Thursday, July 12, 2007

Laba asuransi umum kian tergerus

BISNIS - Kamis, 12/07/2007

JAKARTA: Laba perusahaan asuransi umum pada 2006 makin tergerus akibat menurunnya hasil underwriting yang di antaranya dipicu oleh maraknya perang tarif di industri itu serta membengkaknya klaim. Hanya 43 perusahaan, atau hampir separuh dari perusahaan asuransi kerugian, yang mencatatkan? hasil operasional positif selama 2006. Jumlah ini turun 10 perusahaan dibandingkan dengan pencapaian pada 2005. Penurunan hasil operasional itu dipicu oleh penurunan total hasil underwriting sebesar 1,14%. Hal itu terangkum dalam analisa umum data statistik perusahaan asuransi kerugian 2005 dan 2006 yang dikeluarkan oleh Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) berdasarkan laporan keuangan anggota. Pengurus AAUI Willy S. Dharma mengatakan penurunan hasil underwriting itu disebabkan oleh penurunan rate akibat perang tarif yang marak terjadi di industri asuransi. Di sisi lain, lanjutnya, biaya menutup klaim juga meningkat. Hasil underwriting merupakan pendapatan perusahaan yang dikurangi biaya dari proses dan kegiatan seleksi risiko, mulai dari penerimaan surat permintaan atau permohonan asuransi hingga penerbitan polis.Dia memberi contoh di asuransi kendaraan bermotor,? yang menjadi penyumbang premi cukup besar di industri asuransi, terkena imbas kenaikan biaya klaim. Tahun lalu, terjadi kenaikan suku cadang dan jasa bengkel. "Selain itu, kemungkinan terjadi klaim di asuransi kendaraan bermotor juga semakin tinggi dengan makin banyaknya kendaraan," ujar Willy, yang juga Presdir PT Asuransi Adira Dinamika, ketika dihubungi Bisnis kemarin. Pada 2006, terdapat kenaikan rasio klaim neto sebesar 22,26%, sedangkan klaim bruto tercatat hanya sebesar 0,55%. Klaim tinggi terjadi saat musibah gempa bumi di Yogyakarta dan Pangandaran. Di sisi lain, tahun lalu juga terjadi kenaikan jumlah beban usaha sebesar 8,49% dibandingkan dengan 2005.Willy mengakui semua hal itu berdampak pada perolehan laba perusahaan asuransi umum. Berdasarkan data AAUI, terjadi penurunan jumlah perusahaan asuransi umum yang mencetak laba. Pada 2005, sebanyak 78 perusahaan berhasil mencetak laba, sedangkan 2006 turun menjadi 72 perusahaan, walaupun secara industri, nominal laba mencatatkan pertumbuhan 7,7%.Perusahaan yang bisa mencetak laba, menurut dia, kebanyakan terbantu oleh naiknya hasil investasi, meski tak jarang yang membukukan hasil investasi jeblok, karena kesalahan penempatan investasi. Pertumbuhan investasi di industri asuransi hanya sebesar 14,93%, namun pertumbuhan hasil investasi mencapai 47,38%. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya 13 perusahaan asuransi umum yang memperoleh hasil investasi di atas 10% pada 2006 dibandingkan dengan 2005 yang hanya enam perusahaan asuransi umum. Jika tidak ada upaya perbaikan, baik dari regulator maupun pelaku industri, terhadap perang tarif sehingga rate premi semakin hancur, maka penurunan laba akan terulang tahun ini. Tambah retensi Dihubungi terpisah, Wakil Ketua AAUI Harry Kaporo mengatakan penurunan laba juga disebabkan oleh besarnya premi yang ditahan untuk menambah retensi sendiri.Dia menjelaskan pertumbuhan premi neto di industri asuransi sebesar 10,60% menunjukkan sebagian perusahaan memperbesar retensi sendiri, sehingga liabilitas juga meningkat. Tingginya liabilitas yang ditanggung, akan mengurangi premi neto. Harry mengakui perang tarif juga masih menjadi persoalan dalam? industri asuransi dan menyebabkan penurunan laba. "Tapi saya tidak tahu metode seperti apa yang tepat untuk mengatasi perang tarif tersebut." Ketua Umum AAUI Frans Y. Sahusilawane mendesak pemerintah segera campur tangan mengatasi masalah itu.
(hanna.prabandari@ bisnis.co.id)
Oleh Hanna Prabandari
Bisnis Indonesia

0 comments: