangkan, setiap hari saya harus berjuang menghadapi masalah entah di keluarga, di kantor, sesama rekan kerja, bahkan dengan persoalan pribadi. Setiap saya berupaya untuk berfikir positif senantiasa keadaan tersebut tidak mendukung.
Pikiran yang ditimbulkan adalah ketidakmampuan untuk berjuang, senantiasa berfikir mengakhiri hidup, tidak ada yang menyayangi lagi, dan sering melupakan hal-hal positif yang ditimbulkan dalam diri saya.
Saya mohon bantu saya untuk mengubah cara pikiran, perasaan bahkan semua hal-hal negatif yang sering timbul. Bantulah saya Pak Anthony, bagaimana menjadi senantiasa dapat berfikir positif. Saya merasa sudah menyerah!

Handyhandy_cahyady@yahoo.com

Jawaban
Salam Antusias!Rekan Handy yang sedang membutuhkan inspirasi untuk hidup yang lebih positif. Dalam kesempatan ini, e-mail Anda akan dipakai secara khusus membahas soal aplikasi menjadi pribadi yang positif. Semoga ini juga menginspirasi pembaca yang lain.
Ada sebuah kisah tentang dua ember yang dipakai untuk menimba air dari suatu sumur. Ember pertama selalu cemberut dan berkeluh kesah. "Setiap saat saya dipenuhi dengan air, tetapi kemudian saya kosong melompong lagi".
Namun, ember yang satunya lagi tampak selalu terseyum dan berkata, "Kalaupun saya kosong, nanti akan dipenuhi air lagi kok". Kisah ini memiliki moral yang penting bagi hidup kita. Meskipun realita yang dialaminya sama, namun dua pribadi yang berbeda, bisa melihat kondisi yang begitu berlawanan satu dengan lainnya.
Kisah yang diceritakan oleh rekan Handy di atas adalah contohnya. Kita paham, ada orang yang hidupnya bahkan jauh lebih buruk dari rekan Handy, tetapi mereka masih bisa tersenyum dan bertahan. Memang, dalam kehidupan kita selalu bisa melihat dari dua sisi, negatif ataupun positif. Kedua sikap ini memang tidak akan mengubah realitas yang ada, tetapi akibat dari cara berpikir ini sungguh dahsyat, yakni perasaan maupun tindakan kita ke depan.
Norman Vincent Peale, adalah salah satu tokoh terkenal yang memperkenalkan perihal berpikir positif. Menurutnya, seringkali orang mengira berpikir positif adalah tidak mau tahu dengan realita, bermimpi dan berangan-angan. Yang jelas, berpikir positif bukanlah tidak mau melihat kenyataan. Berpikir positif tidaklah sama dengan seperti burung unta yang memasukkan kepalanya ke dalam pasir dan berpikir tidak akan ada lagi bahaya. Justru dengan bertindak demikian, burung unta menjadi sasaran empuk pemangsanya.
Menanggapi pertanyaan dari rekan Handy, memang bisa dimengerti betapa sulitnya untuk bisa tetap berpikir positif dalam situasi tersebut, baik di kantor maupun di rumah. Namun, mengeluh dan terus-menerus berkeluh kesah pun tidak akan banyak menyelesaikan masalah. Ingatlah selalu dengan pepatah
"Daripada mengeluh soal pekatnya malam, lebih baik menyalakan sebatang lilin". Untuk itu langkah sikap positif yang bisa diambil oleh rekan Handy adalah sebagai berikut:
E-mail Anda jelas-jelas mengatakan: ...saya "anak" berusia 20 tahun. Yang perlu Anda ketahui, Anda berusia 20 tahun, dan Anda sudah dewasa. Jadi bukan lagi anak-anak, cobalah juga untuk bersikap dan menjadi pribadi yang dewasa. Pribadi yang dewasa, memang bisa mengalami perasaan di mana dia merasa down maupun frustrasi, namun dia tidak merengek dan dengan cepat bangun kembali untuk memikirkan apa yang bisa dia lakukan.
Seorang pribadi yang dewasapun tidak lagi berpikir terus-menerus cari perhatian, tapi justru dia sendiri jadi perhatian dan kasih sayang bagi lingkungannya. Itulah yang perlu menjadi sikap awal Anda.
Dalam situasi keluarga yang tidak membuat Anda nyaman dan ribut, ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan. Pertama, dimulai dari diri Anda sendiri, bisakah mencoba berkomitmen melakukan sesuatu yang bisa membuat kondisi rumah lebih baik.
Jadi, dari Anda sendiri yang mencoba lakukan hal-hal positif. Kalau perlu, bicarakan dan kompaklah dengan anggota keluarga lain yang sebenarnya juga mengharapkan situasi yang sama. Makin banyak terlibat, akan lebih besar pengaruhnya.
Tetapi, kalaupun akhirnya tidak memungkinkan, mungkin pilihan Anda berikutnya adalah mencoba menerima kenyataan ini untuk beberapa saat sambil Anda memikirkan apa yang bisa Anda lakukan. Ataupun, kalaupun kondisi di rumah terlalu mengganggu Anda dan sudah sangat negatif dampaknya, mungkin pilihan terakhir Anda adalah mencari kos yang murah.
Bicara kondisi di tempat kerja yang tidak menyenangkan. Sekali lagi, akan selalu banyak hal yang tidak menyenangkan kalau kita melihatnya dari sisi yang buruk. Tetapi, pertanyaannya sejauh mana kondisi kerja saat ini masih membuatmu bisa belajar sesuatu. Positifnya, toh dengan bekerjanya Anda, Anda bisa punya penghasilan dan bisa mandiri.
Berusahalah dengan tekun bekerja sambil menyelesaikan kuliahmu. Jangan melihat pada pekatnya malam, tetapi tetaplah berusaha melihat pada secercah sinar terangnya dalam situasi ini. Sambil tetap positif, lakukanlah yang terbaik dengan kerja dan kuliahmu. Justru jadikan situasi ini justru memacu Anda untuk lebih bersemangat menyelesaikan kuliah.
Akhirnya, janganlah menyerah, semua ini akan berakhir. Orang yang memiliki adversity quotient (AQ) yang tinggi selalu berprinsip, "Kesulitan akan datang, tapi pasti akan berlalu. Dan setelah berlalu, kita akan lebih kuat dari sebelumnya". Pada saat semuanya ini berakhir, dan Anda akan belajar sesuatu. Semua pengalaman ini akan menjadi hikmah yang berharga untuk melatih otot-ototmu melewati kesulitan. Tetaplah untuk selalu ingat sesulit apapun kondisimu, janganlah menyerah.
"Winner never quit and quitter never win". Dengan menulis e-mail ini saja, sebenarnya Anda sudah mengambil suatu langkah yang positif!

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Yang muda, yang sukses, dan berjaya

Jumat, 04/05/2007 12:46 WIB

oleh : Anthony Dio Martin
Psikolog, penulis buku best seller EQ Motivator, dan Managing Director HR Excellency

"Jangan pernah menjadi tua, tanpa pernah menjadi dewasa" (Dom Helder Camara)
Pembaca, pada edisi-edisi sebelumnya, saya pernah membicarakan tentang usia dan kesuksesan. Saya menulis tentang orang-orang yang sudah uzur tetapi sukses. Artikel ini mendapat tanggapan menarik.
Dalam mailbox saya, seorang mengirim surat dan bertanya bagaimana kalau justru kendala sukses adalah usia muda. Tentu saja, sekali lagi, usia bukanlah faktor penentu orang mampu meraih kesuksesan atau kegagalan.

Ada anggapan, usia berpengaruh dalam produktivitas dan kesuksesan orang bila dikaitkan dengan banyaknya pengalaman. Orang yang berpengalaman pasti mempunyai intuisi dan kepekaan mengambil langkah dan tindakan. Katakanlah asam-garamnya benar-benar sudah penuh untuk merajut prestasi. Tapi, jangan salah sangka. Sejarah membuktikan banyak orang muda yang meraih prestasi dan sukses.
Nah, mari berbicara tentang orang muda. Banyak orang yang mengamini masa muda sebagai masa penuh gairah, cita-cita, dan mimpi. Tapi, tak jarang juga yang merasa masa muda sebagai satu 'halangan' untuk sebuah kesuksesan.
Ada yang menunda kesuksesannya dengan berpikir, "Ah, aku ini kan masih muda" atau "Okelah, saya masih punya banyak waktu untuk belajar", "Pelan-pelan saja, masih banyak waktu kok!", atau "Kayaknya, untuk bidang saya, orang biasa mencapai kesuksesan setelah umurnya di atas 40 tahun deh. Jadi, sulit bagiku untuk diakui dalam usia yang masih bau kencur ini."
Perasaan rendah diri orang muda ini layak dikikis. Semangat untuk tidak menanti sempurna sebaiknya menjadi energi. Kadang masyarakat cukup jahat dengan melabeli orang muda sebagai yang belum matang, belum bisa apa-apa, belum banyak pengalaman, dan sebagainya.
Hal ini mirip bunyi iklan yang mengatakan, "Yang muda, yang tidak dipercaya". Tapi, singkatnya, yang jelas, betapapun mudanya usia kita, semuanya dipanggil untuk menyingsingkan lengan baju, mulai bekarya, tanpa harus menunggu diri sempurna, punya banyak pengalaman dulu, atau berbagai 'excuse' lainnya.
Empat alasan
Mari belajar dari David J. Schwartz. Dalam bukunya berjudul The Magic of Thinking Big, David Schwartz mengatakan ada empat dalih (excuses) yang umumnya dipakai orang untuk menjadi alasan dirinya tidak sukses atau tidak berani mengambil risiko. Keempat alasan itu adalah kesehatan, intelegensi, usia, dan nasib.
Mari kita perhatikan potongan kisah sukses orang-orang terkenal. Bill Gates lahir pada 1955. Tapi, dalam usia 25 tahun dia sudah memberanikan diri dan berhasil menjalin kerja sama dengan perusahaan raksasa IBM. Sepuluh tahun kemudian di usia yang masih muda juga, Gates mampu meluncurkan Window versi 3.0. Tidak lama kemudian, Gates menjadi seorang jutawan. Hingga sekarang, Bill Gates masuk daftar orang terkaya di dunia.
Masih ada orang muda selain Bill Gates yang mencapai puncak kesuksesan setelah mengalami perjalanan panjang dengan merangkak dari bawah. Bukan lantaran mereka mendapat warisan dari orangtuanya atau KKN, tetapi berkat keberanian, kreativitas, dan kerja keras. Sebut saja Marc Andersen dengan Netscape-nya, termasuk Steve Job dengan kemahiran di bidang IT, juga kita masih bisa menyebut sederet nama besar di dunia lainnya.
Di Indonesia, kita punya beberapa contoh yang bisa menjadi inspirasi dan motivasi meraih prestasi dan kesuksesan di masa muda. Ada Nelson Tansu Ph.D kelahiran 1977 yang menjadi profesor di Lehigh University dengan fokus di bidang semikonduktor.
Dengan belasan penghargaan yang dia terima, oleh sebuah majalah berita terkemuka nasional, dia dinobatkan sebagai salah satu orang yang berpengaruh di Indonesia pada 2006.
Di bidang musik, kita mengenal Anggun C. Sasmi yang sudah go international sejak umur 19 tahun. Enam tahun kemudian namanya melejit ke blantika musik internasional saat lagu Snow on the Sahara menduduki top ten tangga lagu dunia.
Ada juga Anne Ahira, gadis muda kelahiran Bandung yang dikenal sebagai Internet marketer dunia. Saat usianya 25 tahun, penghasilannya sudah ribuan dolar AS. Kelahiran 1979 itu pun sudah dikenal oleh media internasional.
Di dunia film, lahir sineas-sineas muda seperti Riri reza, Mira Lesmana, Nia Dinata yang film-filmnya turut tampil di festival film dunia. Masih banyak yang lain entah di bisnis, politik, media, dan sebagainya. Kita sepakat semua kesuksesan itu bukan hoki semata. Ada kerja keras, kehendak kuat, dan fokus. Sepertinya, orang muda benar-benar sedang merayakan kemudaannya dengan mengukir prestasi. Inilah abad orang muda.
Muda dan sukses
Ada tiga poin penting yang bisa dipelajari dari kisah orang muda sukses tadi. Pertama, keberanian mengambil risiko (risk taker). Kita perlu lepas atau meninggalkan zona kenyamanan (comfort zone) kita.
Anggun meninggalkan kemapanannya untuk bertarung di panggung dunia. Padahal, saat itu di kancah musik nasional, namanya sudah diakui, toh dia tidak cepat berpuas diri. Memang, kita bisa belajar dari Anggun bahwa tidaklah mudah mencoba sesuatu yang baru.
Tapi, masa muda adalah masa yang paling baik untuk menantang dan mengambil risiko dengan melepaskan diri dari zona nyaman kita. Mumpung masih muda, keberanian mengambil risiko adalah kunci. No risk, no gain.
Kedua, fokus pada bidangnya. Rata-rata, mereka yang sukses selalu fokus pada bidangnya. Mereka bukanlah all rounds yang mencoba menguasai semua hal, tapi fokus dan profesional pada kemampuan mereka. Mereka menjadi pakar dan sangat hebat di bidangnya. Mereka membawa personal brand-nya sendiri. Ironisnya, banyak orang muda ingin sukses tetapi tidak membangun personal mastery atau keunggulan pada diri. Banyak yang tidak sabar untuk membangun. Anggun membutuhkan enam tahun sampai lagunya dinikmati dunia.
Ketiga, menciptakan peluang sukses sendiri. Karena mempunyai mimpi, hasrat, dan energi, mereka tiddak menyia-nyiakan peluang. Mereka tidak bermental menunggu. Mereka belajar dari banyak orang dan membangun jejaring dengan siapa saja. Semua hal ini akhirnya menjadi cara memuluskan langkah sukses mereka.
Nah, berbahagialah mereka yang masih muda dan masih berjiwa muda. Semangat muda adalah semangat kehidupan. Meski umur sudah tua, tapi jiwa tidak boleh renta. Kemudaan identik dengan optimisme, gairah, kreativitas, elan vital, dan sebagainya. Benar pendapat Simone de Beauvoir, lawan hidup bukanlah kematian, tetapi kerentaan. So, tetaplah berjiwa muda!

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Meraih dan menikmati sukses

Jumat, 11/05/2007 09:41 WIB

oleh : Anthony Dio Martin
Psikolog, penulis buku best seller EQ Motivator, dan Managing Director HR Excellency

"Banyak orang berhenti hidup walaupun mereka masih terus bekerja. Mereka lupa akan saat-saat penuh pesona yang dibawa setiap hari dan keajaiban hidup yang datang tiap menit." (Paulo Coelho)
Pembaca, apa yang Anda rasakan dalam hati ketika Anda sedang mengalami kesuksesan atau mimpi Anda terwujud? Pasti senang bukan. Nah, meraih kesuksesan dan menikmati kesuksesan ibarat dua sisi mata uang. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Tanpa usaha dan perjuangan meraih sebuah kesuksesan, kenikmatannya sulit dirasakan.
Karena itu, banyak kesuksesan yang diwariskan yang tidak bertahan lama. Namun ingat, perjuangan terus-menerus tanpa menikmati sebuah sukses juga sesuatu yang menyedihkan.Ada seorang bapak yang seumur hidupnya berjuang dan menabung. Sekarang, dalam usia memasuki kepala tujuh, dia tergolek lemah di ranjangnya karena kanker pelan-pelan menggerogoti daya tahan tubuhnya. Dia mulai menyadari perlunya menikmati apa yang dia raih. Dulu, saat masih berjuang, dia menolak makanan enak. Dia berusaha menabung. Bahkan, jarang sekali meluangkan waktu untuk melancong atau sekadar jalan-jalan. Di akhir hidupnya, dia minta dibelikan anggur dan berbagai buah yang enak. Tapi, sayang, dia kini hanya bisa memandangnya. Dia tidak bisa memakannya lagi. Dia harus merasakan sakit yang sedang menggerayangi raganya. Ada sepotong kisah lain. Seorang direktur produksi sebuah pabrik hidup sukses di masa pensiunnya. Karena kelebihannya, di masa pensiun itu pun, dia masih tetap dibutuhkan. Karirnya dibilang sukses dan perusahaan memenuhi semua kebutuhannya. Tapi sayang, dia tidak bahagia. Dia mengaku tidak mampu menikmati semuanya lantaran secara psikis dia menderita oleh persoalan keluarga. Istri dan anaknya kabur meninggalkannya. Padahal, dulu dia berjanji akan memberikan waktu bagi anak dan istrinya. Tapi, sampai hubungan dengan istrinya memburuk, dia masih belum sadar. Dan rasa sesal pun menggantung di hati saat masa pensiun tiba. Dia kesepian.Bicara tentang menikmati sukses, saya teringat sebuah kisah satu lagi yang mungkin Anda pernah mendengar atau membacanya. Konon, ada seorang kaisar berkata kepada seorang pengelana. Kaisar mengatakan, jika dia mampu menjelajahi daerah seluas apa pun, kaisar akan memberikan semua daerah yang sanggup dijelajahinya itu. Sontak, sang pengelana girang. Dia pun bergegas menaiki kuda dan melarikannya dengan sangat cepat untuk menjelajahi daratan seluas mungkin. Dia terus melaju sampai lupa makan dan minum. Bahkan, ketika lapar mengusik perutnya dan haus mengusik kerongkongannya, dia tidak peduli. Yang ada di pikirannya cuma satu, menjelajahi daratan seluas-luasnya. Akhirnya, tibalah dia pada sebuah tempat setelah berhasil menjelajahi daerah yang sangat luas. Tapi, dia sudah sangat kelelahan dan hampir mati. Lalu, dia sadar. "Buat apa aku paksa diri begitu keras untuk menguasai daerah seluas ini. Tapi, kini aku nyaris mati. Dan aku hanya membutuhkan tanah seluas dua meter persegi untuk menguburkan jasadku sendiri," katanya.Dia menyesali usaha yang membuatnya tidak bisa menikmati buahnya. Akhirnya, sang pengelana itu pun mati berbalut kesunyian. Nah, cerita-cerita itu mirip dengan perjalanan kesuksesan kita. Di zaman sekarang, banyak orang memaksakan diri mengumpulkan uang, popularitas, materi, penghargaan, pangkat, dan posisi. Tapi, di tahap akhir, yang ada hanyalah ratapan batin yang tak pernah puas dan mau meraih lebih banyak lagi. Mereka bukan lagi berjuang meraih kesuksesan, tetapi kecanduan untuk sukses. Sampai akhirnya mereka lupa untuk menikmati hidup yang bahagia. KehampaanHarold Kushner, seorang filosof religius tersohor, mengatakan dalam bukunya Melimpah Namun Gersang (Kanisius), sukses bukanlah sukses kalau membuat kita menderita. Kenyataannya, banyak orang mencapai kesuksesan tetapi tidak mampu menikmatinya. Yang ada hanyalah kehampaan. Itulah dilema besar manusia kontemporer. Di satu sisi, kita dipacu untuk semakin keras berusaha, meningkat dalam karir, menambah harta dan tabungan. Tapi, di sisi lain, kalau tidak disadari, kita bisa lupa untuk menikmati, mencecap kebahagiaan yang menyertainya.Banyak di antara kita yang kecanduan sukses. Bahkan menganggap menikmati sukses sebagai suatu dosa atau kebiasaan buruk yang hanya membuatnya malas. Akibatnya, kesuksesan mereka lebih banyak dinikmati oleh temannya, keluarga besar, sahabat, maupun orang lain yang sebenarnya memperalatnya. Sungguh malang manusia seperti ini.Untuk terhindar dari jebakan sukses ini, Anda sesekali meluangkan waktu untuk sebuah jeda. Coba Anda duduk santai, merenung, mensyukuri jalan-jalan sukses yang sudah Anda lalui, dan ucapkan terimakasih pada Sang Pemberi Hidup. Dengarkanlah dengusan nafas Anda, nafas yang setia menemani Anda meraih sukses. Apa gunannya seorang memperoleh seluruh dunia, jika tidak bahagia? Tantangan dari tulisan ini bagi Anda hari ini adalah menanyakan kepada diri Anda sendiri, apakah perencanaan Anda dalam tahun ini untuk merayakan dan menikmati kesuksesan yang telah Anda raih selama ini, khususnya bersama orang-orang yang penting dalam hidup Anda?


BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Ribuan Warga Angke Mengungsi

Senin, 21 Mei 2007

Bantuan pemerintah belum tiba.

JAKARTA -- Ribuan warga Muara Angke sejak Sabtu lalu mengungsi ke berbagai lokasi karena sekitar 3.000 rumah mereka di pantai utara Jakarta itu terendam air laut. "Ini pasang tertinggi selama tiga tahun terakhir," kata Irvan Amtha, Kepala Suku Dinas Pekerjaan Umum Tata Air Jakarta Utara, kemarin.
Air limpasan pasang laut menggenangi 23 wilayah rukun tetangga di Kelurahan Pluit, Kecamatan Penjaringan, sejak Kamis malam. Puncaknya terjadi Sabtu malam. Di wilayah Rukun Warga 1, misalnya, ketinggian air 1-1,78 meter. "Air naik cepat, dalam 15 menit sudah sedalam satu meteran," kata Dudung, warga RT 4 RW 1. Warga terpaksa mencari tempat berlindung karena khawatir gelombang kembali menerjang. Sebagian warga menginap di masjid atau musala. Warga RW 1, misalnya, mengungsi ke Masjid Taufiq al-Mubbarok. "Di sini hanya tertampung 400 jiwa," kata N. Sanawing, wakil ketua RW. Padahal di wilayah itu tinggal lebih dari 4.200 jiwa. Warga pun menyulap Masjid Al-Mubbarok menjadi dapur umum. Puluhan warga tidur bergeletakan begitu saja di pelataran masjid. Di sudut pekarangan, petugas Puskesmas Pluit menggelar pengobatan seadanya. "Banyak yang gatal-gatal dan demam. Puskesmas tak berfungsi karena kebanjiran," kata Elon Sahlan, seorang petugas. Selain puskesmas, sejumlah sekolah tenggelam. Hingga kemarin, menurut warga, belum ada bantuan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Untuk bertahan, warga mengandalkan mi instan, roti, dan selimut kiriman Palang Merah Indonesia serta sejumlah organisasi massa. "Persediaan cukup untuk dua hari. Tapi pengungsi bertambah tiap saat," ujar Sanawing. Kemarin air laut memang mulai turun, tapi di Muara Angke air menyusut lebih lamban ketimbang siput. Dua unit pompa air berkapasitas 1 meter kubik per detik pun tak membantu karena aliran listrik mati. Badan Meteorologi dan Geofisika memperkirakan gelombang pasang masih mengancam wilayah pantai di Indonesia hingga beberapa hari mendatang. "Masih berbahaya, tapi kecenderungannya turun," kata Kukuh Ribudianto, petugas piket BMG.Menurut Kukuh, ketinggian gelombang pasang bervariasi. Di Samudra Hindia, ketinggian gelombang bisa 4 meter. Di jalur barat Aceh sampai Bengkulu, tinggi gelombangnya 0,5-2 meter. Di Laut Jawa, dari Bawean hingga perairan Masalembo, tinggi gelombang 2-2,5 meter. Sedangkan di selatan Jawa, tinggi gelombang 0,75-2 meter. Di wilayah timur Indonesia, gelombang setinggi 2-2,5 meter berpeluang melanda Laut Banda, Laut Arafura, dan Laut Timor. Karena cuaca belum menentu, nelayan di berbagai daerah tak berani melaut. Mereka memilih memperbaiki peralatan ketimbang mengadu nasib. "Kami takut gelombang muncul lebih besar, seperti tsunami dulu," kata Agus, nelayan di Pantai Popoh, Tulungagung, Jawa Timur. FERY FIRMANSYAH SOFIAN DWIJO U MAKSUM

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

PPATK Telusuri Aliran Dana Asian Agri

Senin, 21 Mei 2007

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sedang menelusuri aliran dana Asian Agri Group sehubungan dengan terkuaknya kasus penggelapan pajak kelompok usaha itu.

JAKARTA -- Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sedang menelusuri aliran dana Asian Agri Group sehubungan dengan terkuaknya kasus penggelapan pajak kelompok usaha itu. Namun, menurut Kepala PPATK Yunus Husein, penelusuran itu belum rampung.
"Masih dalam proses. Agak susah karena informasinya harus dari luar (negara lain)," kata Yunus kepada Tempo, Jumat lalu.Dia menambahkan, PPATK juga telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Pajak dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Soal ada-tidaknya dugaan pencucian uang, Direktur Jenderal Pajak Darmin Nasution tidak bisa memastikan adanya unsur tindak pidana tersebut. "Kewenangan itu ada di PPATK. Kalau PPATK melihat adanya dugaan pidana pencucian uang, mereka bisa berkoordinasi dengan penegak hukum yang berwenang," kata Darmin pada kesempatan terpisah, Rabu pekan lalu. Selain dengan PPATK, menurut Darmin, aparat pajak sejak awal bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi dan kepolisian. Sebab, aparat tak bisa menangani wilayah-wilayah tertentu, seperti penyidikan ke kantor grup usaha milik Sukanto Tanoto di Hong Kong. Aparat pajak belum memiliki mutual legal assistance dengan negara itu.Direktorat Jenderal Pajak pada Senin pekan lalu telah menetapkan lima anggota direksi Asian Agri Group berinisial LA, WT, ST, TBK, dan AN sebagai tersangka penggelapan pajak. Asian Agri adalah induk usaha terbesar kedua di Grup Raja Garuda Mas, perusahaan milik Sukanto Tanoto, orang terkaya di Indonesia pada 2006 versi majalah Forbes. Kerugian negara untuk sementara diperkirakan mencapai Rp 786,3 miliar.Ketika dimintai konfirmasi tadi malam, Corporate Communication Manager Asian Agri Rudi Victor Sinaga mengatakan manajemen tengah menyiapkan tim hukum dari kalangan internal perusahaan dan swasta untuk mendampingi anggota direksi perusahaan yang telah ditetapkan menjadi tersangka penggelapan pajak oleh Direktorat Jenderal Pajak. Menurut Rudi, Asian Agri tetap menganggap kasus ini sebagai kasus perbedaan perhitungan pengisian surat pemberitahuan tahunan pajak. "Perhitungan pajak itu kan bisa lebih atau kurang. Itu lumrah saja. Kalau ada yang kurang bayar, kan bisa dibicarakan," katanya. Sewaktu dikemukakan bahwa PPATK tengah menelusuri aliran dana perusahaan, Rudi memilih tidak berkomentar. "Saya belum tahu. Saya baru tahu soal pemeriksaan oleh pajak saja. Kami kooperatif saja. Kalau mereka butuh data, ya, kami suplai," kata dia.
AGOENG WIJAYA AGUS SUPRIYANTO TOMMY ARYANTO


BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Nasib Uang Tommy Diputuskan Lusa

Senin, 21 Mei 2007

Kejaksaan minta agar aliran uang diungkap.

JAKARTA -- Nasib duit Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto yang tersimpan di Banque Nationale de Paris (BNP) Paribas cabang Guernsey akan diputuskan oleh pengadilan setempat Rabu pekan ini.Ini keputusan terbaru dari serangkaian sidang permintaan pembekuan uang Tommy oleh Kejaksaan Agung atas nama pemerintah Indonesia di pengadilan Guernsey.
"Sampai putusan Rabu nanti, uang Tommy tetap dibekukan," ujar Direktur Perdata Kejaksaan Agung Yoseph Suardi Sabda kepada Tempo kemarin.Kejaksaan minta agar dana Tommy dibekukan setelah ada tawaran dari pengadilan Guernsey supaya mengajukan gugatan intervensi. Sebelumnya, Tommy menggugat BNP Paribas karena pencairan uangnya, yang disimpan atas nama Garnet Investment Limited, ditolak. Alasan BNP Paribas, Tommy diduga terlibat kasus hukum di Indonesia. Kejaksaan Agung kemudian mengajukan dua permintaan dalam sidang pertama di negara persemakmuran Inggris itu. Pertama, permintaan untuk menjadi pihak ketiga dalam sidang gugatan Garnet ke BNP. Kedua, permintaan pembekuan sementara uang Tommy itu. Garnet sempat minta agar pembekuan uang Tommy dicabut. Namun, pada 8 Maret lalu, hakim pengadilan Guernsey memutuskan memperpanjang permintaan pembekuan sementara itu. Pembahasan mengenai dibekukan atau tidaknya uang Tommy di BNP merupakan satu di antara lima agenda sidang pengujian silang pekan lalu. Namun, ihwal halal atau tidaknya uang Tommy tetap tidak terjawab oleh keterangan tertulis Direktur Garnet. Kejaksaan Agung lantas meminta diadakan pengungkapan aliran dana itu secara menyeluruh. Permintaan ini belum dikabulkan oleh pengadilan Guernsey. "Dikabulkan-tidaknya full disclosure akan diputus Rabu ini," ujar Yoseph. Dalam persidangan pekan lalu, menurut Yoseph, perdebatan mengenai wewenang Kejaksaan Agung melakukan gugatan intervensi cukup alot. Pihak Garnet dan pemerintah sama-sama mendasarkan argumentasinya pada hukum Indonesia. "Perdebatan ini berlangsung tiga jam." Hakim kemudian memutuskan menggunakan hukum Guernsey, di mana Indonesia bisa diwakili oleh duta besarnya, yaitu Raden Marty Muliana Natalegawa sebagai Duta Besar RI untuk Inggris. Marty Natalegawa membenarkan adanya dua hal yang akan diputuskan hakim dalam sidang gugatan intervensi. "Pertama, soal permintaan pembekuan dana Tommy. Dan kedua, permintaan soal >full disclosure," ujarnya. Pengacara Tommy Soeharto, O.C. Kaligis, mengatakan pemerintah tidak dapat membuktikan duit Tommy itu diperoleh atas kebijakan khusus dari Soeharto, ayahnya, saat menjadi presiden. Menurut Kaligis, kejaksaan pernah 26 kali mengusut duit Soeharto pada 1998. "Kejaksaan menyatakan tak ada harta Soeharto di luar negeri. Jadi pemerintah ini cuma hantam kromo," ujarnya.
FANNY FEBIANA KARTIKA CANDRA PURWANTO


BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Menyoal angka PDB

Senin, 21/05/2007

Pekan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan PDB Indonesia untuk kuartal I/2007. Pertumbuhan ekonomi secara riil mencapai 6%, mendekati proyeksi pemerintah pada APBN 2007, sedikit lebih tinggi dari prediksi Bank Indonesia. Sebagaimana biasanya, angka semacam ini menimbulkan pro-kontra. Sebagian kalangan menyatakan angka PDB itu tidak memiliki dasar pertumbuhan yang kuat, sementara ada pihak yang menyatakan skeptis dengan angka yang dianggap terlalu tinggi itu. Angka PDB tersebut juga menarik dilihat dari sisi yang lain.
Majalah Economist dalam laporan khususnya akhir 2006 memprediksi perekonomian Indonesia akan menghasilkan PDB sebesar US$396 miliar sepanjang 2007. Dengan angka ini, majalah itu menempatkan Indonesia di urutan perekonomian nomor 21 dunia, persis di bawah Taiwan yang diprediksi menghasilkan PDB sebesar US$398 miliar. Dengan PDB berdasarkan harga yang berlaku pada kuartal I/2007 sebesar Rp915 triliun, maka angka tersebut dalam nilai tukar pasar diterjemahkan menjadi lebih dari US$100 miliar, yaitu jika melihat pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah sepanjang kuartal pertama. Ini berarti pencapaian PDB di atas US$400 miliar pada 2007 bukan lagi sesuatu yang mustahil dengan catatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah tidak berbeda jauh dari kisaran Rp9.000. Kalau ini yang terjadi, maka pada 2007 inipun Indonesia bakal merangsek ke atas lagi dan akan melampaui Taiwan menjadi kekuatan ekonomi nomor 20 di dunia.Riilkah PDB ini? Statistik PDB Indonesia secara periodik dilakukan peninjauan kembali mengingat berbagai perubahan yang terjadi secara mendasar pada periode sebelumnya. Karena itu, kita mengenal PDB tahun dasar 1993 yang kemudian diganti menjadi tahun dasar 2000 saat akhir pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Setiap kali terjadi perubahan tahun dasar, BPS selalu melakukan revisi ke atas perhitungan PDB yang ada. Revisi tersebut kadang cukup signifikan, sehingga sebagaimana terjadi pada perubahan tahun dasar 2000, pertumbuhan ekonomi sebelumnya kemudian juga direvisi ke atas. Ini berarti angka PDB tersebut bukan hanya riil, tetapi bahkan selalu terjadi keadaan riil yang di atas pelaporan statistiknya (under reported). Pengalaman ini menjawab keraguan banyak pihak bahwa BPS melakukan langkah kosmetik untuk "menyenangkan" pemerintah dengan melaporkan angka PDB melebihi yang seharusnya. Pengalaman terjadinya 'under-reportation' itu tampaknya terjadi lagi secara agak mencolok dalam beberapa tahun terakhir ini. Dalam hal ini, berbeda dengan revisi pada 2000 yang lebih banyak memasukkan sektor informal ke dalam perhitungan PDB, maka pelaporan yang lebih rendah kali ini justru terjadi di sektor yang sebagian besar adalah formal. Dalam hal ini, landasan yang saya pergunakan untuk menandai terjadinya pelaporan yang lebih rendah itu dilakukan hanya dengan membandingkan statistik PDB dengan statistik ekspor. Data PDB diperoleh dari survei BPS, sedangkan data ekspor jauh lebih kuat lagi, karena dikumpulkan dari transaksi langsung dengan menggunakan dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB) yang ada di Ditjen? Bea dan Cukai. Kedua data itu bisa diperoleh dalam Statistik Ekonomi Keuangan Bank Indonesia.Titik tolak dari penelitian yang saya lakukan itu sebetulnya berasal dari keingintahuan mengenai 'boom' yang terjadi di sektor perkebunan. Pembangunan perkebunan secara besar-besaran, terutama untuk kelapa sawit, di Sumatra dan Kalimantan yang banyak dibiayai perbankan akhirnya telah menghasilkan produksi yang meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir ini. Namun, perkembangan tersebut ditangkap statistik PDB dan ekspor secara sangat berbeda. Kontribusi sektor perkebunan dalam PDB beberapa tahun tarakhir ini menunjukkan peningkatan, namun dalam level yang cukup rendah. Atas dasar harga yang berlaku, PDB sektor perkebunan pada 2004, 2005, dan 2006 adalah Rp50,3 triliun, Rp56,4 triliun, dan Rp62,6 triliun. Artinya, pertumbuhan secara nominal dari sektor tersebut berkisar sedikit di atas 10%. Secara riil, pertumbuhan sektor tersebut jika diukur dengan PDB harga konstan tahun dasar 2000 hanya sekitar 3% per tahun selama dua tahun terakhir ini.Sementara itu, nilai ekspor hasil perkebunan menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Pada 2004, ekspor hasil perkebunan mencapai? US$7.829 juta. Angka ini hanya berdasarkan penjumlahan produk yang berada di bawah SITC No. 07 (kopi, teh, cokelat, dan rempah-rempah), No. 12 (tembakau dan olahan tembakau), 23 (karet mentah, sintetis, dan pugaran), dan 42 (minyak dan lemak nabati). Pada 2005, angka ekspor itu meningkat menjadi US$8.900 juta, kemudian naik lagi tahun lalu menjadi US$12.414 juta. Produk tersebut meskipun melalui proses pengolahan, nilai tambahnya sebagian terbesar ada di sektor perkebunan. Saya bahkan meyakini bahwa BPS pun tidak mungkin melakukan pemisahan secara akurat bagian-bagian nilai tambah produk tersebut pada berbagai sektor ekonomi.Dengan membandingkan kedua angka tersebut, hasil ekspor perkebunan dalam rupiah (dengan asumsi nilai tukar yang dipergunakan adalah angka akhir tahun), maka pada 2004 ekspor perkebunan adalah Rp72,7 triliun. Pada 2005, angka tersebut meningkat menjadi Rp87,5 triliun, sedangkan tahun lalu hasilnya sebesar Rp112 triliun. Pada 2005, angka tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 20,3%, sedangkan tahun lalu naik 28%. Peningkatan tersebut jauh melampaui pertumbuhan PDB sektor perkebunan di atas.Sebagaimana diketahui, sebagian dari hasil perkebunan itu? diekspor, sedangkan sebagian lagi dikonsumsi di dalam negeri. Pada 2005, sebanyak 11,2 juta ton CPO diekspor sedangkan yang 4 juta ton dikonsumsi sendiri.? Jika rasio ini yang dipergunakan, maka produksi perkebunan berdasarkan hasil ekspor tersebut mencapai Rp98,6 triliun pada 2004. Angka ini meningkat menjadi Rp118,75 triliun pada 2005. Tahun lalu, angka ini melejit menjadi Rp152 triliun. Dengan perkembangan tersebut, kita melihat bahwa sektor perkebunan dalam perhitungan PDB memiliki kemungkinan yang sangat besar terjadinya 'under reported'. Angka PDB yang sebetulnya bukan tidak mungkin dua kali lipat dibandingkan dengan yang tertera dalam statistik PDB yang ada. Makin lebarLebih mencengangkan lagi, perbedaan angka tersebut makin lama makin lebar. Jika pada 2004 perbedaannya sebesar Rp48,3 triliun, maka angka tersebut meningkat menjadi Rp52,3 triliun pada 2005, dan naik lagi menjadi Rp90 triliun tahun lalu.? Perhitungan semacam ini, sudah tentu, harus diverifikasi lagi. Namun, saya meyakini bahwa perhitungan itu memiliki dasar yang kuat untuk dipergunakan sebagai titik tolak pendekatan bagi langkah revisi angka PDB. Perhitungan semacam ini juga perlu dilakukan pada PDB pertambangan nonmigas (yang juga understated) maupun di sektor lainnya. Jika ini semua dilakukan, saya percaya bahwa PDB Indonesia pada 2006 secara nominal tidak sebesar Rp3.338 triliun lagi, tetapi bisa lebih dari Rp3.500 triliun. Semoga hal ini dapat dilihat BPS untuk perbaikan ke depan.
Oleh Cyrillus Harinowo

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Djody siapkan US$1,6 miliar untuk membeli Telkomsel

Senin, 21/05/2007

JAKARTA: Setiawan Djody melalui Grup Setdco menyiapkan dana US$1,6 miliar untuk membeli 35% saham PT Telkomsel dari Singapore Telecom Mobile Pte Ltd.Chairperson Grup Setdco Setiawan Djody mengatakan pihaknya telah mengirim proposal terbuka secara kolektif di antaranya kepada induk SingTel yaitu Temasek Holding. Menurut Djody, rencana pembelian saham operator seluler terbesar Indonesia itu sebesar US$1,6 miliar yang 70% akan didanai dari pinjaman dan 30% dana internal. Setdco menyiapkan US$560 juta, sedangkan sisanya akan diperoleh dengan dukungan dana dari Timur Tengah, Jepang, AS maupun sejumlah bank investasi lainnya.
"Angka itu sudah dihitung dengan interest yang tinggi dan kami telah kirimkan proposal terbuka ke pimpinan di Singapura dan manajemen Telkomsel sudah mengetahuinya," ujarnya, kemarin.Djody belum bersedia mengungkapkan investment bank yang digandeng Setdco karena terikat kesepakatan, namun yang jelas tidak melibatkan bank asal Singapura. Dia juga membantah memiliki keterkaitan dengan langkah Grup Altimo, asal Rusia, yang juga berkeinginan membeli saham SingTel di Telkomsel.? Meskipun belum mendapatkan tanggapan atas proposal itu, rencana pembelian itu ditargetkan dapat selesai akhir tahun ini. "Mekanismenya sekaligus dan win-win solution," tandasnya Jika 35% saham itu berhasil dibeli, 12% di antaranya akan ditawarkan kepada pemerintah Indonesia jika pemerintah ingin membelinya. Dia juga membuka kemungkinan untuk menawarkan saham perdana ke publik bagi Telkomsel apabila rencana ini terwujud.Direktur Business Development Setdco Desra Ghazfan mengatakan perseroan membuka kemungkinan negosiasi harga Telkomsel dilakukan dengan mengacu pada penawaran harga tersebut."Level harga US$1,6 miliar mengacu pada harga pembelian 35% saham Telkomsel oleh SingTel pada 2001 yang mencapai total US$1,02 miliar. Kalau kami hitung net present value dengan asumsi tingkat bunga 6% maka mulai 2001 sampai 2007 angka investasi itu sudah mencapai US$1,6 miliar," ujarnya.Dia memaparkan semula saham Telkomsel dimiliki oleh Telkom sebesar 77,7% sedangkan 22,3% dimiliki oleh Koninklijke PTT Nederland (KPN) Mobile. Kepemilikan saham 22,3% ini mencerminkan representasi KPN Internasional sebesar 17,3% dan Megacell Indonesia sebesar 5%. Megacell, tutur dia, dimiliki oleh Setdco Group 100%. Namun, pada 2000 KPN mengalami kebangkrutan sehingga saham tersebut dilepaskan kepada SingTel. (01)
Oleh Munir Haikal & Roni Yunianto
Bisnis Indonesia

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Indeks berpeluang tembus 2.100 pekan ini

Senin, 21/05/2007

JAKARTA: Aliran modal asing yang masuk ke portofolio saham domestik masih kencang, indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan bisa menembus level 2.100 pada pekan ini.Sementara itu, harga obligasi diperkirakan bakal turun di awal pekan menjelang pelaksanaan lelang dua seri surat utang negara (SUN) senilai Rp3 triliun oleh Bank Indonesia pada Selasa.
Head of Research Henan Putihrai Prayoga Ahmadi Triyono mengatakan siraman dana asing dari luar masih besar, sehingga pasar masih menunjukkan sinyal positif dan indeks mampu menanjak lebih tinggi meski aksi ambil untung membatasi pergerakannya.Pada penutupan perdagangan Rabu sore, IHSG melonjak 25,98 poin hingga mencetak rekor tertinggi baru di 2.063,76. Ini merupakan level psikologis kedua setelah indeks menembus level 2.000. Level tantangan berikutnya ada di 2.100.Dengan posisi yang sudah tinggi, indeks rawan terkoreksi. Para pemodal diperkirakan mulai memetik keuntungan dari hasil investasinya di portofolio saham.Prayoga memperkirakan indeks kembali naik pada pekan ini hingga melewati level 2.100. "Secara teknikal indeks akan capai posisi tertinggi di 2.100 pada pekan depan [pekan ini]," kata dia pekan lalu.Untuk prediksi harian dia memperkirakan IHSG bergerak pada kisaran level support di 2.024-2.044 dan dengan level resistan berada di 2.074-2.084.Kondisi fundamentalDia optimistis indeks bisa naik lebih tinggi karena kondisi fundamental sejumlah perusahaan saat ini sedang bagus. Banyak perusahaan memutuskan untuk menerbitkan obligasi dengan biaya pendanaan yang lebih murah. Selain itu tingkat keuntungan emiten juga semakin baik.Secara terpisah, analis obligasi Mandiri Sekuritas Handy Yunianto memperkirakan harga obligasi negara akan turun di awal pekan menjelang lelang SUN seri FR0042 dan FR0045 besok.SUN bertingkat bunga tetap FR0045 yang bakal jatuh tempo pada 15 Mei 2037, kata Handy, merupakan obligasi dengan tenor paling panjang yang pernah diterbitkan pemerintah. FR0042 akan jatuh tempo pada 15 Juli 2027."Dengan emisi SUN bertenor panjang, pemerintah mempunyai kesempatan bagus untuk memberikan bunga yang lebih murah. Apalagi likuiditas di pasar masih tinggi," tuturnya.Saat ini, menurut dia, imbal hasil (yield) SUN sudah rendah. Berdasarkan data Mandiri Sekuritas Government Index, yield SUN kini sebesar 8,97% menurun dibandingkan awal tahun yang 9,7%. (pudji.lestari@ bisnis.co.id)
Oleh Pudji Lestari
Bisnis Indonesia

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

PTPN & swasta belum realisasi pasok CPO

Senin, 21/05/2007

JAKARTA: Sejumlah perusahaan minyak sawit berskala besar diketahui belum merealisasikan komitmen pasok crude palm oil (CPO) ke prosesor dalam program stabilisasi harga (PSH) minyak goreng hingga 16 Mei. "Cargill, Salim Group, Makin [Gudang Garam Group], Bakri Group, dan empat PT Perkebunan Nusantara [PTPN] hingga Rabu pekan lalu belum merealisasikan komitmen PSH minyak goreng ke wilayah yang sudah ditentukan," ungkap sumber Bisnis, akhir pekan lalu.
Menurut sumber itu, komitmen pasok PSH minyak goreng yang terealisasi hingga akhir pekan lalu (19 Mei) baru 23% atau sekitar 23.000 ton dari total yang ditargetkan sebesar 100.000 ton selama Mei. Jumlah ini merupakan kesepakatan saat rapat dengan Menperin.Bila mengacu arahan Wapres Jusuf Kalla, Gapki diminta? menambah alokasi pasok minyak goreng menjadi 150.000 ton, maka alokasi di lima daerah OP [sebelum PSH]? bertambah 50%.? Namun, hingga akhir pekan lalu penggelontoran minyak goreng ke pasar belum sesuai yang ditargetkan rapat evaluasi di Depdag 14 Mei. "Rencananya besok (21 Mei) digelar rapat evaluasi PSH minyak goreng di Depdag yang dihadiri oleh Gapki, GIMNI dan AIMMI."Menurut sumber Bisnis lainnya, belum terealisasinya komitment pasok CPO beberapa perusahaan besar kepada prosesor itu disebut-sebut masih menunggu rampungnya 'payung hukum' yang disiapkan pemerintah.Ketika dimintai konfirmasi soal PTPN yang belum merealisasikan pasok, Kepala Bagian Pengolahan PTPN IV Manilani Angkat, mengatakan manajemen telah memasok CPO. Namun, dia tidak mengetahui jumlah pasok CPO yang digelontorkan ke prosesor, dengan dalih urusan itu ditangani Kantor Pemasaran Bersama (KPB) PTPN. Kepala KPB Bagas Angkasa saat dikonfirmasi, ponselnya tidak aktif. Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI)? mengatakan PTPN mulai 16 Mei memasok CPO ke prosesor. "Tapi jumlah dan PTPN mana saya tidak tahu."Sumber Bisnis lainnya mengungkapkan Grup Salim pada 18 Mei mulai merealisasikan PSH sebesar 300 ton dari 2.500 ton.?? Namun, menurut Direktur Grup Salim Franciscus Welirang, kelompok usahanya mendapat penugasan memasok 5.000 ton CPO selama sebulan untuk OP minyak goreng. Tambah pasokMeski beberapa produsen masih seret dalam menggelontorkan CPO, Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun mengatakan produsen lainnya justru menambah pasok. "Perusahaan itu antara lain Sinar Mas dan Astra telah menambahkan pasok 3.000 ton."Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP), Deptan, Djoko Said Dhamardjati, mengusulkan direksi PTPN yang bergerak dalam perkebunan kelapa sawit diganti jika tidak mau menggelontorkan CPO untuk PSH minyak goreng."Saya kira direksinya [PTPN] bisa diganti jika mbalelo. Mereka kan sudah komit di depan Wapres untuk ikut menjalankan program itu."Sementara itu, Derom mengatakan Malaysia mulai Juni hingga medio 2008 menerapkan Cess (semacam pungutan) atas tandan buah segar (TBS) sawit. Dana itu digunakan untuk membiayai subsidi kepada prosesor minyak goreng. "Jika harga CPO berada di? kisaran RM1.500-RM1.600 per ton, pengusaha dikenakan pungutan RM2 per ton TBS." (m02, Yeni H. Simanjuntak, Master Sihotang, Bambang Supriyanto)
neneng.herbawati@bisnis.co.id
Oleh Neneng Herbawati
Bisnis Indonesia


BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Australia Tangkap 49 Nelayan RI

Senin, 21 Mei 2007

Sudah empat hari tak ada ada pemberitahuan resmi.

CANBERRA -- Menteri Kehakiman Australia, David Johnston, seperti dikutip kantor berita DPA dari Sydney, Ahad (20/5) mengungkapkan, 49 nelayan Indonesia ditangkap di perairan utara Australia. Mereka kemudian dibawa ke Darwin dengan kapal ACV Triton yang memiliki sel penahanan bagi para nelayan maupun pencari suaka yang memasuki perairan negara benua itu secara tidak sah.

Sementara berita Radio Australia menyebutkan asal muasal 49 nelayan itu. Mereka disergap kapal bea cukai di atas enam kapal penangkap ikan pada 16 Mei lalu di perairan dekat Taman Laut Ashmore di Laut Timor. Sebelumnya, mereka tertangkap layar pesawat pengintai pantai.
Seluruh 49 nelayan Indonesia itu menghadapi dakwaan pencurian ikan dari Otoritas Pengelola Perikanan Australia. Mereka pun terancam kehilangan enam kapal yang digunakan ssat ditangkap aparat Australia. Itu karena, Australia memiliki kebijakan membakar kapal-kapal nelayan asing jika mereka dinyatakan bersalah.
Menurut David Johnson, operasi tersebut menunjukkan hasil usaha pemerintahnya dalam menghadapi pencurian ikan.
Tak ada notifikasiNamun, Pemerintah RI, baik melalui KBRI Canberra maupun Konsulat RI di Darwin, hingga tadi malam, belum menerima pemberitahuan atau ''notifikasi penangkapan'' (notification of apprehension) dari Pemerintah Australia. ''Yang sudah kita dapat notifikasi penangkapan antara lain adalah dua nelayan Pulau Rote. Tapi soal 49 nelayan kita yang ditangkap, kita belum menerima notifikasi penangkapannya dari otoritas Australia,'' kata Sekretaris I/Konsuler KBRI Canberra, Meri Binsar Simorangkir, Ahad (21/5).
Selama ini, menurut Binsar, notifikasi penangkapan yang sudah menjadi prosedur yang disepakati pemerintah kedua negara itu berisikan nama kapal dan jumlah awak kapal yang ditahan. Sedangkan nama-nama awak maupun titik koordinat penangkapan tidak pernah disebutkan dalam notifikasi itu.
''Padahal kita juga memerlukan nama-nama nelayan kita yang ditahan itu, karena ini penting untuk perlindungan kekonsuleran. Lalu soal titik penangkapan kapal atau perahu nelayan, supaya kita bisa melakukan verifikasi bersama apakah titik penangkapan itu benar-benar berada di perairan Australia atau justru sebaliknya masih berada di perairan kita. Ini penting untuk pembelaan diri di pengadilan,'' tutur Binsar.
Pemerintah Australia, kata dia, selalu berlindung di balik Undang Undang Privasi terkait dengan ketidakmauan mereka memberitahu nama-nama nelayan Indonesia jika ada penangkapan.
Sekretaris I/Pensosbud Konsulat RI Darwin, Buchari Hasnil Bakar, yang dihubungi terpisah, juga mengaku belum menerima informasi resmi apa pun dari otoritas Australia. ''Sampai detik ini, kita tidak menerima notifikasi apa pun,'' katanya. (zam/ant )

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Lukisan Wajah Preman Ekonomi

Senin, 21 Mei 2007

Skenario jahat telah dijalankankan kapitalis untuk menguasai dunia. Lewat buku The Confession of an Economic Hit Man, John Perkins mengungkap skenario itu. Berikut adalah bagian pertama dari dua tulisan tentang proyek lanjutan pengungkapan kejahatan tersebut.
Kepentingan siapa yang kita layani? Kepetingan bangsa sendiri atau kepentingan negara-negara kaya dengan semangat penjajahan ekonomi kapitalismenya? Apa peran kita di dalam kepentingan itu?

Pertanyaan-pertanyaan macam inilah yang mencuat dalam buku kumpulan karangan yang berjudul A Game As Old As Empire (AGAOAE), terbitan Berrett-Koehler, 2007. AGAOAE adalah buku lanjutan dari buku The Confession of an Economic Hit Man, yang ditulis John Perkins, dan diterbitkan oleh penerbit yang sama, tiga tahun lalu.
Bedanya, AGAOAE berkisah dari berbagai sudut pandang penulisnya. Penulisnya pun beragam. Ada jurnalis investigatif, ada mantan economic hit man (EHM alias preman ekonomi), ada orang dalam Bank Dunia, dan berbagai pihak yang mengetahui sepak terjang pasukan intelektual yang digaji mahal untuk mengisap sumber daya ekonomi negara-negara miskin. Intinya satu, siapa saja, secara sadar atau tidak sadar, bisa berperan menjadi EHM.
Steven Hiatt, penyunting AGAOAE, memberi contoh. Karyawan bank di London bekerja setiap hari mengurusi administrasi setoran ke sejumlah rekening di luar negeri. Mereka masuk kategori EHM, bila ternyata rekening yang diproses adalah duit hasil cuci uang bandar narkoba kelas kakap atau perusahaan multinasional yang ingin menghindari pajak.
Atau, tim Dana Moneter Internasional, alias IMF, yang tiba di suatu negara di Afrika untuk menyeret negara itu ke dalam jurang kecanduan utang luar negeri. Tim tersebut memberi ''solusi'' dengan mengambil utang kepada IMF dengan memotong dulu dana pendidikan negara yang bersangkutan atau membuka pintu perdagangan bagi produk-produk AS dan Eropa. Tim ini sudah barang tentu merupakan EHM tulen. Konsultan asing maupun lokal yang ikut menulis aturan undang-undang di Irak, juga bisa masuk ke kategori EHM bila kebijakan yang mereka hasilkan justru mengeksploitasi ekonomi negara tersebut untuk kepentingan AS dan Eropa.
''Saat ini, 'permainan' yang dilakukan EHM lebih kompleks, ia menularkan wabah korupsi lebih ganas, operasi yang dilakukannya lebih mengakar ke ekonomi dan politik negara korbannya. Banyak sekali tipe EHM dan peran yang mereka mainkan jauh lebih beragam,'' kata Perkins dalam kata sambutannya di AGAOAE. Pasukan EHM menggunakan beribu akal untuk menjebak mangsanya. Mereka memanfaatkan aturan hukum yang legal, namun memiliki sejumlah celah, yang tetap sah di mata hukum negara korbannya. Hasilnya triliunan dolar AS pun masuk ke segelintir orang di AS atau di Eropa.
EHM menggunakan wahana Bank Dunia, US Agency for International Development (USAID), atau lembaga donor lainnya. Mereka membuat negara-negara yang menjadi mangsanya melepas kendali penuh atas sumber daya alamnya. Mereka memanipulasi laporan keuangan suatu negara, mengatur pemilu, menyogok, menyiksa, menyodorkan seks kepada pejabat hidung belang, sampai membunuh pejabat yang tidak setuju.
Intrik dan konspirasi yang disajikan oleh dua seri buku EHM memang membuka mata pembacanya lebar-lebar. Perasaan pembacanya menjadi bertanya-tanya. Betulkah apa yang diungkap John Perkins dan koleganya? Atau, itu hanya rekaan belaka.
Perkins mengaku banyak mendapat komentar dari pembacanya, baik itu pro atau kontra. ''Mayoritas mereka mendukung dan mempercayai apa yang saya ceritakan,'' kata Perkins kepada Republika, lewat surat elektronik.
Nah, usul menerbitkan AGAOAE muncul oleh banyaknya reaksi positif ini. ''Kalau hanya dengan satu pengakuan EHM saja reaksinya sudah seperti itu, bagaimana dengan pengakuan bermacam-macam EHM atau pihak yang pernah berhubungan dengannya? Pesan yang disampaikan pasti akan lebih kuat ke masyarakat,'' tutur dia.
Bersama Steven Piersanti, eksekutif penerbit di Berrett Koehler, Perkins mulai bergerilya yang cukup sulit mencari orang-orang yang mau menuliskan pengalaman mereka. ''Banyak mantan EHM yang tidak mau buka mulut karena mereka mendapat imbalan yang sangat besar dari perusahaan,'' ungkap dia.
Akhirnya, ditemukanlah 12 orang yang pernah terlibat, atau paling tidak pernah bersinggungan dengan EHM. Mereka menuliskan bermacam-macam pengalamannya yang bisa dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu jejak uang haram dari negara berkembang ke kantong negara kaya, penguasaan sumber daya alam, dan jebakan utang asing.
Kerakusan negara kaya, yang diungkap dalam AGAOAE, diceritakan sudah bermula sejak berabad-abad yang lalu. Tapi, aktivitas penjajahan ekonomi kapitalisme terhadap ekonomi negara berkembang secara sistematis dan teroganisasi modern baru dilakukan pada awal abad ke-20.
Sejumlah negara berkembang saat itu perlahan-lahan mulai membebaskan diri dari pengaruh negara Eropa dan AS. Tindakan ini kontan menimbulkan ketakutan. Eropa dan AS sangat bergantung pada sumber daya alam di negara jajahannya. Ditambah fobia terhadap komunisme, maka dibuatlah jaring-jaring EHM untuk mengekalkan kepentingan negara-negara kaya.
Bagaimana dengan Indonesia? Buku AGAOAE tampaknya tepat terbit tahun ini, saat kita ''merayakan'' 10 tahun krisis ekonomi di Asia Tenggara. Krisis tersebut telah membuat Indonesia jadi bulan-bulanan salah kebijakan IMF, yang menurut Perkins dan teman-temannya ditukangi oleh IMF sendiri. (stevy maradona )

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Gelombang Pasang Rugikan Miliaran Rupiah

Senin, 21 Mei 2007

SUKABUMI -- Gelombang pasang yang menerjang pesisir selatan wilayah Indonesia mulai kemarin berangsur mereda. Ketinggian gelombang laut kembali normal. Sementara, para nelayan dan pemerintah daerah mulai berbenah.
Wakil Bupati Sukabumi, Marwan Hamami, mengungkapkan total kerugian akibat amukan gelombang pasang di wilayahnya mencapai Rp 5 miliar. Ratusan rumah penduduk, perahu, serta areal persawahan di pesisir Sukabumi rusak akibat hantaman gelombang pasang sejak Rabu (16/5) hingga Jumat (18/5).

Daerah yang didera kerugian terbesar adalah Pelabuhan Ratu, senilai Rp 1,5 miliar. Pemkab Sukabumi, kata Marwan, akan merelokasi warga yang rumahnya hancur. Mengantisipasi terulangnya kerusakan, Pemkab akan memasang pemecah atau penahan gelombang sepanjang pantai. ''Kita juga perbanyak menanam pohon kelapa dan pohon ketapang karena efektif menahan ombak,'' katanya.
Seiring dengan diturunkannya status dari siaga satu ke siaga dua, warga yang semula mengungsi kini sudah kembali ke rumah masing-masing. Saat ini, warga yang tetap bertahan di tempat pengungsian berjumlah 249 orang. Wakil Ketua I Satlak Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) Kab Sukabumi, Letkol (Inf) Karmin Suharna, meminta warga tetap waspada.
Di Kebumen, para nelayan di lima tempat pelelangan ikan (TPI), seperti Argopeni, Pedalen, Pasir, dan Srati, mengevakuasi kapal mereka ke tempat lebih aman, sekitar 500 meter dari bibir pantai. ''Air laut masih tinggi, sehingga antarkapal saling bersentuhan. Khawatir rusak, kapal kita pindahkan,'' ujar Jiro (42 tahun), nelayan asal Argopeni, Kec Ayah, Kebumen.
Bupati Kebumen, Rustriningsih, mendata ada 123 kapal dari 500 kapal bantuan pemerintah pascatsunami yang rusak berat. Padahal, kapal bantuan yang terbuat dari fiberglass seharga Rp 24 juta per unit itu baru diserahkan kepada nelayan pada Maret 2007. Selain kapal, tembok penahan ombak yang dibangun dengan dana Rp 8 miliar di Pantai Logending juga porak poranda.
Sementara itu, larangan melaut dilanggar sejumlah nelayan di kawasan Tulungagung, Jatim. ''Meski gelombang pasang, kita tetap melaut. Kalau kita tak melaut, dari mana penghasilan untuk kebutuhan keluarga,'' kata Irwanto (30 tahun), nelayan Pantai Popoh.
Sedangkan sejumlah nelayan Puger, Jember, memilih untuk memperbaiki jala sembari menunggu gelombang pasang reda. ''Kami hanya menunggu kondisi membaik. Perahu kami tambatkan dulu di sungai,'' kata Mustain, nelayan Desa Puger Wetan.
Praktisi cuaca dan kelautan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Maritim Tanjung Perak, Surabaya, M Effendi, menyatakan gelombang di wilayah selatan Jatim hingga NTT masih tinggi disertai angin kencang.(wab/rig/aji/wot/edo/ant )


BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Eksekusi Meruya Selatan Batal

Senin, 21 Mei 2007 8:37:00

JAKARTA -- Warga Meruya Selatan, Kec Kebon Jeruk, Jakarta Barat (Jakbar), bersuka cita. Rencana eksekusi lahan seluas 78 hektare oleh Pengadilan Negeri (PN) Jakbar, hari ini, dibatalkan. Secarik kertas berisi pernyataan tak ada eksekusi dari Kepala PN Jakbar menjadi penenteram warga.

Di tengah guyuran hujan, Kepala PN Jakbar, Haryanto, Ahad (20/5), mendatangi posko Forum Masyarakat Meruya Selatan (FMMS) di Jl Putri Tunggal 11, Meruya Selatan, Jakbar. Haryanto menjamin bahwa eksekusi itu tak pernah ada.
''Saya tak akan ngawur. Penelitian masih panjang. Sampai sekarang, kami juga tidak tahu lahan mana yang akan dieksekusi,'' kata Haryanto di hadapan puluhan warga Meruya Selatan.
Namun, karena hanya sebatas lisan, pernyataan Haryanto itu tak membuat warga puas. Sekretaris FMMS, Yohanes Sandjaya, mendesak Haryanto membuat surat pernyataan penundaan pelaksanaan eksekusi. Haryanto menolak karena dia merasa tak pernah mengeluarkan surat perintah pelaksanaan eksekusi.
Bahkan, Haryanto mengaku baru tahu perihal rencana eksekusi itu dari media massa. ''Kalau saya membuat surat penundaan, berarti saya pernah membuat surat perintah itu,'' jelasnya.
Untuk meyakinkan massa, dia akan memberi hadiah bagi penemu surat perintah eksekusi tersebut. Melihat sikap kepala PN Jakbar itu, tuntutan warga pun berubah. Desakan semula berupa pernyataan penundaan eksekusi, namun akhirnya warga meminta PN Jakbar membuat pernyataan bahwa surat perintah pelaksanaan eksekusi itu tak pernah ada.
Akhirnya, disaksikan Kapolres Jakbar, Kombes Edward Pernong, serta Pimpinan Forum Betawi Rempug (FBR), Fadloli El Muhin, Haryanto memenuhi keingingan warga. Di atas secarik kertas, surat pernyataan tak pernah membuat perintah mengeksekusi lahan Meruya, ia tandatangani.
Warga berharap, surat tertulis itu menjadi jaminan bahwa tak ada eksekusi. Senada dengan Haryanto, Kombes Edward Pernong mengaku belum pernah menerima surat permintaan bantuan pelaksanaan eksekusi dari PN Jakbar.
''Tanggal 21 Mei dipastikan tak ada eksekusi,'' tegas Edward. Dia meminta warga untuk tidak bertindak secara berlebihan. ''Masyarakat tetap tenang, jangan sampai muncul permasalahan lain,'' lanjutnya.
Surat pernyataan kepala PN Jakbar berbuah pada dihentikannya rencana aksi penutupan jalan oleh warga, tadi malam. ''Kami seluruh warga Meruya Selatan sepakat untuk tak melakukan aksi pemblokiran jalan,'' kata Wakil Ketua FMMS, Sukayan.
Semula, warga hendak memblokir empat jalur masuk ke Kelurahan Meruya Selatan. Penutupan ini untuk menghalangi tim eksekusi masuk wilayah mereka.
Kemarin pagi, Wali Kota Jakbar, Fadjar Panjaitan, juga telah mengerahkan 483 personel Satpol PP. Mereka disiagakan di 10 pos guna membantu warga menolak eksekusi. Forkabi dan FBR pun turut dikerahkan untuk menghadang pelaksanaan eksekusi.
Penundaan eksekusi itu, kata anggota tim kuasa hukum warga Meruya Selatan, Kisnu Haryo, tak menyurutkan perlawanan hukum yang didaftarkan ke PN Jakbar. ''Pada 23 Mei kami akan mengajukan gugatan tahap kedua,'' kata Kisnu.
Dalam gugatan tahap kedua itu, pihaknya sudah mengantongi surat kuasa sebanyak 50 persen dari sekitar 6.000 sertifikat tanah warga. Sedangkan sidang gugatan tahap pertama yang diajukan 14 Mei lalu, akan dilaksanakan pada 28 Mei dengan agenda penelitian administratif.
Kisnu menyayangkan tata cara pemilikan dan pengalihan hak tanah yang tak diperhatikan dalam sengketa Meruya. ''Yang aneh, pertimbangan pidana digunakan untuk mengesahkan terjadinya jual beli antara H Juhri dan Portanigra,'' katanya.
Untuk menyelesaikan sengkarut di Meruya, dia memperkirakan butuh waktu minimal enam tahun. ''Kecuali ada upaya politis, sehingga dipercepat.''
Kondisi tak jelas itu dipastikan merugikan warga, baik secara psikologis maupun ekonomis. ''Saat ini, ada Rp 2,5 triliun dana agunan di Meruya Selatan ini,'' kata Kisnu.

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Ormas: Taufik Kiemas dan Kalla Hadiri HUT Anshor

KOMPAS - 21052007
Jakarta, Kompas - Peringatan hari lahir ke-73 Gerakan Pemuda Anshor Minggu (20/5) malam dihadiri sejumlah tokoh politik. Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga Ketua Umum Partai Golkar, Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan Surya Dharma Ali ikut hadir. Ikut juga hadir fungsionaris PDIP Taufik Kiemas dan Sekjen PDI Perjuangan Pramono Anung. Sejumlah ulama juga hadir antara lain Ketua PB Nahdlatul Ulama Said Agil Siradj, KH Idris Marzuki, dan KH Mas Subadar.

Ketua Umum GP Anshor Saifullah Yusuf yang baru saja diberhentikan sebagai Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal memberikan sambutan hari lahir yang dirayakan bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
"Pemerintah saat ini harus didukung agar bisa menjalankan programnya dengan sukses. Pasalnya, kesuksesan pemerintah akan berimplikasi positif pada rakyat dan kegagalan pemerintah akan membuat rakyat sengara. Itu sebabnya, Gerakan Pemuda Anshor akan mendukung pemerintah dengan melakukan gerakan kerakyatan," ucapnya.
"Apa yang dikerjakan Anshor sekarang akan fokus pada gerakan kerakyatan yang bisa langsung dirasakan. Apalagi, selama dua setengah tahun lalu, saya banyak melihat kesabaran yang luar biasa dari rakyat, ditengah perubahan yang lambat," ujar Saifulah.
GP Anshor, menurut Saifulah, tidak pernah melupakan komitmen kebangsaannya. Itu sebabnya, Anshor dalam rapat koordinasi nasionalnya, kembali menegaskan komitmennya tersebut. "Untuk, Anshor juga meminta pemerintah untuk mempercepat upaya mengatasi krisis dan segera menurunkan harga-harga yang sudah mempersulit kehidupan rakyat," ujarnya.
Dalam tausiyahnya, Said Agil mengingatkan, bahwa Islam mengajarkan pada manusia untuk bisa memoderenkan dirinya. Disini, diperlukan pengembangan peradaban manusia terus-menerus.
"Itu sebabnya, kita kalau mau dakwah berdakwah yang baik, menjadi umat Islam yang wasathon apapun organisasinya," ujarnya.
Pramono mengatakan, kehadirannya dalam acara Anshor sebagai silaturrahim yang akan memperluas pergaulan. Apalagi, PDIP akan membuka diri pada semua pihak.
"Kami terbuka pada semua anak bangsa, dan kami biasa bertemua dengan kelompok mana saja," ujarnya. (MAM)

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Tawaran Tetap Ditolak; 15 Pengusaha Korban Lumpur Menilai Ganti Rugi Tak Layak

KOMPAS - 21052007

SIDOARJO, KOMPAS - Berbeda dengan delapan pengusaha yang sudah menerima tawaran ganti rugi, 15 pengusaha lain korban lumpur panas di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, tetap bersikukuh menolak tawaran Lapindo Brantas Inc. Mereka menilai ganti rugi yang ditawarkan itu tidak layak.

Ketua Gabungan Pengusaha Korban Lumpur Lapindo (GPKLL) Sugiarto Henry Ritonga, Minggu (20/5), mengatakan, ganti rugi yang telah diberikan kepada delapan perusahaan yang sebelumnya tergabung dalam GPKLL itu sangat tidak rasional.
Ganti rugi tanah yang semula diajukan pengusaha sebesar Rp 350.000-Rp 700.000 per meter persegi hanya dipenuhi LBI sebesar Rp 300.000-Rp 350.000 per meter persegi. Adapun untuk bangunan, klaim dari pengusaha Rp 1.000.000-Rp 2.500.000 per meter persegi hanya dipenuhi Rp 700.000 per meter persegi.
Dalam catatan Kompas, nilai ganti rugi yang diajukan pengusaha itu lebih rendah dibandingkan dengan tuntutan warga yang besarnya Rp 1.000.000 per meter persegi untuk tanah dan Rp 1,5 juta untuk bangunan.
"Yang pengusaha minta hanyalah ganti rugi yang layak supaya kami dapat memulai usaha yang baru lagi. Kami tidak meminta ganti rugi 100 persen, tetapi hanya 60-70 persen," kata Ritonga.
Vice President PT Minarak Lapindo Jaya Andi Darussalam Tabusalla mengatakan, LBI akan terus mendekati dan bernegosiasi dengan 15 pengusaha yang belum mendapatkan ganti rugi itu. Namun, Lapindo tidak akan mungkin menaikkan penawaran karena kemampuan keuangan Lapindo terbatas.
"Kami berharap semua pengusaha mau mengerti. Namun, kalau tidak tercapai juga kata sepakat, kami mempersilakan pengusaha untuk menyelesaikannya di pengadilan," ujarnya.
Beberapa pengusaha dari delapan pengusaha yang telah menerima ganti rugi dari LBI juga mengaku kecewa dengan ganti rugi yang diberikan. Namun, mereka terpaksa menerima supaya perusahaan dan karyawan tetap bisa mendapatkan penghasilan untuk hidup.
"Meskipun rugi, kami harus berpikir ke depan," kata Direktur PT Victory Rottanindo Dwi Cahyani.
Delapan perusahaan yang telah mendapatkan ganti rugi tahap pertama adalah Melina Dewi, Andrian Zulkarnain, CV Karya Kasih Karunia, PT Supra Surya Indonesia, PT Srikaya Putra Mas, PT Yamaindo Perkasa, PT Victory Rottanindo, dan CV Airlangga Mebelindo Design.
Jalan dibuka
Sementara itu, jalur Jalan Raya Porong dari arah Surabaya ke Malang, yang ditutup sejak 8 Mei lalu akibat tergenang air lumpur, kemarin kembali bisa dilewati kendaraan bermotor. Pihak Kepolisian Resor Sidoarjo dan Badan Pelaksana Penanggulangan Lumpur di Sidoarjo (BPPLS) menilai jalur jalan ini sudah aman.
"Jalan ini menjadi jalan utama ke Malang atau Pasuruan dari Surabaya dan sebaliknya. Karena itu, demi kepentingan umum, BPPLS dan Polres Sidoarjo membolehkan kendaraan lewat di jalan ini," kata Humas BPPLS Ahmad Zulkarnaen.
Untuk mencegah genangan lumpur lagi, tanggul di kolam penampungan lumpur di Desa Siring telah diperkuat. Saat ini tinggi lumpur dan puncak tanggul di kolam penampungan Siring sekitar 1,5 meter. (APA)

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

transportasi: Mereka Hidup dari Keganasan Riam Mahakam

KOMPAS - 21052007

Ambrosius Harto
Nyali menciut menyaksikan Riam Udang di hulu Sungai Mahakam, Kecamatan Long Bagun, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, pertengahan Mei lalu. Air mengalir deras membentur bebatuan, membentuk pusaran lebar dan gulungan-gulungan ombak setinggi 1 meter.

"Astaga. Mati deh," seorang penumpang berteriak spontan ketika perahu cepat yang kami tumpangi melaju kencang menembus jeram ganas itu. Perahu bergoyang ke kiri dan kanan. Tubuh terempas ke lantai perahu. Pakaian basah kuyup terciprat air.
"Pegangan. Jangan sampai jatuh," kata Agus (21), si juru mesin, berteriak dari belakang.
Terlambat. Seorang penumpang yang menggenggam kamera video tercebur. Beruntung, Agus cepat meraih kaki si penumpang dan selamatlah dia.
Adegan mendebarkan itu tak sampai semenit. Ucapan syukur dan sorak-sorai pun berhamburan dari para penumpang.
Felix, si juru mudi atau motoris perahu, benar-benar andal. Ia berhasil melintasi Riam Udang dengan selamat. Namun, itu baru satu. Masih ada belasan jeram berbahaya lain di sungai terpanjang di Kaltim itu.
Sebaran riam memang berada di hulu Mahakam, terletak di tiga kecamatan, yaitu Long Bagun, Long Pahangai, dan Long Apari. Yang terakhir berbatasan dengan Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia. Long Bagun dapat dijangkau dengan berperahu selama 36 jam dari Samarinda, ibu kota Kaltim.
Berbahaya
Karena banyak riam, hanya perahu panjang dengan mesin bertenaga besar yang mampu menyusuri sungai. Setiap perahu minimal memiliki dua mesin yang masing-masing berkekuatan 200 PK (daya kuda).
Perahu-perahu itu juga harus dikemudikan oleh motoris yang andal jika tidak ingin karam diempas jeram. Kebanyakan motoris berasal dari Kampung Long Apari di titik paling hulu sungai yang panjangnya sekitar 980 kilometer itu.
Karena riam pula, pasokan bahan makanan, barang kelontong, dan bahan bakar minyak untuk warga Long Pahangai dan Long Apari hanya bisa dibawa oleh perahu besar sampai ke Long Bagun. Semua barang kemudian diangkut dengan perahu-perahu panjang. Perahu kayu sepanjang 5 meter itu juga menjadi sarana transportasi penumpang asal Long Pahangai dan Long Apari.
Perjalanan menghulu Mahakam sangat berbahaya karena perahu harus melawan arus deras dan menerjang puluhan jeram. Ketika musim hujan, arus sangat kuat dan jeram menjadi lebih besar dan berbahaya.
Ketika kemarau, bebatuan tersembul di permukaan air dan bisa menghancurkan perahu kalau tertabrak. Oleh sebab itu, terkadang suatu perjalanan ditunda sampai sungai agak jinak.
Jika perjalanan tak bisa ditunda, ada cara lain melewati bagian berbahaya itu, yakni dengan menurunkan barang dan penumpang di tepi sungai. Dengan bobot yang ringan tanpa beban, perahu dapat lincah dibawa menantang jeram.
Penumpang dan barang yang dibawa menyusur tepi sungai kemudian kembali menaiki perahu yang sudah lolos dari jeram. Cara itu berulang dilakukan dalam satu perjalanan.
Karena risiko yang tinggi, cerita-cerita seram tentang keganasan riam-riam Mahakam bertebaran. Riam Udang, misalnya, pernah meminta nyawa satu orang asing. "Juga pernah bikin perahu saya karam," kata Hasran (38), pemilik perahu cepat, mengenang kejadian lima tahun lalu.
Waktu itu dia selamat, tetapi barang-barang yang hendak dijual hanyut.
Keganasan riam tidak selamanya membuat nyali ciut. "Saya sudah terbiasa karena lima tahun jadi motoris," kata Felix (36), kelahiran Long Apari.
Laki-laki Dayak Penehing itu kerap disewa para pemilik perahu panjang. Keselamatan nyawa penumpang dan keutuhan barang kerap dibebankan kepada bapak dua anak itu.
Satu-satunya
Saat ditemui Kompas, Felix disewa oleh Hasran untuk membawa beberapa penumpang ke Long Pahangai. Untuk pekerjaan berbahaya dan dengan tanggung jawab besar itu, Felix dibayar Rp 500.000 sekali jalan.
Hasran juga mempekerjakan juru mesin bernama Agus. Laki-laki muda itu jauh merantau dari Sulawesi Selatan untuk menjadi juru mesin perahu-perahu panjang pelahap riam Mahakam.
Keselamatan penumpang berada di tangan ketiga orang itu. Hasran ibarat penunjuk arah. Felix bertugas mengemudikan perahu menghindari keham dan pusaran. Di belakang, selain memerhatikan mesin agar tidak mati, Agus juga bertugas mengingatkan penumpang untuk tetap waspada.
Ongkos transportasi ke hulu memang mahal. Perahu yang dikemudikan Felix itu, misalnya, disewa Rp 8 juta sekali jalan. Pemilik perahu kemudian mengatur semua. Honor motoris Rp 500.000, juru mesin Rp 250.000, ditambah 400 liter bensin dan 20 liter oli Rp 3,84 juta. Singkat kata, total biaya Rp 4,59 juta.
Jika diisi maksimal 20 penumpang, tarif setiap orang Rp 350.000 sampai Long Pahangai dan Rp 600.000 sampai Tiong Ohang, ibu kota Kecamatan Long Apari.
"Kami berangkat kalau penumpang minimal 10 orang," kata Hasran. Dengan asumsi masing-masing tujuan diisi lima penumpang, pendapatan kotor Hasran Rp 4,75 juta. Total biaya Rp 4,59 juta sehingga pendapatan bersih Rp 160.000.
Penghasilan itu tidak bisa didapat setiap hari. Perjalanan menuju Long Pahangai ditempuh sekitar empat jam. Mencapai Long Apari tambah dua jam lagi. Artinya, tidak setiap hari perahu bisa beroperasi bolak-balik....

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Mencermati Arus Modal Portofolio

KOMPAS - 21052007

Topik pembicaraan publik belakangan ini adalah mengenai derasnya aliran modal masuk ke pasar keuangan Indonesia. Media mengutip, pejabat pemerintah mengingatkan bahwa situasi ini mirip seperti tahun 1997. Terlepas dari perdebatan politik, sebenarnya tak ada yang salah dari peringatan ini karena memang tugas otoritas moneter untuk selalu memantau kondisi ekonomi dan mengingatkan publik. Justru mengherankan jika otoritas moneter mengatakan semuanya baik-baik saja.

Teringat situasi pada tahun 1996-1997, pemerintah hingga Bank Dunia mengatakan bahwa situasi Indonesia dan ekonomi Asia baik-baik saja. Bank Dunia pada tahun 1996 menganggap peningkatan utang, defisit anggaran negara, dan defisit neraca pembayaran di Asia bukanlah angka yang mengkhawatirkan. Namun, kemudian timbul krisis ekonomi di Thailand pada Juli 1997 yang berlanjut ke Korea Selatan, Malaysia, kemudian memorakporandakan ekonomi dan politik Indonesia.
Aliran modal masuk ke negara berkembang didorong adanya kelebihan likuiditas di pasar keuangan dunia. Dari mana ekses likuiditas ini? Paling tidak ada tiga penyebab. Kelebihan likuiditas di negara maju berasal dari kebijakan suku bunga rendah yang dijalankan mantan Gubernur Bank Sentral Amerika Alan Greenspan pada periode 1998-2004. Kebijakan suku bunga rendah ditempuh Greenspan untuk mencegah resesi ekonomi dunia setelah terjadi krisis ekonomi di Asia, Rusia, Brasil, dan kejatuhan saham sektor teknologi di AS serta serangan teroris yang dikenal dengan "9/11".
Terjadi pula pergeseran pola investasi, yaitu meningkatnya minat masyarakat negara maju berinvestasi di negara berkembang. Kondisi negara berkembang dianggap sudah semakin baik. Pertumbuhan ekonomi tinggi yang ditunjang ekspor dan penanaman modal asing telah membuat negara Asia seperti China dan India saat ini memiliki cadangan devisa yang mencapai ratusan miliar dollar AS. Cadangan devisa yang menumpuk tersebut turut menjadi sumber ekses likuiditas dunia.
Sumber ekses likuiditas yang ketiga, naiknya harga minyak dan komoditas tambang sehubungan dengan permintaan yang tinggi dari negara-negara Asia (terutama China dan India). Saat ini negara-negara penghasil minyak (Timur Tengah dan Rusia) mengalami peningkatan surplus devisa ratusan miliar dollar AS. Uang itu juga harus diinvestasikan.
Menurut data Emerging Portfolio Fund Research, dari awal 2004 sampai April 2007, jumlah dana yang masuk ke reksa dana "saham" negara berkembang berjumlah sekitar 53 miliar dollar AS. Sekitar 40 miliar dollar AS di antaranya masuk ke Asia. Data ini belum termasuk dana yang masuk untuk membeli surat utang (obligasi). Juga belum termasuk dana yang masuk ke pengelola hedge funds dan private equity.
Situasi Indonesia
Indonesia pun kecipratan menerima dana portofolio dari luar negeri. Investor asing saat ini berinvestasi di Surat Utang Negara sekitar Rp 77 triliun dan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sekitar Rp 40 triliun. Berbeda dengan perbankan nasional yang membeli SBI sebagai penempatan sementara sebelum menjadi kredit ke sektor riil, investor asing membeli SBI memang karena bunganya menarik.
Indeks bursa saham Indonesia naik terus sejak tahun 2003. Mayoritas investor publik di perusahaan besar seperti Telkom, Bank Mandiri, BRI, BCA, dan Astra International adalah manajer investasi asing.
Bagaimana kita harus bersikap menghadapi aliran dana portofolio dari luar negeri tersebut? Kita harus mengambil manfaat dari dana tersebut tanpa kehilangan kepemilikan. Misalnya untuk membiayai anggaran negara sebagai pengganti kredit dari negara donor yang sifatnya terlalu mengikat.
Berhubung anggaran negara terbatas, investor portofolio bisa dipakai untuk memperkuat modal dan memberikan utang jangka panjang kepada BUMN, seperti Bank BNI, Jasa Marga, PLN, Garuda, dan Pertamina.
Perusahaan swasta malah sudah lebih lincah memanfaatkan dana portofolio asing untuk mengembangkan usaha. Namun, sebaiknya surat utang yang dikeluarkan perusahaan Indonesia berjangka panjang dan dalam mata uang rupiah sehingga biarlah investor asing yang menanggung risiko kurs.
Pertanyaan selanjutnya, bagaimana membuat dana portofolio bertahan di Indonesia? Analisa investor portofolio selalu dimulai dari stabilitas politik, makroekonomi, dan perbankan. Artinya, siapa pun Pemerintah Indonesia, kehati-hatian mengelola anggaran negara dan mengelola neraca pembayaran adalah hal yang sangat penting. Tekanan politis dan bermain-main dengan "prudential perbankan" jangan pernah dilakukan.
Pada saat ini kondisi makroekonomi Indonesia cukup baik karena neraca berjalannya surplus, anggaran belanja negara defisitnya di bawah 3 persen produk domestik bruto (PDB), rasio utang luar negeri terhadap PDB di bawah 50 persen, dan angka kredit bermasalah pada bank BUMN menunjukkan penurunan.
Pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan laba perusahaan sangat diperhatikan investor. Mereka hanya mau membeli saham dan surat utang perusahaan yang memiliki prospek cerah. Suatu perusahaan akan memiliki prospek cerah jika dikelola oleh manajemen yang baik dan berada dalam iklim investasi yang menunjang.
Jadi, jika iklim investasi Indonesia semakin tidak kompetitif dibandingkan dengan di China, Vietnam, Malaysia, dan lainnya, perusahaan penanaman modal langsung (sektor riil) semakin tidak datang.
Di sinilah tantangan Indonesia. Pemerintah daerah pun turut bertanggung jawab karena kita sekarang berada dalam alam desentralisasi. Indonesia harus terus meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mengurangi pengangguran, meningkatkan ekspor, dan menekan inflasi. Saat ini "price to earning ratio" saham Indonesia sudah 15 kali, sedangkan imbal hasil (yield) obligasi berjangka lima tahun sudah turun ke 8,7 persen.
Valuasi saham memang belum sangat mahal, tetapi juga tidak murah. Namun, jika dana portofolio terus masuk, sedangkan pertumbuhan ekonomi hanya 5-6 persen, lama-kelamaan investor akan berpikir bahwa mereka membeli saham yang nilainya kemahalan.
Inflasi harus diturunkan dengan memperbaiki jalur distribusi dan peningkatan produksi bukan dengan penguatan kurs rupiah. Jika inflasi tidak bisa turun di bawah 6 persen, sedangkan "yield obligasi lima tahun" semakin turun ke bawah 8,5 persen, suatu saat investor akan merasa obligasinya sudah kemahalan.
Risiko pelarian modal (capital outflow) ini belum termasuk risiko efek berantai jika terjadi gejolak ekonomi dan politik di China dan di negara berkembang di sekitar Indonesia. Suatu tantangan yang berat.
Mirza Adityaswara Analis Perbankan dan Pasar Modal

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Kebangkitan Nasional: Presiden Perlu Tuntaskan Reformasi

KOMPAS - 21052007

Jakarta, Kompas - Perjalanan sembilan tahun reformasi dimaknai secara berbeda oleh berbagai kalangan masyarakat. Ada yang pesimistis dengan reformasi yang telah kehilangan arah, tetapi ada pula yang mendorong agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono segera menuntaskan reformasi.

Peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Minggu, 20 Mei 2007, ditandai berbagai aktivitas politik. Akbar Tandjung meluncurkan ormas baru bernama Barisan Indonesia, sejumlah tokoh senior menggelar diskusi bertema "UUD 1945 dan Pancasila Menghadapi Tantangan Masa Depan", dan Siswono Yudo Husodo menggelar silaturahim Majelis Penasihat Lembaga Perajut Bangsa.
Siswono mengemukakan, apa yang terjadi setelah reformasi semakin membuat anak bangsa sulit untuk bangkit. Kondisi menyedihkan ini mengecewakan semua anak bangsa yang berharap bangsa ini maju menjadi bangsa besar. "Bangsa ini mungkin terlalu bodoh untuk menyadari kekurangannya," ujarnya.
Ia mengatakan, bangsa ini sering kali sibuk dengan mengurusi hal yang tidak perlu. Bahkan, tak sedikit yang lebih senang menuntut haknya atau ingin memperluas kewenangannya.
Direktur Institute for Policy Studies Fadli Zon kepada Kompas menyatakan, reformasi hanya sekadar pergantian kekuasaan. Reformasi merupakan pintu masuk imperialisme baru, yaitu demokrasi liberal di bidang politik dan pasar bebas di bidang ekonomi.
Fadli menilai desentralisasi perlu, tetapi masalahnya kapan dilaksanakan. "Kita enggak pikir panjang langsung otonomi daerah, tetapi tak ada infrastruktur. Di mana pun di dunia, tak ada desentralisasi pada saat krisis," katanya sambil menambahkan, harus ada arah baru dalam reformasi.
Rektor Universitas Paramadina Anis Rasyid Baswedan berpendapat, reformasi harus dituntaskan karena banyak yang belum berjalan, bahkan ada yang sama sekali belum tersentuh. Reformasi politik baru pada fase pembebasan berpolitik yang pada era Soeharto dibatasi. Seharusnya, fase kedua adalah membuat partai politik dan sistem politik bekerja menyejahterakan rakyat. "Sekarang ini baru pada tahap politik untuk politik," ujarnya. Reformasi birokrasi belum tersentuh. "Presiden harus menuntaskan reformasi," ucapnya.
Ia mengkhawatirkan kesabaran rakyat atas demokrasi akan habis. "Saya menduga tiga pemilu kalau tanpa hasil menyejahterakan rakyat, rakyat akan bertanya. Yang rugi kita. Terbukti di Amerika Latin dan terbaru di Pakistan," paparnya. (mam/sut/bdm)

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Gelombang Pasang Mulai Surut

KOMPAS - 21-052007

Bappenas Sedang Menginventarisasi Nilai Kerusakan

bandung, Kompas - Sepanjang hari Minggu (20/5), gelombang pasang masih terjadi di sejumlah daerah, tetapi pada umumnya tidak lagi setinggi hari-hari sebelumnya. Di sejumlah tempat, nelayan sudah berani melaut meskipun umumnya mereka menunggu situasi.
Berkait dengan bencana gelombang pasang itu, pemerintah, dalam hal ini Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), sedang menginventarisasi nilai kerusakan dan potensi kerugian material. Untuk itu, pemerintah daerah diimbau agar aktif dan akurat memberikan data kerusakan.

"Peristiwa ini terjadinya sangat mendadak. Bappenas akan melakukan assessment, terutama kerusakan dan potensi kerugian yang ditimbulkan. Karena baru terjadi satu-dua hari lalu, hasilnya belum bisa kami umumkan," kata Kepala Bappenas Paskah Suzetta di sela-sela acara Temu Nasional Dewan Pendidikan Se-Indonesia di Bandung, Sabtu.
Masih waswas
Pemantauan Kompas, situasi laut di pantai selatan Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Barat sepanjang hari Minggu relatif tenang. Begitu pula dengan pantai barat Sumatera, seperti Padang dan Aceh.
Gelombang pasang masih terjadi di Dusun Bang Boler, Desa Hepang, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, meskipun tidak setinggi Sabtu lalu.
"Gelombang pasang masih terjadi hingga saat ini, tetapi tak membahayakan. Air laut tak lagi sampai masuk ke rumah penduduk di pesisir pantai," kata Kepala Kepolisian Resor Sikka Ajun Komisaris Besar Endang Syafruddin yang dihubungi dari Ende.
Kepala Desa Hepang Andreas Korsinus Moat Iku yang dihubungi terpisah mengatakan, tiga rumah warga Bang Boler mengalami kerusakan akibat terjangan gelombang tinggi hari Sabtu lalu. Salah satu rumah terpaksa dibongkar karena rusak berat, sedangkan dua rumah lainnya rusak di bagian dapur dan WC.
Kepala Bagian Humas Kabupaten Sikka Robertus Ray mengatakan, gelombang pasang juga terjadi di kawasan Kecamatan Paga meski tidak sampai menerjang permukiman warga. "Nelayan di Paga juga tetap melaut," katanya.
Di Pantai Pandansimo, Bantul, DI Yogyakarta, para nelayan belum melaut karena masih menunggu laut tenang. Apalagi, informasi yang berkembang menyebutkan gelombang pasang masih mungkin terjadi dalam satu-dua pekan ini. Selain itu, kata Ketua Kelompok Tani Nelayan Pandan Mino, Tumijan, para nelayan juga masih harus memperbaiki alat tangkap mereka yang rusak, Jumat lalu.
Sebaliknya, nelayan di Pantai Depok, Kretek, Bantul, sudah bertekad akan melaut hari Senin ini. Sebab, selain laut sudah mereka anggap normal, juga tidak ada kerusakan alat tangkap yang mereka alami. Itu terjadi karena mereka sudah mengantisipasi dengan memindahkan perahu-perahu mereka ke tempat yang lebih tinggi.
Di Pantai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat, laut juga tenang sehingga sejumlah nelayan sudah memberanikan diri melaut. "Cuaca hari ini cerah, sudah bagus untuk melaut," kata Agus Suharto, nelayan.
Menurut dia, gelombang pasang yang terjadi hari Jumat dan Sabtu juga tidak memengaruhi hasil tangkapan. "Juga tidak merusak terumbu karang," kata nelayan yang aktif dalam konservasi terumbu karang itu.
Pantai Pangandaran sendiri tidak terlalu parah diempas gelombang tinggi meski air sempat menggenangi jalan dan hotel sekitar 20 meter dari bibir pantai. Tercatat 1 perahu patah, 5 rusak berat, dan 47 rusak ringan. "Kebanyakan perahu itu saling bertabrakan di pantai," kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Ciamis Jeje Wiradinata.
Meskipun tidak menimbulkan kerusakan parah, gelombang pasang yang terjadi saat libur panjang akhir pekan lalu membuat sejumlah wisatawan pulang lebih awal meninggalkan Pangandaran. Mereka, kata Bendahara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Ciamis Yos Rosbi, selanjutnya menghabiskan masa berlibur di Purwokerto dan Tegal, atau obyek wisata pegunungan lain.
"Sejak malam Jumat, pengunjung banyak yang datang. Karena laut sedang pasang, mereka takut, akhirnya banyak yang pulang Sabtu pagi," kata Suparman, petugas obyek wisata Pangandaran.
Kerugian Rp 4 miliar lebih
Ketua HNSI Jawa Barat Ulung Laksamana memperkirakan nelayan Jabar mengalami kerugian Rp 4 miliar-Rp 6 miliar akibat terhentinya kegiatan melaut selama dua hari terjadinya gelombang tinggi. Itu belum termasuk kerusakan perahu nelayan.
Ketua HNSI Sumatera Barat Mirwan Pulungan menyatakan, 36.000 anggotanya kehilangan pendapatan Rp 75.000 hingga Rp 100.000 per orang per hari. Nilai itu belum termasuk harta benda para nelayan yang rumah miliknya hancur diterjang pasang air laut.
Ia juga meminta Pemerintah Provinsi Sumatera Barat merelokasi ribuan nelayan dan keluarganya ke lokasi yang lebih aman.
Selain merusak rumah dan perahu, gelombang pasang di Sumatera Barat juga menyebabkan seorang awak kapal tewas tersengat aliran listrik Sabtu lalu.
Saat itu kapal Tirta Mega yang berbobot kotor 750 ton sedang berlayar di Perairan Talang Padang, Sumatera Barat, untuk menangkap ikan tuna. Alat yang digunakan adalah pancingan panjang.
Widodo bertugas menarik pancing. Karena ikan tuna yang ditarik sangat besar, anak buah kapal yang bertugas harus menggunakan aliran listrik untuk melemahkan ikan tuna. Saat ikan tuna sudah dekat dengan kapal, Widodo bermaksud menyengatkan aliran listrik ke tubuh ikan agar menjadi lemah dan mudah diangkat ke dek kapal. Namun, naas, gelombang besar menghantam kapal sehingga Widodo terlempar dari lambung kapal dan menyentuh ujung cincin logam beraliran listrik yang hendak digunakannya untuk melemahkan ikan tuna. (SEM/BEN/MHD/CHE/JON/ AHA/ADH/WER/AB2)

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...