Thursday, May 31, 2007

Marinir dan Warga Bentrok, Lima Orang Tewas

KORAN TEMPO - Kamis, 31 Mei 2007

Komandan Pusat Latihan Tempur Grati dicopot.

PASURUAN -- Lima orang tewas dan tujuh lainnya luka terkena tembakan dalam bentrokan antara ratusan warga dan belasan anggota pasukan marinir di Alas Tlogo, Pasuruan, Jawa Timur, kemarin.
Salah satu korban meninggal adalah bayi 3 tahun bernama Choirul bin Sutrisno. Dia tertembak saat digendong sang ibu, Mistin, 27 tahun, yang juga meninggal dengan luka tembak di bagian dada. Choirul tewas saat dioperasi di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Kota Malang. Di dadanya bersarang peluru tajam senjata laras panjang.
Tiga korban tewas lainnya adalah Sutam, 45 tahun, Siti Khotijah (20), dan Rohman (41), semuanya dari Desa Alas Tlogo. "Siti Khotijah sedang hamil lima bulan," tutur Sani, kerabat korban, di Rumah Sakit Syaiful Anwar.
Saksi mata di lokasi kejadian, Bura'i, yang masih kerabat Sutrisno, menerangkan Mistin dan Choirul tertembak ketika sedang berada di dalam rumah. "Peluru yang dilepaskan anggota marinir menerobos dinding kayu rumah Sutrisno," kata Bura'i.
Insiden ini berawal pada kemarin pagi, ketika pasukan marinir dari Markas Pusat Latihan Tempur TNI Angkatan Laut di Grati menjaga lahan yang tengah menjadi subyek sengketa antara warga dan TNI Angkatan Laut.
Sejak pekan lalu, pasukan marinir memang intensif mengawasi lahan itu. Menurut Kepala Dinas Penerangan Komando Armada Timur Letnan Kolonel Tony Syaiful, sengketa tanah itu sebenarnya sudah selesai di tingkat pengadilan. "Pemenangnya TNI Angkatan Laut," katanya.
Warga yang kalah, kata Tony, akan direlokasi dengan kompensasi ganti rugi berupa tanah 500 meter persegi per keluarga. Namun, solusi ini ditentang warga.
Tiba-tiba warga mendatangi mobil patroli marinir. "Warga yang tiba-tiba menyerang lebih dulu," kata Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal Safzen Noerdin.
Safzen menduga warga menyerbu karena ada yang memprovokasi. "Saya menduga kejadian ini tidak tiba-tiba," kata Safzen.
Setelah Komandan Patroli Marinir Letnan Budi Santoso berhasil membujuk warga agar membubarkan diri, Safzen menjelaskan, tiba-tiba massa datang lagi dengan membawa senjata tajam.
Dari arah massa pula, katanya, muncul aba-aba agar warga menyerang. Warga segera merangsek. Mereka sempat berhenti ketika senapan seorang marinir menyalak. Sejenak kemudian, bentrokan pecah. Lemparan batu warga dibalas dengan rentetan tembakan. Lima prajurit marinir luka-luka dalam kejadian ini.
Safzen mengakui semua anak buahnya dibekali senjata lengkap dengan peluru tajam. Dari 13 anggota pasukan, 10 di antaranya memegang senjata laras panjang dan 2 orang memegang pistol. Di lokasi kejadian, Tempo sedikitnya menemukan 33 selongsong peluru yang berserakan.
Buntut insiden ini, Safzen langsung memecat Komandan Pusat Latihan Tempur Marinir Grati Mayor Husni Sukarwo. Sebagai pengganti, ditunjuk Mayor Ludi Prasetyo. "Pencopotan itu untuk memudahkan proses hukumnya," ujar Safzen. Pengusutan juga langsung digelar oleh Polisi Militer TNI AL terhadap 13 prajurit yang terlibat bentrokan langsung.
Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyesalkan dan prihatin atas insiden itu. "Saya menyampaikan permohonan maaf dan rasa duka mendalam kepada keluarga yang meninggal atau luka-luka," kata Djoko dalam jumpa pers yang didampingi Kepala Staf TNI AL Marsekal Slamet Sugiyanto di Istana Negara, Jakarta.
ABDI PURNOMO KUKUH S WIBOWO BIBIN BINTARIADI SUTARTO

___________________________________________________
Darah di Ladang Tebu
Senapan marinir menyalak di Desa Alas Tlogo, Grati, Pasuruan, kemarin. Pemicunya adalah perebutan lahan yang diklaim oleh Angkatan Laut tapi ditempati warga. Sebanyak 5 warga tewas, termasuk satu balita dan dua perempuan karena peluru menembus dinding rumah kayu mereka. Inilah kronologinya:

Sabtu, 26 Mei 2007
Sebuah perusahaan negara yang menyewa tanah sengketa dari Angkatan Laut mulai menggarap lahannya untuk dijadikan ladang tebu.

Kamis, 31 Mei 2007
Warga yang menempati lahan itu marah karena janji relokasi tak terwujud. Mereka menebangi pohon dan menghalangi jalan raya Pasuruan-Probolinggo.
Marinir bertemu warga.
Versi marinir: Selesai apel pagi, 13 marinir berpatroli dipimpin Letnan Budi Santoso. Mereka bersenjata 10 laras panjang dan dua pistol.
Versi warga:Marinir menjaga traktor perusahaan penyewa tanah dari Angkatan Laut yang membuka lahan pertanian di sana.

Situasi memanas.
Versi Marinir: Warga membawa celurit, batu, dan kayu. Salah satu celurit hampir menebas kepala Kopral Totok. Tentara melepas tembakan peringatan, dan ada yang menembakkan peluru ke tanah, memantul mengenai warga.
-- Versi Warga
Mereka berteriak dari kejauhan, memprotes pengolahan lahan itu karena relokasi yang dijanjikan belum disediakan. Protes tidak ditanggapi, mereka mendekat. Marinir tidak melakukan tembakan peringatan terlebih dulu, dan langsung memberondong mereka.

- Rumah Warga
Sebagian berdinding bambu dan papan
- Jalan makadam
500 meter
- Jalan desa beraspal
500 meter
Ladang tebu
pohon yang ditebangi warga
Lahan 2 hektare yang sudah digarap
Lahan 5 hektare yang hendak digarap

Mereka Meregang Nyawa
Choirul bin Sutrisno, 3 tahun Kena peluru saat digendong ibunya, Mistin, dalam rumah. Meninggal di rumah sakit.
Mistin, 25 tahunIbu Choirul ini tertembak dan langsung tewas saat menggendong anaknya di dalam rumah.
Dewi Khotijah, 35 tahun
Sutam, 40 tahun
Rohman, 41 tahunTewas dalam perjalanan ke rumah sakit.

Api Sengketa Tanah
1960
Angkatan Laut membeli tanah 3.569 hektare seharga Rp 77,6 juta untuk pusat pendidikan.
1963
Tanah selesai dibayar, tapi sebagian warga belum pindah. Karena belum ada dana, pembangunan terkatung.
1984
Angkatan Laut menjadikannya lahan perkebunan dengan mempekerjakan warga lokal.
1986
Angkatan Laut menyelesaikan proses sertifikasi lahan.
1998
Bupati Pasuruan mengusulkan agar warga yang menempati lahan direlokasi dengan luas 500 meter persegi tiap keluarga. Angkatan Laut pada dasarnya setuju, tapi menunggu dana Departemen Keuangan. Pertengahan tahun, warga mengajukan gugatan ke pengadilan meminta tanah dikembalikan ke mereka.
1999
Pengadilan menyatakan tanah milik Angkatan Laut karena ada sertifikat.
2001
Warga menebang 12 ribu pohon mangga siap panen, merusak pompa dan jaringan pengairan. Angkatan Laut memutuskan menjadikan wilayah itu sebagai pusat latihan tempur.

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Sutiyoso Merasa Dilecehkan

REPUBLIKA - Kamis, 31 Mei 2007

Pemerintah RI kirim surat protes ke Australia.

JAKARTA -- Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, merasa dilecehkan Pemerintah Australia. Sutiyoso meminta Pemerintah Australia melayangkan permohonan maaf.
''Saya marah karena diperlakukan tidak wajar,'' kata Sutiyoso di Jakarta, Rabu (30/5). Menurut Sutiyoso, kedatangannya ke Australia atas undangan resmi Gubernur Negara Bagian New South Wales (NSW), Morris Lemma. Usai mengunjungi Australian National Maritime Harbour, Selasa (29/5) sore, pada malam harinya Sutiyoso dijadwalkan bertemu pengusaha Indonesia. ''Karena ada jeda waktu dua jam, saya putuskan beristirahat di kamar Hotel Shangri-La. Pintu kamar dalam keadaan terkunci,'' kata dia. Ketika beristirahat itulah, sekitar pukul 16.30 waktu setempat, dia dikejutkan kehadiran dua polisi.
Mereka, kata Sutiyoso, masuk kamarnya menggunakan master key yang diminta ke pihak hotel. Saat itu, dua polisi Australia tersebut meminta Sutiyoso hadir di pengadilan setempat untuk dimintai keterangan soal kematian lima wartawan Australia di Balibo, Timtim, tahun 1975 atau yang dikenal Balibo Five.
''Saya katakan, kalau saya tidak ada kaitannya dengan perkara itu,'' ceritanya. Merasa dilecehkan, Sutiyoso kemudian meminta protokol NSW menyampaikan rasa tersinggungnya kepada Gubernur Negara Bagian NSW. Dia menduga, ada LSM Australia anti-Indonesia yang memberi informasi keliru mengenai kasus tersebut. Kendati marah, Sutiyoso merasa tidak dijebak. Namun, program sister city antara Jakarta dan Sydney akan dipikirkan kembali jika ada permintaan maaf Pemerintah Australia.
''Kalau mereka arogan, apa perlu kita lanjutkan hubungan dengan Australia. Sementara, saya selalu mengakomodasi, melindungi, serta menolerir permintaan maaf Kedubes Australia di Jakarta,'' jelasnya. Mengenai apa yang terjadi pada 1975, Sutiyoso menegaskan, saat itu dia berpangkat kapten dan menjabat sebagai wakil komandan tim. Selama periode itu, dia mengaku tak pernah bertugas di Balibo.
Menindaklanjuti pelecehan terhadap Sutiyoso itu, kemarin petang, Menlu Nur Hassan Wirajuda memanggil Dubes Australia untuk Indonesia, Bill Farmer. Menurut juru bicara Deplu, Kristiarto Legowo, Farmer memenuhi panggilan tersebut dan tiba di Deplu pukul 18.00 WIB. Dalam pertemuan yang berlangsung 45 menit itu, ungkap Kristiarto, Hassan menyampaikan protes Pemerintah RI kepada Pemerintah Australia. ''Indonesia menilai apa yang dilakukan polisi Negara Bagian New South Wales itu tidak patut. Ini tak bisa diterima,'' katanya.
Langkah yang dilakukan pengadilan negara bagian itu justru berpotensi mengganggu hubungan RI-Australia. Menurut Kristiarto, Farmer akan menyampaikan protes Pemerintah RI itu ke Australia. Juru bicara Presiden, Dino Patti Djalal, semalam menggelar jumpa pers di Binagraha, Jakarta, terkait insiden Sutiyoso tersebut. Menurut Dino, apa yang menimpa Gubernur DKI itu sebagai hal yang tak layak dan tidak dapat diterima sama sekali.
Bagi Indonesia, tegas Dino, masalah Balibo sudah ditutup. ''Sama sekali tidak ada dasar bagi polisi Australia meminta keterangan Sutiyoso ke proses hukum di NSW.'' Kemarin, Dubes RI di Canberra, Australia, Hamzah Thayeb, telah mengajukan protes keras ke Pemerintah Australia. Isi surat protes itu sangat menyayangkan perlakuan terhadap Gubernur DKI yang dikategorikan sebagai invasion of privacy. ind/osa/fer

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Nestapa ODHA di Tanah Suci

REPUBLIKA - Kamis, 31 Mei 2007

Akibat salah pergaulan, Adek (bukan nama sebenarnya) rela mengotori masa mudanya dengan kebiasaan tercela. Dia begitu akrab dengan narkoba. Waktunya banyak dihabiskan untuk aktivitas yang merusak dirinya. Di luar kesadarannya, kebiasaan tersebut kemudian membuat dirinya menjadi positif HIV/AIDS (orang dengan HIV/AIDS, ODHA). Pria berumur 26 tahun itu kemudian berniat ingin memperbaiki hidupnya.
Bersamaan dengan itu, datanglah seseorang yang menawarinya bekerja di Arab Saudi. Tawaran inipun diterimanya dengan senang hati. ''Tawaran bekerja di Madinah aku bayangkan pintu menuju pertobatanku, namun sesampainya di Madinah niat pertobatanku berubah menjadi penyiksaan lantaran aku mengidap HIV/AIDS,'' kata Adek asal Kampung Melayu, Kecamatan Tebet, Jaksel. Begitulah derita hidup yang harus dijalani Adek.
Bersama seorang warga negara Myanmar, pertengahan April 2007, Adek di diborgol kedua kaki dan tanganya oleh petugas imigrasi (jawazat) Kota Madinah. Keduanya terdeteksi HIV/AIDS oleh petugas kesehatan setempat saat mengurus izin tinggal (iqomah). Untuk mendapatkan izin tersebut, yang bersangkutan memang harus menjalani prosedur check-up. Dari pemeriksaan itulah dia kemudian diketahui positif mengidap virus HIV/AIDS.
Dengan pengamanan ketat dari petugas imigrasi, keduanya kemudian digelandang dengan kaki dirantai bak tahanan teroris untuk dibawa menuju lembaga pemasyarakatan ke Sarfiyah (salah satu wilayah di Madinah). ''Fisik dan psikisku drop. Aku digelandang dengan kaki dirantai menuju lembaga pemasyarakatan dengan pengawalan ketat,'' tutur dia mengisahkan.
Di ruang tahanan yang penuh sesak bercampur ratusan tahanan yang mengidap berbagai jenis penyakit, kondisi Adek menjadi semakin memburuk. Tas miliknya yang berisi obat-obatan dan berbagai perbekalan telah disita oleh pertugas imigrasi. ''Saya telat obat selama tiga hari, hidungku berdarah-darah dan diareku terus berlangsung karena kekebalanku dari hari ke hari melemah,'' kata Adek melanjutkan ceritanya di RS Kramat saat mengikuti seminar sehari Penatalaksanaan HIV/AIDS belum lama ini.
Menurut pandangan dia, nasib buruk yang dialaminya itu tak lepas dari kinerja Konsulat Jenderal RI di Madinah. Dia memandang, lembaga tersebut tak pernah memberi perlindungan dan memperjuangkan dirinya supaya bisa secepatnya pulang ke Indonesia. Semestinya, kata Adek, dia bisa segera dideportasi karena kasus yang menimpanya itu bukanlah kasus kriminal.
Dalam kondisi lemah, dia meminjam handphone milik tahanan lain yang satu ruangan dengannya. Adek kemudian menghububgi keluarganya di Jakarta meminta bantuan sejumlah politisi dan pejabat berpengaruh agar dia bisa cepat kembali. Pada akhir April 2007, Adek akhirnya bisa pulang ke Tanah Air dalam keadaan kritis. ''Dengan bantuan sejumlah dokter dan pejabat di Jakarta aku bisa pulang dengan kondisi kritis, karena aku sudah telat obat lebih dari tiga hari,'' ujar dia.
Menurut Zubairi Djoerban (ketua Masyarakat Peduli Aids Indonesia/MPAI) memang pengidap HIV/AIDS tidak boleh telat obat hingga tiga hari. Kalau sampai telat, virus yang datang lagi akan lebih kuat dan sangat mematikan. ''Karena itu kami menekankan agar orang dengan HIV/AIDS selalu berhati-hati dan ingat dengan waktu meminum obat,'' ungkap dia.
Untunglah, Adek kemudian berhasil melewati kondisi kritis tersebut. Dia akhirnya bisa menjalani kehidupan sebagai mana mestinya. Dalam forum tersebut, dia juga mengisahkan asal-muasal HIV/AIDS yang dideritanya. ''Dua sepupuku dan aku tertular HIV/AIDS karena lingkungan dan keluargaku pecandu narkoba. Dua sepupuku sudah meninggal, kini tinggal aku dan istriku,'' ungkap Adek .
Kedua saudara sepupunya itu memang baru diketahui setelah HIV/AIDS yang diidapnya sudah berada pada stadium akut. Kepastian ini diperoleh setelah kedua saudara sepupu Adek ini menjalani injection drugs use IDU paada 1999. Sedangkan Adek baru diketahui positif HIV/AIDS di tahun 2003.
Akibat serangan virus ganas itu, kekebalan kedua sepupunya itu terus menurun, Iwan (26) bukan nama sebenarnya, kakak sepupunya, meninggal pada 2000 saat menjalani rawat inap di RS Dharmais Jakarta Barat. Sedangkan Budi (22) juga bukan nama sebenarnya, adik sepupunya, meninggal di Sumatra Utara saat melakukan perjalanan dengan sebuah kapal pada 2001. Waktu itu, dia tiga hari telat minum obat dan kemudian kritis sampai akhirnya meninggal.
Ibarat api sudah telanjur berkobar, siapa pun yang mendekat akan terbakar. Kenyataan pahit dan penyesalan harus diterima Adek. Istri yang amat dicintainya, dan telah memberi seorang anak laki-laki juga positif HIV/AIDS. Kemungkinan besar, istrinya tertular dari Adek sendiri melalui hubungan suami istri. ''Itulah yang aku tak menyadari. Aku masih normal. Virus yang menyerangku tidak mengganggu kebutuhan biologisku, itulah kebesaran Allah,'' kata dia.
Yang mencengangkan, ungkap Adek, saat dia dipastikan terinfeksi HIV/AIDS istrinya telah mengandung tiga bulan. Waktu itu, kemungkinan besar istrinya juga sudah positif HIV/AIDS. Namun, ternyata Allah menakdirkan lain. Biasanya, wanita hamil yang terinfeksi HIV/AIDS sangat berisiko menularkan penyakit itu kepada janinnya. ''Alhamdulillah, anakku negatif, dialah yang membangkitkan hidupku, yang membuat hari-hariku bahagia,'' ungkap dia sambil menggendong dan menciumi buah hatinya yang baru berumur 3 tahun itu. uki

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

OP Minyak Goreng Gagal Tekan Harga

REPUBLIKA - Kamis, 31 Mei 2007

JAKARTA -- Operasi pasar (OP) minyak goreng yang dilakukan sejumlah daerah tak berhasil menekan harga. Harganya di pasar tetap melambung di atas Rp 8.000 per kg. Tak sesuai target pemerintah, untuk menurunkan harga minyak goreng hingga Rp 6.500 per kg pada akhir Mei ini.
Di beberapa pasar di Bandung, harga minyak curah kelas dua mencapai Rp 8.500 per kg. Kenyataan ini membuat pedagang apatis terhadap tekad pemerintah menurunkan harga minyak goreng. ''OP sia-sia. Harga tetap tinggi dan sulit diprediksi,'' kata Robin (27 tahun), distributor minyak curah di Bandung, Rabu (30/5).
Menurut dia, dampak pelaksanaan OP hanya terasa dua hari. Namun, setelahnya, harga minyak merangkak naik Rp 200 setiap harinya. Per Rabu (30/5), harga minyak goreng di tingkat distributor Rp 7.900-Rp 8.000 per kg. Padahal, sehari sebelumnya cuma Rp 7.850 per kg.
Asep, pedagang ayam goreng di Jl Martadinata, Bandung, tak menyangka kenaikan harga minyak goreng berlangsung lebih dari tiga bulan. Dia mengeluh, akibat tak pernah turunnya harga minyak goreng pendapatannya berkurang hingga 50 persen. ''Biasanya, saya untung Rp 5.000 per ekor, tapi sekarang hanya setengahnya.''
Di Malang, Jatim, meski OP telah dilakukan hampir dua pekan, harga minyak goreng tak beranjak turun. Harga di pasaran berkisar Rp 8.000-Rp 8.200 per kg. ''Selama harga minyak goreng tetap di atas Rp 7.000 per kg, kami terus melakukan OP,'' kata Kepala Diskoperindag Kab Malang, Syakur Kullu.
Hal yang sama juga terjadi di Surabaya. Hingga akhir Mei ini, harga minyak goreng berfluktuasi di kisaran Rp 7.800-Rp 7.900 per kg. ''Kalau OP untuk pedagang besar saja, harga di tingkat pengecer tetap tinggi,'' kata Hariadi, pedagang Pasar DTC Wonokromo Surabaya.
Keinginan warga Semarang, Jateng, untuk mendapatkan minyak goreng di harga Rp 6.500 per kg cuma impian. ''Pekan lalu memang sempat turun, tapi kini malah naik menjadi Rp 9.000 per kg,'' kata Harmini (37 tahun), ibu rumah tangga di kawasan Pucang Gading, Kab Demak.
Padahal, kata Kasubdin Perdagangan Dalam Negeri, Disdag Prov Jateng, Edison Ambarura, OP telah digelar di 15 kota. Koordinasi dengan pengusaha CPO dan prosesing minyak goreng pun telah dilakukan. Suhono (46 tahun), pedagang di Pasar Wage, Purwokerto, mengaku harga minyak goreng sulit turun meski OP digelar. ''Lambat tapi pasti, harga terus naik,'' katanya.
Sudah lebih dari sebulan, harga migor di Denpasar, Bali, bertahan di kisaran Rp 8.500-Rp 9.250 per kg. ''Katanya harga akan turun, tapi kenyataannya masih tetap tinggi,'' kata Ngurah Wijaya, pengecer migor di Kota Denpasar. n ren/rig/win/aji/edo/juw/owo/wab/aas/oed/mur/ina

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

Warga Pasuruan dan TNI AL Bentrok, Empat Tewas

REPUBLIKA - Kamis, 31 Mei 2007

PASURUAN -- Warga Desa Alas Tlogo, Kec Lekok, Pasuruan, Jatim, terlibat bentrok dengan aparat TNI AL. Dalam insiden yang terjadi di lahan terbuka itu, empat warga desa tewas tertembak di kepala. Tujuh korban lain luka tembak dan harus dirawat serius di RSU Sudarsono, Pasuruan, dan RS Syaiful Anwar, Malang.
Empat korban tewas adalah Khotijah (20 tahun), Mistin (27 tahun), Rahman (23 tahun), dan Sulton (45 tahun). Di antara korban luka tembak adalah Khoirul (4 tahun) yang dadanya tertembus peluru. Bentrok bermula ketika sejumlah warga berusaha menghalangi buldozer yang diduga hendak meratakan tanaman jagung milik warga. Aksi menggarap lahan itu ditolak warga karena status tanah itu masih bermasalah. Warga Alas Tlogo dan TNI AL tersangkut sengketa tanah seluas 3.569 hektare. Kedua pihak menganggap tanah tersebut milik sah masing-masing. Petugas pun dilempari batu oleh warga.
Sementara, Kadispen Koarmatim, Tony Syaiful, menjelaskan, insiden berawal ketika tiga karyawan lepas Inkopal Grati menggarap lahan seluas 3.569 hektare itu menggunakan tiga traktor. Lokasi tanah yang digarap memang berdekatan dengan Desa Alas Tlogo.
''Rupanya, saat menggarap lahan itu, warga menolak. Dan, karyawan Inkopal dilempari batu,'' katanya. Karena lahan itu masuk wilayah pusat latihan tempur (Puslatpur) Marinir, ada 12 petugas TNI AL melakukan perlindungan. Menurut Tony, aparat TNI AL itu telah memberi tembakan peringatan. Namun, bukannya berhenti, warga bertambah kalap. ''Dua kali penembakan mereka makin brutal, kita tidak inginkan insiden itu terjadi.''
Menurut pengaduan warga yang disampaikan ke Wakil Bupati Pasuruan, Muzammil, aparat TNI AL tidak hanya menembak warga yang terlibat bentrok di lokasi sengketa, tapi juga warga yang ada di rumah. ''Saya tidak tahu persis, tapi begitulah yang dilaporkan warga. Ada yang bilang, warga di dalam rumah sedang gendong anak juga ditembak,'' katanya.
Menurut Muzammil, warga mengajukan tiga tuntutan atas insiden itu. Pertama, tindak tegas pelaku penembakan. Kedua, PT Rajawali selaku kontraktor tanah sengketa harus meninggalkan Pasuruan. Dan ketiga, tanah warga harus dikembalikan. ''Kita hanya menyetujui tuntutan warga. Namun, sengketanya sendiri bukan kewenangan bupati.''
Bupati Pasuruan, Jusbakir Aldjufri, menyatakan, sengketa tanah itu sebenarnya sudah masuk tahap penyelesaian secara damai. Warga yang masih di dalam lokasi kawasan Puslatpur Marinir akan direlokasi. Masing-masing keluarga berhak mendapat 500 meter persegi. ''Belum sempat selesai, sudah terjadi insiden lagi,'' katanya.
Panglima TNI, Marsekal Djoko Suyanto, meminta bentrok itu diusut tuntas. ''Saya minta maaf kepada warga dan menyesalkan bentrokan itu terjadi,'' katanya. tok/aji/ant

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

DPR Upayakan Hak Interpelasi Soal Lumpur Lapindo

REPUBLIKA - Kamis, 31 Mei 2007 8:46:00

JAKARTA - Kaukus Anggota DPR Daerah Pemilihan (Dapil) I Jawa Timur mengupayakan hak interpelasi DPR untuk penangangan semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo. Pemerintah dinilai tidak optimal dalam menangani luapan lumpur itu selama satu tahun ini.
''Kami tengah kumpulkan tanda tangan untuk interpelasi Lapindo. Untuk waktu yang tidak lama, ini bisa diproses. Kita menilai, belum ada tindakan yang sungguh-sungguh dari pemerintah dalam menangani lumpur tersebut dalam setahun ini,'' kata Joko Susilo dari anggota Komisi I DPR Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), di Jakarta, Rabu (30/5).
Dia mengharapkan, dalam pekan depan, penggalangan pendapat untuk interpelasi ini bisa diserahkan hasilnya ke DPR. Sampai kemarin, suara untuk interpelasi Lapindo sudah mencapai 16 orang. Padahal, batas minimal diajukannya interpelasi itu adalah 13 suara. Dari pengumpulan suara itu, sampai saat ini belum ada sumbangan tanda tangan dari Partai Demokrat. ''Dengan disampaikannya pekan depan, diharapkan, penjelasan pemerintah soal lumpur ini tak ditunda-tunda lagi. Malah, kalau bisa, dalam masa sidang ini, kita sudah mendapatkan jawabannya dari pemerintah,'' tegasnya.
Aryo Widjanarko dari Komisi XI Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB), menyatakan, pemerintah belum melakukan langkah optimal untuk menangani masalah yang menyengsarakan warga Sidoardjo tersebut. Bahkan, lanjut dia, informasi yang diterima dari Bapennas, sampai saat ini belum ada kejelasan sikap pemerintah dalam alokasi anggaran guna memperbaiki infrastruktur disana. Tak hanya itu, status hukumnya pun belum jelas. ''Seharusnya, pihak yang paling bertangggung jawab dalam perkara ini, segera ditindak.''
Aryo membandingkan, Jawa Timur telah menyumbangkan pendapatannya kepada negara sebesar Rp 48 Triliun. Untuk itu, seharusnya, pemerintah mengeluarkan dana yang setimpal untuk penanggulangan lumpur yang sudah semakin meluas dampaknya itu.
Timbulkan konflikDampak lumpur ini juga sangat dikhawatirkan oleh Wakil Ketua Komisi III Soeripto dari FPKS. Menurutnya, semburan lumpur ini bisa berpotensi konflik bila penanganannya tak segera dituntaskan. ''Akibat kejadian ini sudah mulai muncul people's power, dan itu adalah murni dari warga yang tidak disponsori oleh pihak tertentu. Ini semua harus segera dicermati dan jangan dianggap sepele. Ini bisa menimbulkan konflik horizontal dan vertikal.''
Anggota Komisi VI DPR dari Frkasi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, menyatakan fraksinya akan mendukung usul pengajuan hak interpelasi tersebut. Bahkan menurut Hasto, PDIP telah membentuk tim untuk melakukan investigasi langsung ke lapangan. ''Kami telah mengumpulkan bukti-bukti dan akan membantu melakukan advokasi kepada masyarakat Sidoardjo.'' n wed

Ikhtisar:
--- Pemerintah dianggap belum optimal tangani penderitaan para korban lumpur Lapindo.
--- Soal penanganan lumpur lapindo jangan dianggap sepele.

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...

4 Warga Tewas Ditembak Marinir; Panglima TNI Minta Maaf

KOMPAS - Kamis, 31 Mei 2007

PASURUAN,KOMPAS - Empat warga Desa Alas Tlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur tewas dan delapan orang luka-luka setelah ditembak oknum Marinir TNI AL, Rabu (30/5). Peristiwa ini dipicu sengketa tanah seluas 539 hektar.
Keempat korban tewas tersebut adalah Mistin (25), Sutam (40), dan Khotijah (25), Rohman (21). Para korban dibawa ke Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang setelah dari RSUD Soedarsono Pasuruan. Warga Alas Tlogo merupakan salah satu pihak yang memperebutkan tanah seluas 539 hektar di 11 desa di dua kecamatan, Kecamatan Lekok dan Grati yang juga diklaim PT Rajawali Nusantara.
“Keempat korban meninggal semuanya dibawa ke RSSA Malang, namun masih ada korban luka lainnya yang dibawa ke Puskesmas Grati dan RS Soedarsono, Pasuruan," kata Solichin, tokoh Desa Alas Tlogo, kakak kandung korban Rahman.
Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal Safzen Noerdin di Surabaya menyesalkan insiden tersebut. Dikatakan, pihaknya akan menanggung biaya pengobatan korban dan pemakaman korban yang meninggal. “Saya atas nama pimpinan TNI AL dan Korps Marinir meminta maaf kepada keluarga yang terkena musibah," katanya.
Berdasarkan informasi dari sejumlah warga Alas Tlogo dan Polres Pasuruan, peristiwa itu terjadi pukul 09.30. Mulanya sebuah traktor yang dikawal sepuluh oknum TNI menggarap lahan yang sudah ditanami ketela pohon oleh warga dan hendak diganti menjadi tebu. Para tentara membawa senjata laras panjang dan pistol.
Kemudian sekitar 50 warga Alas Tlogo mendatangi lokasi tanah yang mau dirombak itu. Menurut Kepala Desa Alas Tlogo Imam Sugnadi, warga hanya mau mengingatkan agar tanah yang sudah ditanami ketela pohon itu tidak dirombak atau digarap dulu karena proses hukum terhadap tanah belum selesai.
Letter C
Imam menjelaskan sejak tahun 1998, tanah seluas 539 hektar yang sudah digarap warga selama puluhan tahun diklaim dimiliki PT Rajawali Nusantara. Gugatan hukum dilayangkan warga tahun 1999 dan pada tahun itu pula PN Pasuruan memenangkan PT Rajawali Nusantara.
Perusahaan itu memiliki bukti sertifikat hak pakai. Warga memiliki bukti kepemilikan tanah Petok D dan Letter C. Warga mengajukan banding, tetapi belum ada putusan dari Pengadilan Tinggi Jawa Timur.
Melihat banyak warga mendatangi lokasi penggarapan lahan, oknum tentara itu gelisah, apalagi setelah puluhan warga meneriaki tentara. Tembakan peringatan sebanyak dua kali pun dikeluarkan, setelah itu tembakan diarahkan ke arah warga. Warga berlarian, sebagian terkena tembak dan terjatuh.
Kemudian para oknum tentara itu gelap mata. Mereka menembaki rumah warga. Beberapa ibu-ibu yang sedang memasak dan memotong ketela pohon di luar rumah ikut ditembaki. Seorang ibu bernama Mistin (25) yang sedang menggendong anaknya Khoirul (4) ikut tertembak dan langsung meninggal, sedangkan anaknya yang juga terkena tembakan di dada kanan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Sjaiful Anwar di Malang.
Selain Mistin, yang meninggal karena tembakan, Utam (40) dan Khotijah (25). Adapun yang terluka tembak sebanyak delapan orang, tiga di antaranya dirujuk ke RSSA karena lukanya parah yakni Khoirul (4), Rohman (23), dan Erwanto (18). Lima lainnya luka ringan, Tosan (30), Nasum (34), Rohman (29), Kampung Misdi (40), dan Satikun (47).
Melihat teman dan saudaranya ditembak, warga kemudian marah dan bergerak ke jalan utama penghubung Probolinggo-Pasuruan di Kecamatan Lekok yang berjarak dua kilometer dari desa mereka. Beberapa pohon yang ada di pinggir jalan kemudian ditebang warga. Ratusan warga kemudian menduduki jalan dan melarang kendaraan lewat.
Sebanyak empat wartawan yang hendak meliput pemblokadean jalan sempat dipukuli dan dilempari batu oleh warga. Menurut Anas Muslimin, salah seorang wartawan, keempat wartawan itu adalah kontributor Trans TV Irsa Priyongko, kontributor Metro TV Krisna, wartawan Radar Bromo Zaenal Arif, dan kontributor SCTV Jandi Ari. Irsa dipukul punggungnya dengan kayu sedangkan Krisna kakinya keseleo setelah terjatuh menghindari kejaran warga.
Bupati Pasuruan Jusbakir yang datang ke Desa Alas Tlogo bersama Pangdam V Brawijaya Mayjen Syamsul Mapareppa membantah telah menyuruh oknum tentara mengusir warga. Ia membantah mendapatkan laporan pada Selasa (29/5) dari kepala desa. Baik Jusbakir dan Syamsul berjanji menuntaskan dan pelakunya akan dihukum.
Safzen menegaskan, akibat peristiwa tersebut Komandan Pusat Latihan Tempur Grati hari Kamis (31/5) ini diganti dari Mayor (Mar) Husni Sukarwo kepada Mayor (Mar) Ludi Prasetyo. Semua personelnya, sekitar 140 orang, diperintahkan tetap berada dalam kesatriaan agar tidak menyulut konflik baru. Ke-13 personel yang berpatroli Rabu dan terlibat insiden dengan warga juga diperiksa.
Menurut Safzen, kejadian berawal saat 13 personel yang dipimpin Letnan (Mar) Budi Santoso berpatroli selepas apel pagi, sekitar pukul 08.00. Anggota tersebut membawa 10 senjata laras panjang dan dua senjata laras pendek, sedangkan pemimpin regu tidak membawa senjata. Sekitar pukul 09.30, regu patroli melintas Desa Alas Tlogo yang terdapat kerumunan warga seperti hendak berunjuk rasa. Letnan Budi meminta warga mengurungkan niat unjuk rasa.
Namun, sekitar 10 menit kemudian muncul massa dengan membawa celurit, kayu, dan batu. Massa tampak beringas, berteriak-teriak, dan menyerang. Sebanyak lima anggota patroli pun terluka. Menghadapi situasi tidak terkontrol itu, anggota Marinir menembakkan senjata ke atas sebagai peringatan. "Tapi, ada yang meminta warga untuk tidak takut. Jangan takut, itu peluru hampa, peluru bohongan,serang terus," kata Safzen menirukan teriakan warga.
Untuk menunjukkan peluru yang digunakan adalah peluru tajam, senjata ditembakkan ke tanah. "Mungkin ada peluru recoset yang kena batu dan memantul terkena warga. Setelah ada warga yang terkena, warga mundur dan anggota segera melapor ke markas. Marinir jelas dalam posisi membela diri," tutur Safzen yang didampingi Komandan Pasukan Marinir I Brigadir Jenderal Mar Arief Suherman dan Komandan Komando Latihan Marinir Kolonel Dedi Suhendar.
Akibat insiden itu, lima personel Marinir yang berpatroli terluka. Mereka adalah Kopral Dua Warsim, Kopral Dua Helmi, Sersan Dua Abdurahman, Prajurit Satu Suyatno, dan Prajurit Kepala Sariman.
Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto menyesalkan insiden bentrok antara masyarakat Grati, Pasuruan, Jawa Timur, dengan prajurit TNI Angkatan Laut, yang berujung pada penembakan sehingga jatuh korban tewas dan luka-luka di pihak warga.
Hal itu disampaikan Djoko kepada Kompas, Rabu (30/5). Menurut Djoko, ia menyampaikan duka cita mendalam bagi para keluarga korban tewas dalam kejadian itu dan berjanji akan menuntaskan insiden tersebut melalui jalur hukum tanpa berupaya menutup-nutupi prajuritnya yang bersalah.
"Siang tadi (kemarin) saya sudah perintahkan KSAL untuk menuntaskan kasus itu sesuai proses hukum. Sekarang sudah mulai dilakukan penyelidikan-penyelidikan, saya rasa dari POM TNI AL, dari Korps Marinir, dan dari Polri sudah turun kesana," ujar Djoko.
Selain itu Djoko juga menyayangkan persoalan sengketa tanah kali ini berujung pada insiden yang memakan korban. Hal itu mengingat pihaknya, khususnya TNI AL, telah berupaya patuh terhadap putusan hukum yang berlaku dalam proses pengadilan sebelumnya terkait keberadaan lahan itu.
Anggota Komisi I asal Fraksi PAN daerah pemilihan Jawa Timur I Djoko Susilo, menyampaikan protes keras terhadap penembakan yang dilakukan oknum prajurit TNI Angkatan Laut di Grati, Pasuruan, yang mengakibatkan sejumlah warga tewas dan luka-luka.
Djoko Susilo juga mempertanyakan mengapa para oknum TNI AL itu dapat dengan mudah menembaki masyarakat padahal senjata dan peluru yang mereka gunakan dibeli dari uang rakyat.
Djoko menambahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus segera memerintahkan pengusutan terhadap insiden penembakan yang terjadi di wilayah itu. Pengusutan dilakukan untuk menghukum semua pihak yang terlibat dalam penembakan.
Protes keras juga dilontarkan anggota Komisi I asal F-PDI Perjuangan, Andreas Pareira. Dia mendesak penyelidikan terhadap motivasi serta latar belakang penembakan itu dan sekaligus mendesak institusi TNI tidak berupaya melindungi para oknum prajuritnya yang bersalah.(APA/INA/ODY/DWA)(APA/INA/ODY)

BaCa SeLeNgKaPnYa disini...