Thursday, July 12, 2007

Transportasi: Mempertaruhkan Keselamatan demi Setoran

KOMPAS - Kamis, 12 Juli 2007

Cornelius Helmy

"Ayo cepat berangkat. Jangan lama-lama, memangnya ini angkutan kota pakai sering berhenti segala."
"Kalau mau cepat, bawa saja mobilnya sendiri. Atau kalau tidak bisa, pindah saja ke mobil yang lain."
"Iya, tapi balikin duitnya."
Perang mulut itu terjadi antara sopir bus dan penumpangnya di tengah hiruk-pikuk pedagang asongan dan tangisan bayi di salah satu bus antarkota jurusan Jakarta-Cirebon, Selasa (10/7). Itu terjadi saat bus berhenti menunggu penumpang sembari melapor ke pengawas bus di sekitar Subang, Jawa Barat.
"Mau bagaimana lagi, saya lebih baik membiarkan mereka mencari bus lain bila memang maunya cepat. Kami harus memenuhi uang setoran kalau tidak mau rugi," kata Wandy (53), sopir bus itu.
Wandy yang asal Arjawinagun, Cirebon, ini mengatakan, beban uang setoran sangat terasa bila musim libur sekolah tiba. Uang setoran yang diminta pemilik bus naik dua kali lipat. Jika biasanya Rp 600.000- Rp 700.000, pada masa liburan ini mereka harus menyetor Rp 1 juta-Rp 1,2 juta per hari. Lebih berat lagi, di beberapa lokasi pemberhentian penumpang, pungutan liar masih terus terjadi. Ujung-ujungnya, ekonomi keluarga para sopir bus tak pernah membaik. Para pengusaha bus lebih cepat tahu dan tanggap jika terjadi lonjakan jumlah penumpang.
Bagi sopir seperti Wandy, dengan uang setoran sebesar itu dan banyaknya pungli di jalan, sulit baginya untuk mendapat penghasilan lebih. Pada saat usianya yang sudah tidak muda lagi, ia hanya bisa mengemudi satu bus di rute Jakarta-Cirebon sekali sehari. Ia khawatir keterbatasan fisik justru akan berakibat buruk di perjalanan.
"Kalau dulu, setelah istirahat saya bisa menarik satu perjalanan lagi. Tetapi, sekarang saya memilih istirahat. Baru besoknya saya pergi lagi," katanya.
Bagi lelaki yang sudah 25 tahun menjalani profesi itu, bukan uang yang utama. Dari enam anaknya, empat sudah berkeluarga dan memberikan empat cucu. Tinggal dua anak yang masih duduk di bangku sekolah.
"Saya tidak ngotot lagi untuk nyopir lebih dari satu kali dalam sehari. Yang terpenting saya bisa mendapat penghasilan cukup untuk sehari-hari saja," katanya.
Hal yang sama juga dikatakan Marwan, "sopir tembak" asal Jakarta. Menurut dia, sopir juga manusia yang butuh istirahat. Memang ada beberapa sopir yang pergi-pulang Cirebon-Jakarta dalam satu hari. Sebagian lagi memilih sekali perjalanan, lalu istirahat.
Kejar waktu
Akan tetapi, dengan keterbatasan fisik, banyak cara ditempuh awak bus untuk menyiasati hal tersebut. Salah satunya adalah menunggu penumpang lebih banyak dengan sering berhenti di tempat-tempat strategis. Namun, cara itu sering memancing emosi penumpang, seperti yang dialami Wandy. Busnya berangkat dari Terminal Pulo Gadung, Jakarta, sekitar pukul 10.00 dan baru tiba di Cirebon yang jaraknya sekitar 258 kilometer tersebut sekitar pukul 15.30.
Untuk mendapat banyak penumpang, salah seorang sopir bus di trayek Kuningan-Jakarta punya cara lain lagi. Sejak berangkat sekitar pukul 04.00 dari Cirebon, sopir memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi di dalam Kota Cirebon dan di jalan rusak di Kabupaten Cirebon. Itu dilakukan untuk mengejar para pekerja di sekitar Subang dan Indramayu yang akan berangkat ke tempat kerjanya pagi hari di daerah berbagai pabrik di Karawang.
Awak bus yakin akan mendapat penumpang lebih banyak di Subang dan Indramayu ketimbang berlama-lama menunggu di Cirebon.
Meski kenyamanan penumpang terganggu oleh gaya mengemudi sopir dan banyaknya penumpang yang bergelantungan, bus itu tiba di Jakarta sekitar pukul 08.00.
"Pasang setengah harga pun dilakukan. Asalkan penumpang lebih banyak daripada pasang harga penuh, tapi penumpang sedikit," kata Wandy.
Beban setoran yang mengimpit sopir dan perawatan kendaraan angkutan yang sering terabaikan oleh pengusaha pemiliknya menjadi benang kusut persoalan transportasi umum di negeri ini. Banyak bus yang alat pengukur kecepatannya sudah tak berfungsi. Yang ada hanya klakson, lampu sein, dan lampu besar.
Apalagi di banyak tempat kondisi infrastruktur jalan dan rambu tidak memadai serta terjadinya kongkalikong dalam uji petik kelaikan armada angkutan.
Akumulasi persoalan itulah yang menjadi pemicu seringnya terjadi kecelakaan di jalan. Untuk mengejar setoran, sopir terpaksa mempertaruhkan keselamatan. Mereka memuat penumpang sebanyak-banyaknya, lalu memacu kendaraan sekencang-kencangnya. Tak usah heran, maut bisa menyergap kapan saja, di mana saja....

0 comments: