Tuesday, July 17, 2007

Krisis Listrik: Listrik, Kok, Masih Byarpet

KOMPAS - Selasa, 17 Juli 2007

Aufrida Wismi W

"Nanti jam 17 pasti padam lagi. Pokoknya empat jam mati, empat jam hidup, dan waktunya tidak teratur," kata Zainal Arifin (40), seorang tukang kayu yang tinggal di Jalan Bunga Asoka, Asam Kumbang, Medan Selayang.
Zainal adalah salah seorang warga Medan yang kesal terhadap buruknya pelayanan PT PLN yang menyebabkan listrik byarpet setiap hari. Bagaimana tidak kesal. Lampu padam pada pagi hari tatkala warga akan memulai aktivitas, lalu padam lagi di malam hari.
Zainal mengatakan, keluarganya sangat terganggu dengan pemutusan aliran listrik yang terjadi dua hingga tiga kali sehari, sudah seperti minum obat. Kejadian mati lampu bisa terjadi antara pukul 20.00 dan 23.00, kemudian terjadi lagi pukul 02.00 hingga pukul 08.00. Setelah menyala, pemadaman dilanjutkan lagi pukul 11.00 hingga pukul 13.00.
Jika listrik mati pada malam hari, keluarga dengan dua anak itu tak bisa tidur. Hawa Kota Medan sangat panas memasuki musim kemarau bulan ini. Tanpa kipas angin, tidur tidak nyaman, apalagi jika nyamuk terus berdengung di telinga. "Kami tertidur karena tangan capek kipas-kipas. Terlelap sebentar lalu bangun lagi," tutur Hayarni (32), istri Zainal.
Ketidaknyamanan itu membuat Zainal "gondok" dan berbuntut menyesal ikut pemilu karena merasa pemerintah tidak berhasil mengatasi persoalan yang dihadapi warga Medan. Oleh karena itu, Zainal dan istrinya sepakat tidak ikut pemilu tahun depan. "Saya capek dikibuli terus," kata Zainal dengan emosi.
Kehidupan warga Medan pada seluruh lapisan masyarakat tak bisa dilepaskan dari kebutuhan listrik. Jika listrik mati tiga kali sehari seperti terjadi di Medan sejak enam minggu terakhir, pasti timbul kekacauan aktivitas, kerugian, hingga kemarahan.
Apalagi krisis listrik sudah lama terjadi, tetapi PLN dan pemerintah belum punya solusi untuk mengatasi persoalan yang dihadapi rakyat. Listrik mati di Medan telah menjadi cerita sejak tahun 2002 yang terus berulang kembali hingga kini.
Warga sibuk mengomel, mengenai cerita cucian belum disetrika dan menumpuk. Peralatan listrik, televisi, komputer, dan lemari pendingin rusak karena tegangan naik turun. Di luar rumah, lampu pengatur lalu lintas banyak yang padam. Kemacetan terjadi di mana-mana.
Mereka yang mempunyai uang berlebih mungkin mampu membeli genset, tetapi kebanyakan warga menggunakan lampu minyak atau lilin.
Yusragil (23), pemilik usaha jahit jas di Jalan Menteng, Medan, mengatakan, jika listrik normal, tiga pegawainya bisa membuat masing-masing satu setel jas sehari. Namun, saat listrik mati sebulan terakhir, satu setel jas baru bisa diselesaikan dalam dua hari. Omzet menurun hingga Rp 2 juta selama sebulan.
Jika Yusragil tak mampu membeli genset, Suryati sudah membeli genset sejak tahun lalu. Namun, keuntungan penjahit borongan di Jalan Bromo, Medan, itu berkurang Rp 1,2 juta per bulan untuk membeli solar. "Listrik mati wajar, tapi kalau saban hari ini merugikan," kata Suryati lemas.
Ia bekerja untuk memenuhi kontrak dengan pelanggan dan membayar enam pegawainya. Anehnya, kata Suryati, rekening listrik tidak turun, malah ada kecenderungan naik dari yang biasanya Rp 300.000/bulan menjadi Rp 400.000/bulan.
Semua orang sudah lelah berkeluh kesah. Isa (42), reparator elektronik di Jalan Bromo, tidak bisa bekerja. Saat kerusakan komponen elektronik hampir ditemukan, listrik padam. Televisi yang harus diservis di bengkelnya menumpuk.
Para pengusaha kecil di Kompleks Pusat Industri Kecil (PIK) Menteng Medan mengeluhkan hal yang sama. Haji Yusbir (35), pemilik usaha jahit di PIK, sudah menjual dua mesin jahitnya untuk membiayai proses produksi. "Katakan ke pemerintah, kami benar-benar kecewa," kata Haji Yusbir. Dari 99 ruko yang ada di PIK, 70 persen di antaranya terus merugi karena banyak order yang tak bisa dipenuhi.
Industri juga merugi
Tak hanya industri kecil yang kembang kempis, usaha besar pun demikian. Ketua Asosiasi Pengusaha Seluruh Indonesia (Apindo) Sumatera Utara Parlindungan Purba mengatakan, setiap bulan 400 perusahaan di Sumut yang tergabung dalam Apindo merugi Rp 200 miliar. Itu hanya untuk pembelian bahan bakar genset. Belum kerugian akibat kerusakan mesin.
Semua kantor PLN, baik cabang maupun pusat di Medan, pernah didemo warga. Petugas PLN juga capek mendengar keluhan. Saat Kompas mencoba menelepon nomor 123 layanan pelanggan PLN, tak ada lagi petugas yang mengangkat telepon.
Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran Kota Medan mencatat selama bulan Juni-Juli sudah terjadi 14 kasus kebakaran yang timbul sebagai akibat listrik mati. Enam kasus kebakaran di antaranya diawali dari api lilin, selebihnya karena korsleting listrik dan lampu. Kerugian ditaksir sebesar Rp 2 miliar. Satu orang juga dilaporkan tewas karena menghirup asap genset.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro saat berkunjung ke Samosir awal Juli lalu mengatakan, ia sudah bicara dengan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang mempunyai PLTA untuk tukar-menukar energi listrik sebanyak 90 MW. PLN memasok siang hari untuk PT Inalum, PT Inalum akan memasok listrik di malam hari kepada PLN. Namun, hingga Jumat lalu, General Manager PLN Wilayah Sumatera Utara Supriyanto mengatakan, belum ada keterangan dari PT Inalum untuk memasok daya ke PLN.
Untuk mengatasi keadaan darurat ini, PLN mengumpulkan sumber-sumber listrik yang ada di masyarakat. Asosiasi Pusat Perbelanjaan dan Perkantoran Sumatera Utara bersedia menyuplai listrik ke PLN 20 MW. "Minggu depan kerja sama dengan Sun Plaza dimulai. Mereka akan memasok 6-8 MW," kata Supriyanto. PLN menyewa pembangkit 15 MW.
September-Oktober nanti diharapkan ada 30-40 MW tambahan pada siang hari saat interkoneksi antara Sumatera Selatan dan Utara tersambung. Ada penambahan dari sewa genset sebanyak 35 MW pada akhir tahun. Sumut akan merelokasi PLTG Apung Palembang yang menghasilkan listrik 35 MW.

0 comments: